[Cerpen] Rasa yang Lain

Monday, August 11, 2014


“Huh,” gadis itu mengembuskan napas panjang. Ia duduk berselonjor kaki di atas rumput Jepang yang hijau terbentang luas.
Sebuah taman dipenuhi oleh orang-orang berlalu-lalang. Jalan aspal—yang tengahnya sengaja dipasang batu-batu lonjong halus—dengan lebar sekitar dua meter mengelilingi taman. Jalan itu dikhususkan untuk orang-orang yang ingin jogging. Di tengah taman, ada danau buatan cukup luas dengan air mancur besar di tengahnya. Seratus meter di sudut kanan dari gerbang taman, ada tempat bermain yang dipenuhi anak-anak beragam umur.
Tidak jauh dari tempat bermain anak, di dekat bak pasir, gadis itu berada. Di sampingnya, berbaring seorang laki-laki yang sudah tiba lebih dulu di tempat itu. Laki-laki humoris, tapi bisa romantis di waktu-waktu tertentu. Lelaki bermata bulat, dengan lensanya berwarna hitam. Lensa yang—sesekali—bisa menjadi cermin gadis itu untuk mematut dirinya. Laki-laki yang dipanggilnya Geo.
“Kamu lama.” Ujar Geo menoleh ke sebelah kiri, menatap pacarnya yang masih duduk dan megap-megap kelelahan.
Napas Giska memburu. Mukanya memerah dengan rambut ikat kudanya sedikit basah karena terkena keringat. Gadis itu menengok ke samping kanan, lalu pupilnya melebar menatap Geo.
Yang ditatap hanya pura-pura tidak lihat. Kedua lengannya diselipkan di belakang kepala—seperti bantal—dan matanya menatap lurus ke langit sore. Warnanya biru kejinggaan, hasil semburat cahaya matahari yang belum sepenuhnya tenggelam. Bibirnya mengerucut, mendendangkan sebuah nada yang tidak jelas bunyinya. Geo paling senang pura-pura tidak melihat Giska dan bersiul jika pacarnya itu marah.
Setelah meneguk beberapa teguk air mineral, Giska ikut membaringkan tubuh di samping Geo. Bahu mereka bersentuhan. Tapi, tatapan mereka sama-sama terfokus pada langit sore yang terhampar luas. Membuat angan mereka ikut terbang menembus batas.
Diam-diam, Geo melirik Giska yang masih menatap langit. Kedua ujung bibirnya tertarik beberapa mili, melukiskan sebuah senyum samar. Matanya menelusuri wajah Giska dari dahi sampai dagu.
Tidak terasa, dia sudah menghabiskan waktu bersama gadis pemilik wajah tirus yang selalu tampil natural itu selama 8 tahun. Ia masih ingat, hari itu, hari terakhir sekolah sebelum ujian nasional...

“Kamu pulang sama siapa?” seorang anak laki-laki bertanya dengan raut wajah gugup.
“Sendiri.”
“Aku anter ya?”
Gadis itu menatap anak laki-laki di hadapannya, tersenyum sejenak, lalu mengangguk setuju. Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di atas sepeda motor. Anak laki-laki itu tak mampu menahan rasa bahagianya bisa mengantar pulang gadis yang sudah disukainya beberapa bulan lalu.
“Kamu pegangan aja kalau takut,” ujar anak laki-laki itu sambil menoleh lewat spion kirinya. Spion itu sengaja diarahkan ke wajah anak perempuan agar ia bisa tetap melihat wajah berbentuk tirus, mata sipit, hidung bangir, pipi yang kurus, serta bibir tipis yang sudah berwarna merah muda dengan natural.
Gadis itu mengangguk, lalu ia memberanikan diri memegang jaket yang dikenakan anak laki-laki. Tiba-tiba saja lengannya terasa hangat. Ternyata lengan anak laki-laki sudah menggenggam lengannya dan menariknya agar berpegangan lebih kuat. Pipinya memerah. Gadis itu menahan degup jantung yang mulai mengencang secara tiba-tiba. Ia juga menahan rasa bahagia yang berlebihan. Hatinya mencelus.
“Aku mau pulang tiap hari sama kamu, boleh kan?” tanya anak laki-laki itu sebelum pulang ke rumahnya. Mereka baru tiba di depan gerbang rumah anak perempuan.
“Setiap hari?” hening untuk beberapa jenak.
Jantung anak laki-laki itu berdetak kencang. Tiba-tiba hatinya merasa resah. Ketakutan menjalar di sekitar hatinya. Pasalnya, ia baru pertama kali mengantar temannya itu pulang dan ia langsung meminta untuk bisa pulang bersama setiap hari.
“Boleh.” Senyum tersungging di wajah anak perempuan.
Jawabannya membuat anak laki-laki berteriak ”Yes” sambil mengepalkan kedua tangannya. Anak laki-laki itu terlalu bahagia. Keresahannya terjawab. Lalu, ia mengucapkan terima kasih, melambaikan lengan sambil tersenyum, dan mulai melajukan motornya menjauh.

