[Cerpen] 30 Days

Monday, June 01, 2015




Suara jeritan orang-orang di ruangan melengking ke berbagai sudut. Beberapa perempuan sibuk berlarian keluar sambil menenteng high heels dan membawa berkas-berkas penting. Sebagiannya bahkan ada yang membawa laptop. Api masih berkobar di sudut ruangan dan mulai merambat ke loker kecil berisi folder-folder dan perlengkapan alat tulis kantor. Beberapa pegawai pria mulai memegang APAR dan mengarahkannya ke kobaran api. Asap putih bercampur asap hitam mulai mengepul di ruang divisi keuangan.


Di ruangan lain, Quina duduk dengan lutut gemetar. Degup jantungnya berderap cepat. Raut wajahnya pucat dan keringat menetes di pelipis. Mejanya yang berhadapan langsung dengan Air Conditioner membuatnya bisa melihat percikan api penyebab kebakaran kecil tadi di ruangannya.


“Quin, kamu gak papa?” Firly menghampiri Quina dan duduk di sampingnya.

Quina menggelengkan kepalanya. Firly masih mengelus bahu Quina berusaha menenangkan. Namun wajah Quina semakin pucat. Napasnya tersengal-sengal. Jeda beberapa detik, badannya melemas dan matanya tertutup.

Firly panik.

***

“Kamu nggak papa?”

Quina membuka mata dan menyadari seorang pria berkulit sawo matang, berambut pendek dan disisir rapi, tersenyum menenangkan. Kemeja biru tua polos beserta wangi Bvlgari mengusik indera penglihatan dan penciumannya.

“Ini, minum dulu.” Jer menyodorkan gelas berisi air putih. Ia duduk di samping Quina yang masih terbaring lemah di tempat tidur.

“Yang lain mana, Jer? Kenapa kamu di sini?” Quina mencoba bangkit sambil mengambil gelas dan meneguk isinya.

Jer hanya tersenyum. “Yang lain udah pulang. Ini udah jadwal pulang, Quin.”

Selama ini, Quina tidak begitu mengenal Jer. Yang dia ketahui dari Jer hanyalah, pria itu berada di divisi penjualan, umurnya berjarak 4 tahun lebih tua darinya dan mereka lulusan dari universitas yang sama. Ia jarang bertemu Jer karena selain berbeda divisi, ruangan Jer pun ada di lantai tiga. Tepat di lantai atas ruangannya.

“Firly udah pulang?”

“Iya, tadi saya udah suruh dia pulang. Biar kamu saya antar.”

“Eh, nggak perlu. Saya bisa pulang sendiri.”

Jer mendesah. “Cuma laki-laki gak bertanggung jawab yang ngebiarin cewek sakit pulang sendirian saat hari mulai gelap.”

Sorot mata bulat itu membuat jantung Quina berhenti hanya sedetik. Selanjutnya, ia sendiri tidak bisa berhenti mengontrol ritme yang berdegup semakin cepat.

***

Quina tidak pernah tahu bahwa sejak hari itu, hubungannya dengan Jer malah semakin dekat. Jer sering mendatangi ruangan Quina untuk sekadar mengajaknya istirahat bareng. Jer selalu punya cara untuk mencari-cari topik obrolan tentang keuangan agar ia bisa masuk ke ruangan Quina dan mengobrol.

“Belum pulang, Quin?” Jer berjalan masuk dan duduk tepat di kursi depan meja Quina.

Perempuan itu menghentikan aktivitasnya sejenak untuk menatap Jer. Entah kenapa Jer seperti punya magnet untuk menarik tatapan Quina padanya. Selalu ada letupan kecil dalam hatinya tiap matanya bertemu dengan mata cokelat Jer. Ada perasaan yang tak asing lagi. Ia pernah merasakannya sekitar setahun lalu, saat hubungannya baru dimulai dengan Rion.

“Belum. Kamu sendiri belum pulang? Mau pulang bareng lagi?” Quina tersenyum usil.

“Lagian kamu juga nggak bawa motor, kan? Sengaja ya?” Jer tidak mau kalah. Senyum usilnya balas disunggingkan.

Quina tak menjawab. Pipi ramping itu merona. Lesung pipinya terlihat jelas. Ia kembali fokus pada kerjaannya yang hanya tinggal sedikit lagi.

