Wednesday, 13 April 2016

[Cerpen] Sepahit Espresso



Deru mesin penggiling kopi bergema. Pria itu sibuk menyiapkan cangkir kopi untuk pesanan baru. Penampilannya khas seorang barista. Rambut klimis, mengenakan kemeja lengan panjang dengan kancing di kerahnya ditautkan. Ditambah celemek sebatas pinggang berwarna putih tulang.

Ketika cairan kopi hitam pekat itu sudah terisi satu pertiganya, pria itu langsung mematikan saluran air dan menarik cangkir. Dia mengambil gelas besar berbahan stainless dan mengisinya dengan krim susu. Gelas itu lalu ditaruh di saluran pemanas. Butuh waktu beberapa detik hingga krim susunya benar-benar panas. Tangan kirinya mengambil cangkir berisi kopi hitam pekat. Sebelum menuangkan krim susu, pria itu menoleh pada pelanggan yang memesan.


Dia mendesah cukup panjang.

"Jal, keburu dingin tuh susunya." Ujar salah satu teman baristanya.

Pria itu tersadar. Tangannya dengan telaten mulai menuangkan krim susu. Dia merasakan tangannya bergerak sendiri. Membentuk sebuah latte art tanpa disadari.

"Shit." Dia mendengus, tepat ketika tetes krim susu terakhirnya habis. Matanya lagi-lagi dilemparkan pada pelanggannya, lalu dialihkan pada cangkir kopi di tangannya. Latte art berbentuk hati.

"Udah selesai?" tanya seorang temannya--sebagai waiters.

"Done. Nih." Pria itu memberikan cangkir dengan tangan gemetar.

"Dia minta kopi ini dikasih sama lo langsung."

Pria itu melebarkan pupilnya. Cangkir yang masih ada di tangannya nyaris saja terjatuh. "Harus gue? Pelanggan mulai banyak, gue nggak ada waktu untuk ke sana."

"Lo cuma ke sana, naruh cangkir, terus balik, kan? Gak akan spending too much time kok."

Pria itu lagi-lagi menggerutu, sebelum akhirnya melewati pintu bar dan berjalan enggan ke meja pelanggannya.

Perjalanannya baru setengah. Dari arah pintu masuk, seorang pria dengan tubuh atletis, berjalan riang ke arah pelanggan tujuannya. Pelanggan itu bangkit dan menyambut dengan hangat--memberikan pelukan cukup erat.

Pria barista menghentikan langkahnya sejenak. Dia mulai berbalik ke belakang untuk kembali. Nyatanya, kedatangan pria baru itu membuat benteng keberaniannya runtuh sia-sia. Pria itu membuat tekad kokohnya remuk redam.

Semuanya sudah berakhir.

"Mas, itu kopi untuk saya ya?" suara pelanggannya mengisi ruangan. Membuat niat untuk kembali ke meja bar pupus. Suara itu tidak pernah berubah. Masih tinggi, dan tetap lembut--sedikit serak.

***

"Silakan." Pria barista menaruh cangkir kopi dengan hati-hati. Dia langsung berbalik untuk kembali ke tempatnya. Berada di hadapan gadis itu benar-benar melumpuhkan seluruh organ tubuhnya. Dia bahkan merasakan dadanya sesak.

"Mas, boleh bicara sebentar?" pertanyaan gadis itu menghentikan langkah pria barista.

"Maaf, saya sibuk."

"Jal."

Suara gadis itu bergema di gendang telinganya. Rijal terdiam.

Waktu berhenti.

Suasana membeku.

Tidak butuh waktu lama, ingatan Rijal--si pria barista--langsung terlempar pada 5 tahun lalu. Kemudian melompat lagi pada 16 tahun lalu. Kenangan-kenangan itu berkelebat cepat, membuat kepalanya sakit.

"Lo bisa denger dia kan?" Kini, giliran pria atletis yang membuka mulut.

Rijal mengepalkan kedua tangannya. Buku-buku jarinya mengeras. Napasnya mulai tidak teratur, tersengal-sengal. Pria itu menjadi alasannya untuk pergi. Pria itu dengan sengaja menghancurkan kehidupannya.

"Ini tempat gue kerja. Bukan tempat gue mengobrol dengan pelanggan." Sebelum kembali melangahkan kaki ke tempatnya, Rijal sempat membalik untuk menatap pria atletis dengan sorot tajam.

