Monday, 21 July 2014

[Cerpen] Semusim


Aku duduk di bangku kayu. Udara musim panas pagi ini terasa sedikit sejuk. Hangat sinar mentari pagi menyorotku, meresapi pori-pori kulit. Mataku melihat sesuatu berwarna hijau terhampar luas yang di atasnya terhampar pula warna biru muda cerah. Mungkin itu yang namanya langit. Mataku juga menangkap setitik warna kuning di antara hamparan langit. Aku hanya mampu menangkap warnanya, bukan bentuknya.

Telingaku menangkap sebuah suara langkah kaki mendekat. Aku nyaris bangkit sebelum lengan kekar itu menyentuh bahuku.

“Hei, kamu mau ke mana?”

“Daniel? Kenapa baru datang?”

Kurasakan lelaki itu mengempaskan tubuhnya di sampingku. Dia menghela napas sebelum menjawab pertanyaan. “Aku ada urusan tadi. Maaf ya,” lengannya langsung bersarang di ubun-ubun kepalaku.

Senyumku tersungging tulus. Aku dapat merasakan Daniel ikut menyunggingkan senyumnya padaku.

Aku sudah mengenalnya setahun lalu. Laki-laki yang mau menemaniku menikmati musim demi musim di sini. Meskipun sejak awal aku tidak bisa melihatnya, tapi aku bisa merasakan tiap lekuk wajahnya. Aku merasakan matanya bulat. Dia bilang bolanya berwarna abu-abu yang dinaungi alis melengkung. Aku juga merasakan hidungnya bangir. Dagunya terasa runcing di telapak tanganku.

“Skyna, ayo kita harus segera beranjak dari sini.” Daniel secara tiba-tiba menarik lenganku dan mengajakku berlari.

Sontak, aku terkejut. Tapi genggaman tangannya—yang terasa pas dalam jemariku—menenangkanku. Entah bagaimana lelaki itu bisa membuatku nyaman berada bersamanya.

Bangku kayu tadi adalah tempat pertama kali kami bertemu. Dia berkali-kali mendatangi dan mengajakku mengobrol. Awalnya aku berusaha menghindar sekadar untuk berjaga-jaga karena dia orang asing. Tapi dia selalu punya cara untuk tidak membuatku takut.

Dia menyanyikanku sebuah lagu, memetik senar-senar gitar dengan penuh pesona. Terkadang, dia mengajakku untuk ikut bernyanyi. Dia juga selalu menceritakan kisah-kisah masa kecilnya, 24 tahun lalu. Bahkan dia pernah mengajakku berlari menantang angin. Lalu secara tiba-tiba, dia melepaskan genggamannya dan membuatku panik. Jantungku langsung berdebar, langkahku menggeligis hebat, pikiranku kalut.

“Daniel! Daniel!” teriakku histeris.

“Daniel! Jangan tinggalkan aku, Daniel!” aku masih berteriak berusaha menahan air mata yang nyaris menetes dari pelupuk mata.

Menit demi menit berlalu, aku tak merasakan Daniel berada di sekitarku. Mataku tak menangkap sesuatu yang berwarna sawo matang. Hanya hamparan warna hijau dan abu-abu jalanan. Berkali-kali kuputar tubuh sambil menjulurkan kedua tangan.

“Daniel, tolong...” kali ini suaraku melemah dan bergetar. Air mataku tumpah-ruah. Langkahku terhenti dan aku menjatuhkan diri. Aku menangis di tempat yang tidak kukenali sama sekali. Di jalanan yang lengang.

“Dapat!” aroma tubuh Daniel menyeruak ke rongga hidungku. Lelaki itu kini memelukku erat-erat. Jemarinya membelai rambutku. Sepintas, kudengar ia terkekeh ringan.

Aku berusaha memukulnya dengan gumpalan-gumpalan jemari. Tapi nyatanya tenaga itu tak cukup kuat. Mungkin, hatiku yang memang tak cukup kuat untuk marah padanya.