Sementara Jer dengan tenang menunggu Quina sambil bersiul-siul ringan. Tubuhnya disandarkan ke sandaran kursi. Kaki kanannya ditumpangkan ke paha kiri dengan lebar. Tanpa sadar, kedua ujung bibirnya tertarik saat memandangi Quina yang sibuk menatap layar laptop. Rambut panjang Quina diikat setengah bagian atas. Poninya dibiarkan menjuntai sebelah kanan. Matanya yang sedikit sipit diulas eye liner—terlihat jadi lebih bulat. Kulitnya yang putih nampak manis disapu blush on pink dan lipstick nude pink mengilap. Ia mengenakan blus motif floral berwarna pastel dibalut blazer krem dan rok span selutut berwarna senada dengan blazernya.

Done!” Quina menutup layar laptop dan merapikan mejanya. “Pulang?”

“Yuk. Makan dulu ya?”

Quina mengangguk.

***

“Fir? Ini kado dari siapa?” Quina tercengung mendapati sebuah box warna pastel tergeletak di atas mejanya. Tepat di samping berkas yang harus ditandatangani.

“Nggak tau Quin. Aku baru dateng juga kok.” Firly nampak acuh tak acuh. Ia mulai menyalakan laptopnya.

Dering ponsel Quina berbunyi.

“Halo, Jer? Kenapa?”

“Udah buka kadonya?”

Quina kembali menatap box pastel itu dan senyumnya mengembang. “Jadi ini dari kamu? Untuk apa?”

“Ya kemarin jatah uangku untuk bayarin kamu makan kan gak kepake, makanya aku beliin buat kado.” Jer terkekeh di sebrang sana.

Quina terkesiap. Masih sepagi ini, di ruangan ber-AC, pipinya sudah memanas dengan cepat. “Jer, kamu nggak perlu repot-repot gini.”

“Aduh kerjaanku masih numpuk nih. Sampai ketemu nanti sore ya. Semoga suka kadonya.” Jer cepat-cepat memutus sambungan telepon.

Senyum Quina masih menggantung di akhir pembicaraan. Ia tahu, dirinya dan Jer sudah melangkah terlalu jauh. Mungkin Quina lupa, ada hati yang terluka di ujung sana.

***

“Quin.” Jer menoleh ke samping kiri, menatap Quina yang sibuk memperhatikan kemacetan Ibu Kota.

“Kenapa?”

“Apa arti kedekatan kita sebulan belakangan ini?”

Hening. Quina menggigit bibir bawahnya. Kesepuluh jarirnya diketuk-ketukkan ke paha. Pikirannya mendadak ruwet.

“Quin?”

Quina masih diam.

“Kalo boleh jujur, aku udah tertarik sama kamu saat pertama kamu masuk kantor, tiga bulan lalu.” Jer mencuri pandang ke arah Quina. “Tapi aku nggak berharap lebih karena aku tau banyak yang naksir kamu di kantor.” Jer kembali fokus ke jalanan yang padat. Hanya maju beberapa ratus meter, mobilnya kembali berhenti.

“Ternyata, kebakaran kecil itu membawa takdir bisa memperkenalkan kita. Sampai kita bisa sejauh ini.” Jer diam senejak. Ia menghela napas, “Aku harap kita bisa ngelanjutin hubungan ini ke tahap yang lebih serius, Quin. Aku tertarik sama kamu.”

Sesuatu meledak di dalam dada Quina. Berdebum. Nyeri dan ngilu.

“Jer,” Quina berusaha menatap sorot mata cokelat itu. Sorot yang selalu hangat dan tenang. “Jujur, aku seneng bisa deket sama kamu sekarang. Kenal sama orang kayak kamu. Semangat ke kantor, semangat kerja, nggak pernah capek karena kamu selalu penuh kejutan.” Ia kembali menatap jalanan. “Kalau boleh dibilang, aku pun tertarik sama kamu.”

Hati Jer membuncah bahagia. “So?”

“Tapi, aku tau aku salah banget. Harusnya aku jaga jarak dari dulu sama kamu sebelum kita sampai sejauh ini. Harusnya aku bisa menjaga hati. Harusnya aku sadar, aku masih punya orang yang mungkin di sana, dia masih ngejaga hatinya buat aku.”