“Kamu kok liatin aku terus?” mata Giska tiba-tiba terarah ke samping kanan.
Geo langsung mengalihkan pandangannya kembali pada langit, menghiraukan pertanyaan Giska. Meskipun mereka sudah menghabiskan waktu bersama bertahun-tahun, degup jantung itu masih tidak bisa normal di saat-saat tertentu. Saat ia melihat Giska tersenyum, saat ia melihat Giska tertawa, saat ia ketahuan diam-diam menatap Giska, saat ia mencium kening Giska sebelum pulang, atau saat-saat lainnya.
Tapi, mengapa kini rasanya ada yang lain?
“Geo.”
“Ya?”
Kini giliran Giska yang mengalihkan pandangannya kembali pada langit. Tidak peduli Geo menatapnya. Tiba-tiba lengan kanannya sudah berada dalam genggaman lengan Geo.
“Aku jenuh, Gis.”
“Maksud kamu?” Giska menatap Geo, pupilnya melebar dengan dahi mengernyit.
“Aku jenuh sama hubungan kita,” jawab Geo gugup. Lengannya mengelus lengan Giska yang masih berada dalam genggamannya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Dada Giska terhantam. Tenggorokannya tercekat. Jantungnya jadi berdegup bukan karena bahagia, tapi cemas. Pasalnya, belakangan ini mereka memang sedang sama-sama sibuk. Geo sedang sibuk dengan bisnisnya, baru saja membuka cabang baru. Sementara ia sendiri sedang sibuk dengan dunia fotografinya. Apalagi, beberapa minggu ke depan ia akan menggelar pameran foto kecil-kecilan.
Gadis itu menatap Geo cukup lama tanpa berkedip. Hatinya berkecamuk. Kalimat yang selama bertahun-tahun dicemaskannya akhirnya terlontar dari mulut Geo.
“Kamu nggak serius ngomong itu, kan?” Giska mencoba memaksakan senyum. Meskipun dalam hatinya benar-benar resah. Bagaimana jika ia sudah memiliki perempuan lain? Bagaimana jika ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka? Bagaimana jika ia lelah untuk terus bertahan?
“Aku serius, Gis. Aku jenuh hubungan kita gini-gini aja. Mungkin kita perlu break. Atau putus?”
“Geo!” Giska menarik lengannya dengan kasar. Matanya berkaca-kaca, siap menumpahkan air mata yang tiba-tiba berkumpul di sudut matanya. Kali ini, jantungnya berdegup tiga kali lebih cepat dari biasanya. Ia nyaris bangkit dari tidurnya. Tapi lengan Geo lebih dulu menahannya.
“Kamu mau ke mana?”
“Pulang.”
“Ini,” Geo menyodorkan sebuah benda bulat kecil berwarna perak mengilap terkena cahaya matahari yang nyaris terbenam. Di tengahnya ada permata kecil berwarna pink yang juga mengilap. “Nikah yuk?”
Dalam keadaan masih berbaring, Giska terkejut menatap benda mungil yang dipegang Geo. Benda—yang biasa disebut cincin—itu membuatnya tak bisa berkata apa-apa dan menegang seketika.
“Kenapa diem? Nggak mau ya?”
Alih-alih menjawab, Giska langsung melayangkan cubitan di lengan atas Geo. Lelaki itu meringis dan memelototi Giska. Beberapa detik kemudian, Geo menarik lengan kiri Giska dan menyematkan cincin itu di jari manisnya.
“Umm, cantik ya.”
“Kok kamu main pasang-pasangin aja? Aku kan belum jawab?”
“Karena aku tau kamu pasti mau,” lelaki itu tersenyum santai. "Aku jenuh karena hubungan kita gini-gini aja. Aku pengin hubungan kita berlanjut ke tahap yang lebih tinggi," lanjutnya.
Giska tidak tau, jantung Geo berdetak lebih cepat dari yang mungkin ia duga. Mereka lalu sama-sama mengalihkan pandangan. Tapi lengan mereka masih saling menggenggam. Ternyata, rasa itu tidak pernah hilang meskipun waktu sudah berjalan begitu lama. Ternyata, rasa yang berubah itu adalah rasa ingin meneruskan hubungan ke jenjang yang lebih jauh.
“Aku seneng,” Giska menggumam. Senyum bahagia terlukis dari bibir mungilnya. Raut sedih, kesal dan terkejut tadi hilang terbawa desir angin. Ia ikut menyaksikan kisah bahagia dua orang itu.
Geo menarik lengan Giska, mendekatkan ke bibirnya, lalu mengecup punggung tangan gadis itu dengan lembut.

