Friday, 29 May 2015

Persinggahan; Aku Bukan Tempat Pulang




Hujan itu… sepertiganya hanyalah air yang jatuh, sedangkan duapertiganya adalah kenangan yang bertumbuh.

Hujan itu… seperlimanya hanyalah dingin cuaca, sedangkan empatperlimanya adalah kerinduan untuk bisa bersama.
(Menghitung Hujan by @zenitsia)


Hujan lagi-lagi mengguyur tanah pagi yang masih basah sisa hujan semalam. Hujan lagi-lagi memberikan efek sendu di otakku, seakan sudah ter-setting bahwa jika hujan datang, otakku sudah tidak lagi mengingat hal lain selain dia.

Ah, lagi-lagi dia. Kenapa masih enggan pergi dari pikiranku? Padahal, undangan pun sudah disebar sejak seminggu lalu, ya?

Kau tahu, tidak, rasanya jadi tempat singgah? Jika tidak, biar sini kuceritakan. Kisah tentang seseorang yang sudah kutunggu sejak lama. Tentang seseorang yang kuharapkan bisa menjadi orang terakhir yang menemani sisa hidupku. Tentang seseorang yang ternyata hanya menjadikanku tempat persinggahan. Bukan tempat pulang.

Dia teman satu SMA-ku. Kami bukan sahabat yang terkena friendzone. Kami murni dua orang yang tidak saling kenal karena kelas kami berbeda. Namun aku jelas selalu memerhatikannya dari jauh. Dari awal masuk sekolah hingga kami lulus, aku benar-benar tidak bisa mengobrol dengannya. Bahkan tegur sapa sekali pun. Kau tentu tahu, sulit bagi seorang cewek untuk memulai perkenalan, apalagi obrolan.

Minggu demi minggu berjalan seperti biasa. Aku mulai merindukan sosok tinggi-berisi itu setelah lulus. Sosok yang selalu kuperhatikan saat sebelum masuk kelas, saat istirahat, dan saat jam mata pelajaran berakhir. Maka yang bisa kulakukan saat merindukannya adalah membuka buku memori angkatan kami.

Waktu ospek sudah tiba. Kau tahu? Dia kini ada di hadapanku. Dia mengenakan pakaian dan atribut sama sepertiku. Ternyata, dia masuk jurusan dan universitas yang sama denganku. Tentu kau tau bagaimana perasaanku saat itu, bukan? Tepat. Aku sangat bahagia!

Tapi, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Beberapa bulan setelah masuk kuliah, dia sudah menggandeng seorang cewek seangkatan kami yang beda jurusan. Ah, itu patah hati pertama yang kurasakan. Rasanya lebih pedih dari irisan pisau di tangan. Tentu saja kau tahu, tidak ada obat yang benar-benar bisa menyembuhkan luka di hati.

Di akhir semester dua, gosip dia putus dengan pacarnya mulai menyebar. Ternyata itu bukan gosip. Dia memang benar-benar putus entah dengan alasan apa aku tak peduli. Yang jelas, meskipun aku tidak punya kesempatan, aku tidak terlalu sakit hati melihatnya jalan dengan cewek lain.

Tapi yang harus kau tahu lagi, tidak butuh waktu lama baginya untuk bisa dekat—bahkan akhirnya jadian—dengan orang baru. Selama masa kuliah hingga tingkat tiga, dia sudah menggandeng 3 orang cewek. Aku mulai terbiasa dengan sikapnya—ya mungkin bisa disebut playboy.

Hingga di semester tujuh, entah bagaimana semuanya berawal, kami bisa dekat. Padahal sebelumnya dia baru saja putus dengan pacar keempatnya. Banyak gosip beredar bahwa akulah gadis pengganggu hubungan orang. Tapi dia seakan membantuku menutup telinga untuk tidak peduli dengan omongan orang.

Kau tahu salah satu hal paling bahagia di masa kuliahku apa? Itu saat akhirnya, dia mengutarakan perasaannya padaku. Antara bingung, terkejut, bahagia, semua bercampur jadi satu. Dia, orang yang sudah kutunggu sejak lama, akhirnya bisa menjadi nyata.