“Maksudnya…” Jer menggantungkan kalimatnya.

“Iya, aku lagi break sama Rion, pacarku. Kita break karena beberapa bulan lalu dapet masalah yang mengharuskan kita break. Salahnya, saat lagi jenuh dan jauh sama Rion, aku jatuh hati sama cara kamu deketin aku.” Quina berhenti. Membiarkan dirinya menjatuhkan air mata.

Giliran Jer yang tidak menjawab. Hatinya hancur lebih dari kepingan-kepingan. Andai dia bisa menangis lepas seperti yang dilakukan Quina di bangku penumpang. Quina menggenggam jemari Jer yang bersarang di persneling mobil. Terasa dingin. Bahkan jemarinya pun ikut mendingin. Menjalar ke lengan atas, tenggorokan, hingga hatinya.

“Kalau ada kata yang maknanya lebih dari maaf, itu yang mau aku bilang. Jujur, aku pun masih sayang sama Rion. Aku nggak bisa gitu aja berpindah hati hanya karena kamu lebih baru. Sesuatu yang baru memang terlihat lebih menarik. Tapi gak semudah itu ngengantiin kenangan dengan yang lama.” Jemari Quina meremas jemari Jer yang terasa semakin dingin.

Jer menerawang. Genggaman itu terasa hambar. Matanya mengilap terkena lampu rem dari depan mobilnya, juga dari lampu-lampu jalanan malam. Ia menahan air matanya.

Quina mendekatkan dirinya ke tubuh Jer. Ia merenggangkan tangan dan memeluk tubuh Jer dari samping. Wajahnya disudutkan ke bahu pria itu. Di atas kemeja berwarna cokelat, air mata Quina tumpah-ruah.

Jer mengangkat tangan kirinya perlahan-lahan dan dijatuhkan di kepala Quina. Ia tahu ini menyakitkan. Ia tahu ini mengiris hulu hatinya. Dan ia sangat tahu. Mulai malam ini, ia harus segera mengakhiri sesuatu yang bahkan baru saja akan ia mulai.



Karena ada saatnya sesuatu lebih baik diakhiri daripada memaksa dilanjutkan tapi mengiris hulu hati

You Might Also Like

39 komentar

  1. keren ceritanya, awal-awalnya bagus, lama-kelamaan ketika saya sudah mulai masuk ke dalam jalan ceritanya, seakan-akan tidak bisa berhenti membacanya, alur ceritanya bikin penasaran. Endingnya bagus :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Aldi, siapa tau bisa kasih kritikan dan komentarnya hihi

      Delete
    2. Setuju, alurnya keren banget, apalagi endingnya~

      Delete
  2. Lagi2 Dwi berhasil membuatku terkesima dg pilihan kata yg cocok bgt di setiap cerpennya.
    Dwi emang jagooooo. Kapan novelnya keluar???

    Quina. Nama yg bagus :) bisa buat referensi nama anakku nih (eh tapi anakku kam cowok) hahaha

    Endingnya nyesek. Kasian Jer di phpin sama Quin. Ternyata Quin break ma kekasihnya duuuuhhh

    Btw peran Firly di atas apaan ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi makasih Kak Mei^^ novelku nggak lolos, doain aja biar bisa masuk setelah revisi nanti ya.

      Ya udah gpp, buat anak cewek nanti ya Kak.

      Iyaaa dia nggak penting sih, cuma untuk mempertemukan Quin sama Jer aja itu.

      Delete
  3. ah,... kok saya juga ngerasa sakit ya pas baca yang terakhir waktu Quina bilang tentang perasaannya.

    ceritanya keren mbak, bikin pembaca hanyut dalam imajinasi untuk ikut masuk ke dalam ceritanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya aku pun yang bikin sakit hati sendiri, Ara.

      Terima kasiiihhh.

      Delete
    2. Bahkan penulisnya juga ikut sakit,

      ah... kenapa ya soal cinta terasa sangat menyakitkan padahal sangat menyenangkan diawal

      Delete
    3. Hahaha yoiii.

      Because that is love.