“Kamu dari mana?” tanyaku getir.

Lelaki itu terkekeh sebelum menjawab pertanyaanku. “Aku hanya ingin melihatmu menangis karena kehilanganku.”

Kamu memanfaatkan kekuranganku?”

“Sama sekali tidak, Sky. Aku hanya takut jika kau tidak membutuhkanku.” Aku merasakan bibir Daniel mendarat di keningku. Beberapa detik kemudian, kecupan dari bibir tipisnya itu beralih ke ubun-ubun.

Sesuatu menjalar cepat ke hatiku—seperti sengatan listrik. Jantungku berdampung seketika, tanpa ada aba-aba dan persiapan sebelumnya. Ada sesuatu yang terasa aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Tapi aku berusaha menyangkal. Ah, ini hanya perasaan bahagia.

“Siap?” tanyanya ketika aku sudah duduk di besi depan sepedanya. Lamunanku tentang masa lalu itu buyar.

Kudengar deru napasnya sedikit tersengal-sengal. Mungkin dia sedang mempersiapkan track yang akan kami lalui. Aku memang tidak tahu seperti apa track-nya. Tapi aku percaya, kali ini dia tidak akan lagi meninggalkanku.

“Sudah!” aku berseru riang. Jemariku langsung berpegangan erat pada besi di tengah setang sepeda.

“Satu, dua, tiga.” Tepat ketika hitungan ketiga, sepeda kami melaju sangat kencang.

Aku bisa merasakan angin yang kami tantang, menerbangkan rambut lurus hitam sebahuku. Wajahku benar-benar tersapu angin yang juga nyaris menerbangkan sepeda kami karena bobot kami terlalu kecil. Untung saja Daniel pintar mengatur keseimbangan.

“Wuhuuu!” aku berteriak kencang sambil melambaikan lengan sebelah kanan. Aku tak peduli jika di sana banyak orang yang melihat kami. Lagipula, sejak tadi aku tidak mendengar suara kendaraan apa pun. Jalanan ini sepi. Aku hanya merasakan terpaan angin, udara hangat, deru napas Daniel yang menggelitik tengkukku, dan kebahagiaan.

Entah sudah berapa jauh Daniel mengayuh sepedanya. Sepertinya cukup jauh karena kini, aku bisa merasakan napasnya berderu lebih cepat dari sebelumnya. Tiba-tiba kecepatan sepeda mulai melambat, lambat, lambat, akhirnya berhenti.

“Ada apa, Daniel?”

Tidak.” Hening.

Aku merasakan sorot matahari yang mulai menjalar naik. Udara yang menerpa kami mulai terasa panas. Tapi aroma musim panas begitu khas di hidungku. Aku menyukainya. Terutama wangi bunga-bunga yang bermekaran.

Tangan kekar Daniel tiba-tiba melingkar di perutku. Wajahnya mendekat dan bersandar di bahu sebelah kiri. Napasnya terasa hangat dan menimbulkan efek tidak wajar ke jantungku. Degupnya tidak dapat dikontrol karena terlalu berlebihan. Mungkinkah ini perasaan...?

“Aku menyayangimu, Skyna,” bisiknya menggelitik telinga.

Aku tercekat.

Jantung yang sejak tadi berdegup terlalu cepat, kini rasanya seperti terhenti mendadak. Beberapa detik saja hingga kalimat Daniel kembali menyadarkanku.

“Ntah kenapa, aku senang menghabiskan waktu denganmu, Sky. Aku suka saat kita duduk di bangku kayu di bawah pohon favorit kita. Aku suka saat kita saling menggenggam tangan dan berlari kencang menantang angin. Aku suka saat bisa menyanyi bersamamu. Lalu kau tersenyum. Aku suka melihat kau kelelahan dan akhirnya aku terpaksa menggendongmu di punggungku.”

Terpaksa?”

Terpaksa yang menyenangkan,” jawabnya terkekeh.