***

"Pah, kok bikin kopi banyak-banyak? Untuk siapa?" Rijal kecil bertanya pada Papa yang sibuk dengan coffee machine-nya.

"Kita kedatangan teman lama Papa. Mereka pecinta kopi banget, sama kayak papamu ini." Mama memberi penjelasan.

Papa tersenyum. "Teman Papa itu punya anak perempuan, cantik. Umurnya dua tahun di bawahmu. Nanti Papa kenalin ya biar dia ada teman. Dia itu anaknya pendiam. Beda sama kamu yang gak bisa diam."

Rijal hanya mengangguk, sambil mengendus aroma kopi yang sudah menguar di pantry rumahnya.

Anak perempuan yang Papa ceritakan benar cantik. Rambutnya yang kemerahan diikat kuda. Matanya bulat dengan lensa hitam bening alami. Untuk ukuran anak 7 tahun, badannya terbilang tinggi dan berisi. Pipinya tembem menggemaskan.

"Wah, Kintan sudah sebesar ini, ya." Ujar Mama sambil mengelus poni Kintan.

Anak perempuan itu tersenyum malu-malu. Lalu duduk di sebelah ibunya.

"Nah, sekarang Kintan nggak akan kesepian lagi. Tahun ini, kamu akan sekolah bareng sama anak Om. Namanya Rijal. Nanti Rijal bakal jadi kakak kelas kamu di sekolah. Nanti Om suruh dia untuk jagain kamu, ya?"

Kintan menatap Rijal polos, lalu senyumnya tersungging.

"Kayaknya anak kita bisa dijodohin nih kalau sudah besar." Ujar Papa Kintan dengan senyum sumringah.

***

Rijal tidak pernah menyadari bahwa makna tatapan 16 tahun lalu berdampak panjang. Kisah mereka sudah terjalin sejak saat itu, sejak Kintan akhirnya menginjak kelas 1 SD dan dia di kelas 3 SD. Rijal dan Kintan terbiasa saling bersama, menjaga, melindungi, dan berbagi.

Kintan enggan membuka hati bagi laki-laki lain. Baginya, kehadiran Rijal sudah lebih dari cukup untuk menemani hidupnya.

Rijal sendiri, entah bagaimana, sudah jatuh hati saat pertama melihat senyum Kintan pada pertemuan di ruang tamu. Sejak pertemuan itu, dia memiliki keinginan besar untuk bisa selalu ada di samping Kintan. Baginya, Kintan sudah lebih dari cukup untuk dilindungi dan dibahagiakan.

"Jal," Papa berjalan lesu menghampiri Rijal di meja pantry.

Laki-laki itu sedang duduk sambil memandangi cangkir Espresso-nya. Hambar.

Sebelum ini, hidupnya baik-baik saja. Sebelum ini, dia adalah laki-laki yang sangat bahagia. Sebelum ini, semua rencana hidupnya berjalan sangat lancar. Sampai hari itu tiba. Saat kedua orang tuanya kecelakaan. Mama meninggal di tempat, meninggalkan bekas luka pahit yang tersendat di hati dan pikirannya.

"Jal, Papa tahu ini nggak mudah buat kita." Papa mengempaskan tubuhnya di kursi pantry minimalis, lalu menahan kepala dengan sikutnya. "Tapi bukan berarti kita harus berduka setiap hari."

"Aku baru tahu, Pah. Pahitnya Espresso nggak seberapa ketimbang pahitnya ditinggal Mama."

Papa diam mematung. Bukannya dia tidak kehilangan istrinya. Namun, meratapi kepergian istrinya terlalu lama akan membuat hidup mereka terpuruk. Dan kalau bukan dia, siapa lagi yang bisa menguatkan Rijal?

"Espresso pahit karena racikan manusia. Sementara kepergian Mama, itu racikan Sang Pencipta. Nyatanya, sehebat apa pun tangan manusia, itu nggak ada apa-apanya ketimbang tangan Tuhan, Jal."

Rijal tidak merespon. Dia mengangkat cangkir porselen dan menyesap isinya. Pahit.

Ada yang membekas di kerongkongannya.

"Hubungan kamu sama Kintan, gimana?"

"Baik-baik, Pah."