      Delete
    4. love.

      entah kapanitu akan saya temukan

      masih mikir akan ribet urusan kalau soal cinta

      Delete
  4. Haduh, ternyata Quin masih punya rasa sama yang lain. Dan orang baru macam Jer, dia lelaki yang baik, dia tidak egois, jarang ada lelaki seperti itu :')

    Ah, jadi keingat sama mantan ini. Ah, mbak Dwi ini bikin proses move on kembali terhambat xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya jarang banget:(

      Ah, masa sih? Haha maafkan akuuuu

      Delete
  5. mengakhiri apa yang mungkin saja baru akan dia mulai, keren. rapi mbak tulisannya... pakai paragraph menjorok ke dalam pula. jadi, itu si quina beda 4 tahun sama jer? kata orang2 sih kalau pacaran beda 4 tahun ceweknya lebih muda itu... bawa hoki :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Jev. Actually I have to learn more, more and more. Iya sayangnya hanya deket tanpa bisa lanjut.

      Delete
  6. Ceritanya keren, sangat menyentuh... tokoh utamanya yang cewenya kan ya... hehe... jadi si cewe ini setia dan tetap menjaga hubungannya walaupun dia juga sebenarnya suka sama si cowo baru ini... memang, biasanya kalau ada yg baru, yg lama bisa tergantikan... tapi salut dah sama si cewe ini, thanks ya ceritanya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Do. Aku juga salut sama tokoh ceweknya haha.

      Delete
  7. bener-bener nggak terduga endingnya, gue kira tadi bakalan happy ending kak. pertemuan antara Jer danQuinna juga asik banget yaa, mereka dipertemukan ketika terjadi sebuah bencana. tapi takdir berkata lain, ternyata Quinna masih menjaga hati dengan Rion.

    gue suka banget kak cerpennya. apalagi dengan kalimat 'sesuatu yang baru emang menarik, tapi nggak mudah untuk menghilangkan kenangan lama' itu bener banget1 terkadanga yang baru itu justru membuang kebosanan dengan yang lama aja dan itu terjadi cuman sesaat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha oh ya?

      Makasih makasih. Emang gak selamanya yang baru bisa ngegantiin yang lama sih. Biasanya yang baru dateng buat ngeganggu hubungan seseorang yang lagi retak.

      Delete
  8. Gue selalu luluh sama cerita yang openingnya deskripsi gini. Bikin penasaran buat terus baca. jadi pengen nulis fiksi lagi...

    ReplyDelete
  9. Nyess.. gue bener-bener masuk ke ceritanya dan bisa membayangkan apa yang dirasakan oleh kedua tokoh diatas.

    Endingnya nggak terduga banget. Pertemuan yang unik-gara-gara kebakaran-, kejutan-kejutan dan cara pendekatan yang unik, eh gataunya endingnya salah nebak gue.

    Kalo gue jadi si Quina, gue mungkin bakal ngelakuin hal yang sama. Karena yang baru emang terlihat lebih menarik, tapi belum tentu bisa lebih baik dari yang lama. Eh wait.. kenapa gue ngebayanginnya malah jadi cewek?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, aku juga kasian sendiri ke tokohnya.

      Hahaha, karena tokoh utamanya cewek. Makasih loh Ri udah bisa masuk ke dalam tokoh akunya :D

      Delete
  10. Aduuuuh endingnyaaa :'D Kok gue kesel yaa sama penulisnya? :'D Maap, kak :'p

    Pas baru mulai baca, gue udah mulai senyum-senyum sendiri :D Tapi di pertengahannya, gue terdiam. Menatap monitor sambil tercengang. Duh, bahasa gue -_-

    Ngenes banget yaa, kak -_- Semoga cerita fiksi ini kagak terinspirasi dari kisah nyata lo, kak :') Karena rasanya itu bener-bener mengaduhkan -_-

    Tapi keputusannya Quina itu bener :') Gak mungkin kan dia deket sama 2 cowok dalam waktu yang bersamaan -_- Gue juga kagak mau digituin :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha nggak papa Dim. Udah biasa dimarahin pembaca :))

      Nggak kok. Ini hasil imajinasi karena ngelamun. Jadi, nggak jadi marah sama penulisnya kan?