Tapi yang tidak pernah terpikirkan olehku saat itu, kenapa dia mau denganku? Kenapa dia tiba-tiba mengutarakan perasaannya padaku? Kenapa tidak butuh waktu lama hingga akhirnya kami bisa bersama? Jawabannya, karena aku mudah untuk dijadikan persinggahan.

Ah iya. Aku lupa menceritakan kisah hujan padamu, ya? Jadi begini. Biarpun dia kejam—mudah berpindah dari hati satu ke hati lainnya—tapi harus kuakui sikapnya memang dewasa. Saat itu hujan besar. Kami hendak pulang tapi hanya aku yang membawa payung. Sedangkan jarak dari gedung ke parkiran cukup jauh. Akhirnya, dia langsung menggendongku di punggungnya sementara aku memegang payung. Dia tidak peduli beberapa orang memerhatikan kami, dia tidak peduli menanggung berat tubuhku, yang penting kami aman dari hujan. Dan setibanya di dalam mobil, dia langsung melepas jaketnya untuk dipakaikan di tubuhku.

Ah, aku tidak mampu menahan tangis jika ingat momen itu.

Hingga akhirnya, secepat kami meresmikan hubungan, secepat itu pula dia memutuskannya. Dia mengakui perasaannya padaku hanya sementara. Dan ketika mantannya meminta untuk kembali, dia dengan mudahnya meninggalkanku. Memang, sesuatu yang baru terlihat lebih menarik. Tapi mungkin tidak mudah menggantikan yang lama.


Karena kau harus tahu, peran orang yang sudah lama di hati memang tidak mudah terganti.


Maka dari itu aku tidak bisa menahannya ketika ia memutuskan untuk kembali ke pelukan orang di masa lalu. Seharusnya aku sadar sejak awal bahwa ia takkan pernah bisa berpaling lama dari masa lalunya. Entah, ini patah hati keberapa yang kurasakan. Tapi rasanya lebih kejam, lebih sakit, lebih perih, lebih tidak terdeskripsikan dibanding semua patah hati di awal.

Aku berkali-kali menggigit bibir bawah, berusaha menahan tetes air yang keluar dari sudut mata. Tapi rasanya terlalu percuma. Pada akhirnya tetes itu pun jatuh juga. Jadi aku hanya menikmati tetes demi tetes hujan di luar sana dan hujan dari dalam hati.

Jika kau bertanya bagaimana aku sekarang, aku hanya bisa membiarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri. Aku tidak bisa memaksanya untuk bertahan jika ia ingin pergi. Aku berusaha mengalah walau sebenarnya, sisi egoisku terlalu tinggi untuk tetap ingin memilikinya.


Berkorban menahan luka demi bisa melihat orang yang dicintai bahagia? Itu terlalu munafik, kau tahu?


Tapi jika hanya itu satu-satunya pilihan yang kupunya, maka aku akan melakukannya. Bukan karena aku ingin berkorban, tapi karena aku tak ingin memaksakan hatinya bertahan dengan orang yang tidak layak dipertahankan.


Terima kasih sudah menjadikanku persinggahan. Kelak, akan ada seseorang yang sanggup menjadikanku tempat pulang.


Tentu saja itu bukan lagi dia. Tapi, seseorang yang sangat jauh lebih berharga.

4 comments:

  1. Patah hatinya seorang pemuja rahasia itu, pedihnya unik dibanding yang lain :)

    ReplyDelete
  2. Huaaaa kak Dwi, bikin baper tauuuu :(

    Iya aku tau kok kak gimana rasanya jadi persinggahan, itu sakit banget :(
    Bahkan ketika tau bahwa dia masih hidup dengan masa lalunya. Perih banget :'(

    Keren kak ini ceritanya, kayak kisah nyata. Jangan-jangan ini kisah nyata ya kak :P hihihhi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haaiii ini anak dateng-dateng langsung baper aja :(

      Tapi percaya aja kalo nanti akan ada orang yang jadiin kamu tempat pulang, Fat :)

      Haha, isn't my life story. Cuma terinspirasi dari lagu aja kok.

      Delete

Komentar gratis, curhat gratis, iklan bayar!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...