Papa hendak kembali membuka mulut, namun diurungkan. Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Gegas dia bangkit, mengangkatnya, lalu menjauh dari Rijal.


***

Aroma kopi mengusik indera penciuman Rijal dengan Kintan. Masing-masing memegang cangkir porselen polos, sambil menyandarkan perut pada pagar balkon rumah Kintan. Mereka berdiri bersebelahan dengan jarak cukup dekat. Langit sudah gelap. Lampu berpendar di jalanan. Beberapa kendaraan masih melintas di depan rumah Kintan, membuat sedikit suara di tengah keheningan mereka.

"Jal." Suara Kintan memecah keheningan.

"Ya?" Rijal menoleh. Tatapannya meneduhkan.

Kintan menghela napas. "Sebenarnya, hubungan kita itu gimana?"

"Maksud kamu?"

Kintan berjalan semakin mendekati Rijal. Dia menjatuhkan kepalanya tepat di bahu pria itu. "Kita udah terbiasa sama-sama dari kecil. Tapi bahkan sampai sekarang, kita nggak tahu status kita gimana."

Kini giliran Rijal yang menghela napas cukup panjang. "Status itu nggak penting, Ntan. Toh sejauh ini kita berdua saling sayang, kita berdua sama-sama nyaman, dan nggak mau saling kehilangan, kan?"

Kintan mengangkat kepalanya. Dia tidak berani menatap mata Rijal yang mengilap tertimpa lampu balkon. Alih-alih menjawab, dia menyesap isi cangkir porselennya. Cappucino selalu berhasil membuat mood-nya sedikit membaik.

"Tapi aku jadi ragu. Kita ini pacaran, atau..., saudaraan."

Rijal tidak meminum Espresso-nya. Namun, pahit kopi itu kini menyerang kerongkongannya. Membekas, membentuk sebuah kenangan.

***

Bertahun-tahun dia mencoba mengubur kenangan buruk itu. Bertahun-tahun dia menghindari Kintan, Papa, juga calon Ibu tirinya. Nyatanya, semua adegan dan perkataan Kintan sejak malam itu membuat hatinya hancur. Mungkin dia yang terlalu berharap. Mungkin dia yang terlalu ingin. Atau mungkin memang salahnya yang tidak memberikan kejelasan hubungan dengan Kintan.

"Mama sangat terpukul setelah Papa pergi meninggalkan kami." Suara Kintan menyadarkan Rijal dari kenangan.

Pria itu menengadah, menatap gadis manis di hadapannya. Bola matanya masih sama meneduhkan. Juga, harapannya pada gadis itu masih sama. Dia berharap Kintan tidak akan pernah menjadi adiknya. Konyol, memang. Selama 5 tahun meninggalkan Indonesia, Rijal sama sekali tutup mata dan telinga tentang kabar keluarganya. Mungkin saja, gadis di hadapannya kini sudah menjadi adiknya.

"Kapan kamu pulang dari Aussie?"

"Baru beberapa bulan lalu."

Suasana coffee shop mulai gaduh. Namun tidak dengan Kintan dan Rijal. Mereka masih sama-sama canggung untuk berinteraksi. Atau mungkin, Rijal yang masih menutup diri dari Kintan.

"Kenapa nggak pulang ke rumah? Hmm, I mean, rumahmu."

"Rumah itu selalu mengingatkan tentang Mama. Nggak sebaiknya aku pulang ke sana."

"Papa selalu nunggu kamu pulang. Eh, umm, maksudku, papamu."

"Stop. Aku nggak akan pernah pulang ke rumah untuk temui Papa, atau Mama tiriku."

Kintan berusaha membuka mulut.

"Jadi tolong banget, kamu gak usah datang lagi ke sini. Kabarku baik-baik saja. Dan akan selalu baik-baik saja." Rijal melanjutkan.

"Kehadiran kamu dan suami kamu itu, buat aku hancur lagi, Tan."

Alih-alih terkejut, Kintan malah menahan tawa. "I'm officially 28 right now. But Im not a wife." Kali ini, perasaannya sudah jauh lebih ringan. "Not yet." Dia buru-buru meminum Cappucino-nya.

"Hah? What are you waiting for?"

"Kamu sendiri, udah tua belum nikah, nunggu apa lagi?"

Rijal tertohok dengan pertanyaan balik dari Kintan. "Aku belum ketemu orang yang pas aja."