      Delete
  11. Oh, Ka Dwiii nyesek nihh nyesek banget. Hayooo ini pengalaman ya kak? Atau Cuma cerpen yang fiktif muehehehe

    Emang gak ketebak ya kak endingnya. Aku pikir juga bakal happy ending, nyatanya enggak. Selalu suka sama cerita yang ka Dwi bikin, selalu bikin hanyut pembaca kak muehhehe

    Emang bener banget kak, setuju deh kalo yg baru itu ibarat sebagai iklan aja deh kalo diibaratkan di tv tuh ya. Suka banget sama kata-kata yg terakhir, terkadang kita emang harus mengakhiri sesuatu hal meskipun baru memulai daripada harus sakitnya semakin berlarut-larut, huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan koookkk just fiction Fat :)

      Terima kasih yaaa.

      Aduh, kamu nggak tertohok sama kata-kata itu kan? Nggak mengalami hal yang sama, kan?

      Delete
  12. Akkkk, kalau bikin cerpen, kakak dwi selalu bagus banget. menghanyutkan di setiap paragrafnya. Apalagi paragraf pertama, selalu bikin penasaran. Showing, pilihan kata, ide cerita sama setting tempatnya keren banget

    Gimana ya, aku juga bingung kalau cari "Siapa yang salah?". Mungkin kondisi. Tapi kalau jadi Jer pasti nyesek banget. dan pilihan Quina juga tepat karena berusaha setia ke pacarnya.

    Udah ah, nggak usah mikir siapa yang salah -___- dinikmatin ajaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuuusss komentarnya udah kayak juri cerpen aja. Thanks Kuh. Tapi kayaknya kualitas cerpenku belum sebagus itu deh. Masih harus banyak belajar lagi

      Yep. Jangan kebanyakan mikir, nikmatin aja baca cerpennya :D

      Delete
  13. Anjiiiir.. keren banget Wi!
    Cerpen sekeren ini harusnya gak cuma nongol di blog aja. Lo udah berhasil mengaduk2 emosi gue. Berasa cesss gitu bacanya.

    Emang sesuatu yang baru kadang lebih menarik dan menjanjikan, tapi kenangan yang dulu gak semudah juga buat dilupakan.. Quina sama Jer, semacam sayang di waktu yang gak tepat.

    Kenapa gak dicoba dikirim ke majalah2 sih wi cerpen beginian, ibarat misal ditolak blog ini bisa jadi 'tempat sampahnya'.. dan isinya sampah yang berkualitas dalam arti positif tentunya~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harusnya di mana dong Baaannng? Aku berasa mixer ya kalo gitu-___-

      Yap. Karena waktu gak selalu berpihak sama kita kan.

      Hmm, iya nanti dicoba deh. Masih gak pede Bang hehe

      Delete
  14. Wih keren kata-katanya Jer, "cuma laki-laki gak bertanggung jawab yang ngebiarin cewe sakit pulang sendirian"

    Keren cerpennya, dari musibah kebakaran bisa timbul rasa cinta. Cuma apa ya kan aku bingung si Quina diajak makan tapi Jer besoknya ngasih kado karena uang yang dipake makan kemarin gak dipake.

    Yah endingnya gitu sih kak, kan ikutan sedih. Jer sih gak tanya-tanya dulu sebelum ngedeketin akhirnya nyesek sendiri deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa itu si Jer udah mau traktir Quina. Tp doinya gak mau, makanya uang traktiran itu dibeliin kado. Terlalu singkat sih jadi nggak detail ya.

      Delete
  15. Ow.... ow.... ow.... nyesek....
    udah berkali2 gue baca cerita kayak gini, tapi tetep aja...
    sekali nyesek, tetep nyesek....
    quote di akhir lumayan, tapi agak kurang dalem maknanya....
    hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin harus digali lagi biar lebih dalem ya~

      Delete
  16. Aaaaak sakit banget itu

    Tp harusnya sih si Jer nyari tau segala informasi tentang quina tuh, apa dia udah punya pacar atau bener bener lagi single wkwk

    Btw quote terakhirnya keren euy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Bang Dijeh kalo mau pdktin cewek, jangan asal ya. Cari tau dulu nanti nyesek.

      Delete
  17. malang banget nasib si Jer, jadi inget dulu jaman pacaran ada yg nembak mantan gue, terus ditolak dah. hahahahaha

    ReplyDelete

Komentar gratis, curhat gratis, iklan bayar!

recent posts