Tanpa kamu bilang pun, pancaran mata kamu udah menunjukkan pendar bahagia. Dan..., aku merasakan hal yang sama.
***


With love,

You Might Also Like

38 komentar

  1. Ahh, aku gak ngelewatin sedikit pun kalimat di cerpen ini. Asik Wi bacanya. Aku jadi kebawa suasana dalam cerita ini. Aku juga gak kepikir kalo akhir ceritanya si Geo malah ngajakin nikah. Kirain Geo mau ngajak putus. Romantis juga ya cara Geo ngajak nikah gitu.

    Tulisan Dwi mah udah juara banget. Gak bisa di ragukan lagi deh! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asikan mana sama ketemu mantan pas kamu bukber? Hahaha. Iya romantis dong, sayang penulisnya nggak bisa romantis. Huh.

      Plis jangan lebay. Tulisanku masih ada cacatnya juga kali Ri~

      Delete
  2. Kejadiannya singkat tapi tulisannya jadi lumayan panjang juga. Dengan penjelasan yang emang udah ciri khas kamu ini emang jadi luar biasa, wi.
    Romantis dan sangat keren :)

    Kamu emang udah sering baca novel bergenre kayak gini ya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ciri khasku udah ketauan ya Kak. Makasih makasih^^

      Sering banget. Novel pertama yang aku baca dulu genre-nya komedi-romance. Ya ada romance-romancenya hehe

      Delete
  3. anjirr romantis banget. Gue kira tdi bilang jenuh mau putus, eh taunya ngelamar. #Kode nih kayaknya minta dilamar. haha. tpi udah2 kuliah dulu mbak, jangan nikah dulu. wkwkwkwkw

    btw, naskahnya apa kabar mbak ? udah 'dilamar' penerbit belum ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak woles ekspresinya hahaha.
      Plis ini bukan kode Wil. Aku masih muda, masih jauh mikir ke sana-___-

      Huaaaaa kata kakak editor masih dirundingkan sama editor lain. Aku masih harap-harap cemas banget nih.

      Delete
  4. so sweeettnya Geo,,, kirain jenuh beneran,,, gak nyangka ternyata maksudnya itu pengen ngajakin ke hubungan yang lebih seriussss,,, huaaa romantis banget apalagi sambil mandangin langit gitu

    konfliknya sedehana,, tapi menarik,,, nice shortstory^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huaaaa Kak Zhie pasti pengen cepet ada yang lamar yaa :p

      Makasih Kak :)

      Delete
  5. sweet momen banget, dwi. Sukses banget bikin aku beberapa kali mendesah berat :)

    8 tahun.. hmm kok mirip ya sama hubungan aku, bentar lagi mau 8 tahun, udah jenuh juga sama hubungan yang gini-gini aja, pengen kek Geo sama Giska keknya seru.

    Oh, iya... aku suka banget alurnya dwi.. keren banget :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha pasti jadi inget pacar. Lulus sidang jangan langsung lamar Kak, kerja duluuu. Udah 8 tahun, pasti udah banyak suka dukanya ya. Keren iihh :D

      Makasih makasih Kak Bay^^

      Delete
  6. romantis banget dwiiii~~~
    :D
    keep writing, ditunggu cerpen lainnya yah

    izin folowyaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya cuma ceritanya yang romantis, aku enggak haha.
      Oke sip sip, Fuj^^

      Boleehh, aku udah follow lebih dulu ya

      Delete
  7. ah ka dwi nih.. tanggung jawab ah.. gua jadi nge hayal yang engga2 nih.. tapi kalimat yang 'nikah yuk' itu aga gimana aja yaa hehe

    jago deh, sering baca novel romance pastiiii.. aaah sial dasar geo main ajak kawin aja, kerja dulu woy ! uda punya apa cari duit aja masi lontang lantung.. huh.. cuma bekal cincin doan gausa belaguuu~ ah emosi kan..

    emang baca tulisan nya ka dwi mengobrak abrik emosi pembaca nya sih (Eaaa terbang~)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngekhayal punya pacar terus langsung dilamar gitu ya Do? Hahaha maaf, biasanya kalimat-kalimat gitu emang agak sensitif.

      Novel baru beberapa yang dibikin tapi belum ada kepastian. Huh. Eh, ketauan kan bacanya nggak serius. Ada keterangan loh Geo dan Giska itu sibuk apa :p

      Obrak abrik kayak apa aja~

      Delete
  8. dwi tanggung jawab deh dwi :3
    neechan jadi galau baca cerita ini :3

    rasanya minta dilamar sama ... *abaikan yang di wasap*
    wi , nikah yuk! :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha cieee yang kepengin nikah muda :p

      Gih minta dilamar sama........ Itu tuh.