"Kalau aku masih nunggu kamu."

Rijal tak merespon. Meskipun diam-diam, hati dan pipinya sedikit menghangat.

"Jal, banyak yang harus kamu tahu selama 5 tahun ini. Papamu dan mamaku memang berencana untuk menikah. Karena dengan begitu, mereka pikir mereka bisa membuat kita tak terpisahkan. Pada saat itu pun, kamu tahu sendiri. Dion datang secara tiba-tiba. Ada perasaan lain saat aku sama dia, yang nggak bisa aku rasakan saat lagi sama kamu. Tapi aku sadar itu hanya rasa pelarian sesaat. Kayak coklat dalam secangkir Mochacino. Terasa, namun nampak samar dan mudah hilang."

Rijal memperhatikan dengan serius.

"Setelah kamu memutuskan pergi, Papa semakin kehilangan. Begitupula aku. Aku sering main ke rumah atau ke kantor hanya untuk memastikan kabar Papa baik-baik saja. Sama kayak kamu, aku pun sebenarnya nggak mau Mama dan Papa menikah. Selain karena itu membuatku harus kehilangan kamu, aku juga nggak mudah menggantikan posisi Papa." Kintan membuat jeda.

Lalu dia melanjutkan, "Di umurku yang kedua empat, Dion ngasih surprise ngelamar aku. Tapi yang harus kamu tahu, aku sama sekali nggak bahagia. Aku nggak bisa untuk nggak membayangkan kamu. Saat itu yang ada di pikiranku adalah kamu. Aku berharap kamu yang ngelamar aku. Aku berharap kamu yang ada di hadapanku saat itu."

"Jadi, kamu tolak?"

"Aku nggak langsung jawab. Aku cerita sama Mama soal itu. Akhirnya Mama sadar kalau ya..., mungkin dia egois. Dia tahu kalau aku nggak bisa menerima lamaran itu. Jadi Mama dan Papa memutuskan untuk membatalkan pernikahan demi kita. Toh perasaan mereka untuk bersama nggak sebesar perasaan kita. Aku, mungkin. Nggak tahu kamu."

Rijal langsung menjatuhkan tangannya di punggung tangan Kintan. "Lima tahun aku berjuang membuang kenangan kita, ujung-ujungnya gagal karena kamu."

Kintan tersenyum. Dia melepaskan sentuhan tangan Rijal, lalu memberikan Cappucino-nya yang masih tersisa. "Hidup nggak melulu soal Espresso. Kamu juga perlu coba Cappucino atau Mochaccino. Mungkin masa lalu kamu sepahit Espresso, tapi siapa tahu masa depan kamu semanis Cappucino?"

"Masa depanku? Masa depan kita maksudnya?" Sebelum dia merasakan hangat di dadanya, buru-buru dia meminum sisa Cappucino di hadapannya.

Ternyata, Cappucino enak juga.

16 comments:

  1. Sudah lama nih nggak baca cerpennya kak Dwi, dan sekarang baca lagi masih tetap dibuat baper sama cerpennya.

    Aku sampai salah loh tadi menebak endingnya. Kirain endingnya itu si Kintan sama Rijal bakalan jadi saudara beneran soalnya Papa dan Mama mereka bakal menjalin hubungan, eh ternyata aku salah! Endingnya ternyata dibalik sehingga bisa happy ending. Jago bener lah Kak Dwi emang.

    Untuk alurnya juga bagus Kak, cuman aku sedikit bingung aja sih, soalnya kan alurnya maju mundur yaa. Tapi keren banget kok cerpennya. Sering-sering nulis cerpen gini dong Kak. Aura cerpennya juga masih sama seperti dulu yang selalu bikin baper pembacanya hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahaha thank you, Rey. Kaku banget bikin cerpen lagi nih. Yaaaa aku lagi nggak suka yang sedih-sedihan. Penulis kan bebas nentuin ending ceritanya kayak gimana :D

      Sekali lagi makasih Rey, iya semoga bisa terus konsisten nulis nih.

      Delete
  2. uhhh... konfliknya mirim drama korea ya. asli, mirip. and you know... "almost incest". hahahaha :)

    si rijal masih nyari yang pas, dan si kintan... itu cukup frontal, ya. ternyata, doi belum kawin. si rijal agaks ok tau lagian ya. i'm so sorry for rizal, what a nice guy. hohoho.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh aku nggak pernah nonton Korea, nggak tau hahaha.

      Ya, mungkin dia sebenernya masih ngarep tapi agak pasrah juga kalo harus kehilangan.

      Delete
  3. Dwi kamu berhasil membuatku baper. Good job wi. Ha-ha-ha

    Jadi ini si Rijal ingin move on dr Kintan yang mau jadi istri orang gitu ya. Terus ternyata hati Kintan cuman buat si Rijal yaa.

    Ini juga ada cerita flesbek yang bikin nyesek. Mirip sama kejadian d sini :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener Nen, taunya kan..... gitu deh.

      Thank you thank you!

      Delete
  4. Aiiih maniiis. Sweet ending.

    Gue suka, Rijal yang jauh jauh keluar negeri, butuh 5 tahun buat ngebunuh semua kenangannya, malah gagal dalam hitungan menit. Nice.

    Gue sempet bingung, pas alur cerita tiba tiba mundur, tapi di tengah tengah gue langsung paham kok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sial banget nggak sih haha.

      Thank you udah baca ya!

      Delete
  5. Gue suka banget, ini yang perlu gue pelajari untuk membangun karakter yang kuat.

    ceritanya bikin baper, di tengah saat kintan bilang mama papa mau nikah, gue nebaknya si rijal sama kintan nggak bisa satu ya karena itu, dan ternyata endingnya so sweet.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya makasih udah mau baca ceritanya sampe beres yaaa

      Delete
  6. Hai Kak Dwi, ini baper banget serius. Aku ga nyangka ternyata mereka temenan, hampir saudaraan, dan endingnya malah aturan jadian kan Kak? Nikah kan Kak? Aduh nanggugggg...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uh, gimana ya? Endingnya nggak gantung kok sebenernya. Tergantung enterpretasi masing2 yang baca aja Nad hehe.

      Btw makasih udah baca sampe beres yaaa

      Delete
  7. Hai Wii, cerpenmu bagus banget, bahasanya juga ngena. Bikin kalo baca nggak pengen ketinggalan tiap katanya. As usually, amazing!

    Memang kalau berada di posisi mereka, pasti dilema banget. Terlebih buat orang tua mereka yg akhirnya memutuskan untuk mengalah buat anak-anaknya.

    Tapi, jujur, kurang puas di edingnya Wii, nggak tahu yah, ada yg kurang gitu. Kayaknya kamu kurang menggambarkan keterkejutan Rijal, kesannya dia mendengar kabar gembira itu dengan biasa saja. Nggak sebanding sama penderitaan dia selama bertahun tahun. Hahaha, ini pendapatku aja loh ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you, Omel!

      Nah ini dia, aku sendiri berkali-kali baca ceritanya sampai akhirnya memutuskan untuk publish, ngerasa ada yang kurang. Kayak apa gitu ya, ada yang kurang aja. Tapi aku gak nemuin itu. Akhirnya Omel nyadarin aku. Yup, endingnya meskipun sweet tapi kurang greget hehe. Thank you Om sarannya. Aku catet nih buat bikin ending yang lebih greget lagi :D

      Delete
  8. Kasihan Dionnya nih, udah lamar Kintan pada umur 24, dan selama 4th berselang masih dengan tabah dan sabar nunggu jawabannya dari Kintan perihal pinangannya, ditambah saat ini Kintan minum kopi di Cafe pun dia masih setia menemani, tapi akhirnya pupus sudah perjuangannya memenangkan hati Kintan karena kemunculan Rijal setelah 5 tahun menghilang.

    Bagi Dion, seolah lidahnya mencecap rasa pahit Espresso walaupun yang dia teguk adalah segumpal cairan Cappucino ketika disuguhi ekspresi nanar bahagia tatapan Kintan tatkala memandangi kehadiran Rijal - Hal yang seharusnya dia idam - idamkan 4 tahun lalu saat melamar Kintan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya namanya hati, kita memang nggak pernah tau bakal berlabuh ke mana dan kapan. Waktu bertahun-tahun pun rasanya nggak jadi masalah kalo pada akhirnya bisa bahagia.

      Dion mungkin bakal nemuin kisahnya yang baru...

      Delete

Komentar gratis, curhat gratis, iklan bayar!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...