      Delete
  9. sweet banget.
    lagi ngebayangin jadi giska ceritanya.

    ReplyDelete
  10. Gak tahu napa dan bagaimana Dwi bisa romantis mulu. Gak abis-abisnya. :) Pasti biki para jomblowan dan jomblowati plus single-singlean pada galau bacanya. Ngabibita, gitu. yahm baguslah, tahap lanjut untuk nikah. Dengan cara yang sempat twist pula.
    BTW, sekadar saran, maaf, ada bagian yang gadis itu diganti dengan anak perempuan. Apa gak inkonsisten?
    Pun meneguk beberapa teguk air mineral, bisa ganti kalimat lain? Dwi selalu suka yang detail. Tapi abaikan jika sudah merasa pas dengan kalimat itu. Cuma sekadar masukan saja, maaf.
    Dan saling memegang lengan atau tangan? "Tapi lengan mereka masih saling menggenggam." nah itu membingungkan, lengan dan tangan 'kan ada bedanya. Sekadar masukan atas apresiasi karya saja, Dwi. Maaf jika bikin jleb dan tak berkenan. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi sayang itu cuma ceritanya aja Mbak. Penulisnya sama sekali nggak bisa romantis. Ahaha ahaha.

      Oh iya itu sebenernya aku bingung sih kebanyakan si gadis. Makanya aku ganti. Tapi nggak masalah ya Mbak, yang penting konsiten?

      Oh I see, meneguk beberapa teguk. Pemborosan katakah?

      Eh iya, harusnya tangan Mbak. Makasih buat masukan sama kritiknya. Makasih banyaaakk :))

      It's better than just "Cerpennya bagus."

      Delete
  11. Jujur ya Dwi...aku bangga kenal km. Gmna yaaa.. Km yuh jago bgt bikin cerpen. Q baca sampai tuntas cerita geo giska ini. Bagus bgt endingnya malah ngajakin nikah aku kita putus hahaha
    Dwi emg pinter deh nerangkai kata. Tp bener yuh kata mak roh ada bberapa part yg msy dperbaiki ;l)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih banyak Kak mei, aku juga belum sepenuhnya jago. Masih harus banyak belajar :))

      Iya makasih ya Kak, nanti aku belajar lagi kok.

      Delete
  12. *gleek..

    Mulai deh yang punya pacar galau, berkhayal bisa seperti itu :3

    ReplyDelete
  13. em, cerita ini kayaknya lebih ke pengharapan mungkin...
    atau terilhami dari kisah nyata...

    meski ceritanya main di daya keujut..tapi untuk pembaca blog...ini cukup bagus....
    setidaknya pembaca punya waktu untuk terhentak dengan endingnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengharapan? Nggak kok bukan Wi.

      Iya makasih ya. Udah baca sampe beres.

      Delete
  14. setiap baca postingan kak dwi pasti isinya cerpen dan cerpennya ituuu gawl banget. gawl karena kata - kata yang dirangkai menjadi kalimat itu bisa sekece dan sedalem itu..
    aaah, good job kak dwi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak juga kok Ki, isinya macem-macem cuma mungkin kamu kebagian pas promo cerpen.

      Makasih yaaaaa^^

      Delete
  15. Ahhhh, aku terpesona dengan kamu mbak dwi...kalau baca cerita beginian pasti deh aku langsug kebawa suasana di dalam cerita..asyik banget. walaupun belum pernah merasa seperti itu secara langsung, tapi aku bisa membayangkan secara detail suasana di dalam cerpen itu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum pernah? Iya nanti ada saatnya kok kamu ngerasain rasanya ngelamar cewek~

      Btw makasih ya Restu

      Delete
  16. Hehehe jago banget dah bikin cerpennya. Mungkin kalo sering diasah bakalan lebih baik. :D Buat ceritanya, serius, aku awalnya kasian sama si Giska. Eh ternyata diajakin nikah. Hihi bagus bagus..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Kak, iya pasti aku terus belajar kok^^

      Delete
  17. eeeeeeeeeeeeeeeehhhh busetttt kirain putus, ternyatahhhhhh wowuwuwowowowow sweetttt bener kak dwiii~~ udah kaget, lah ternyata geo ngasih cincin, jadi pengin :|
    nikah yuk :| gitu endingnya huahahaha
    semoga kak dwi cepetan juga :D undang undang ya :D hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uwooo ekspresinya Vin, excited bangeeett hahaha. Cie mau dikasih siapa sih?

      Cepetan? Semoga waktunya pas aja nanti:) hihi iya diundang, tapi janji dateng ya

      Delete
  18. Romantisnye -_- :( andai aku bisa seperti itu wuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini cuma fiksiiii kok, coba aja ngelamar gitu ke cewek :D

      Delete

Komentar gratis, curhat gratis, iklan bayar!

recent posts