Suaranya sungguh menenangkanku, membuat wajah ini memanas dan hati mencelus. Jantungku kembali berdegup sangat cepat. Bahkan sepertinya lelaki itu bisa mendengarnya.

“Terima kasih Daniel. Terima kasih kau sudah menerima kekuranganku. Aku pun menyayangimu.” Kudekatkan kepalaku ke pipinya. Rasa haru, bahagia, tenang, semua bercampur menjadi satu. Kujatuhkan tanganku menggenggam tangannya yang masih bersarang di perut.

Ditemani sorot mentari, udara musim panas serta aromanya, semua terasa sempurna.

***
Semusim t’lah kulalui
T’lah kulewati tanpa dirimu
Tetapi bayang wajahmu
Masih tersimpan di hati...


Penghujung musim gugur.

Masih teringat jelas awal perkenalanku dengan Daniel setahun lebih yang lalu. Masih kuingat jelas suara berat lelaki itu yang membuatku candu. Masih teringat jelas perlakuannya yang menenangkanku. Semuanya masih membekas karena kusimpan rapi dalam memori.

Aku duduk di bangku biasa. Sore ini, semua warna banyak yang serupa di mataku, jingga. Hamparan langit, dedaunan yang gugur dari dahan dan rantingnya, hingga matahari yang mulai meluncur ke peristirahatannya. Aku tak bisa melihat jelas bagaimana musim gugur terjadi. Ayah bilang, musim gugur adalah musim pergantian dari musim panas ke musim dingin. Beliau juga bilang bahwa musim dingin akan segera tiba dalam beberapa hari ke depan.

Mantel tebal cokelat, sepatu boots tinggi, serta syal rajut yang melingkar di leherku nyatanya tidak cukup kuat untuk menghangatkan. Atau mungkin, hanya hatiku yang kedinginan? Kedinginan setelah penghangatnya meninggalkan begitu saja.

Aku melewati musim gugur ini sendirian. Setiap hari aku datang ke tempat ini, menunggu lelaki yang dulu sering menemaniku. Lelaki yang tiap hari selalu punya cara membuatku merasa nyaman dan aman berada di sampingnya. Dulu.

Semenjak hawa udara panas berubah sedikit demi sedikit menjadi dingin, lelaki itu tidak datang lagi. Padahal, kami melewati musim panas bersama-sama. Karena Daniel, aku tidak peduli dengan kekuranganku ini. Dia bisa membantuku merasakan keadaan lingkungan sekitar. Aku seperti mampu melihat dunia yang selama ini tidak pernah kulihat.

Tapi, warna-warna ceria itu kini berubah kelam. Sudah nyaris 3 bulan Daniel pergi dan tidak lagi kembali hingga saat ini. Aku tidak tahu dia pergi ke mana. Aku merasakan dia ada di sini. Ah, tapi, mungkin itu hanya perasaanku saja yang terlalu merindukannya.

Beberapa detik kemudian, cairan kristal bening meluncur bebas dari sudut mataku. Cairan itu langsung meluruh dalam jumlah banyak. Tapi sebenarnya, luka yang kurasakan jauh lebih dalam dibanding banyaknya air mata yang meleleh. Aku tak mampu berteriak karena tenggorokan ini rasanya tercekat. Dadaku sesak. Bahkan sakit itu kini menular ke kepala, berdenyut-denyut. Dinginnya udara penghujung musim gugur pun mendukung sakitnya luka yang kurasakan. Luka ditinggal pergi oleh orang yang disayangi dengan tiba-tiba. Tanpa kabar, tanpa alasan.

Hingga matahari nyaris tenggelam, air mataku masih mengalir. Dan Daniel, tidak pernah datang lagi.
***
Angin menyentilku.

Tiupannya mampu membuatku menyerah bertahan di dahan pohon. Kini tubuhku melayang-layang terbawa angin. Aku pasrah membiarkan angin membawaku ke mana pun. Seiring jatuhnya tubuhku, aku melihat sesosok gadis yang warna matanya menyerupai suasana musim gugur. Cokelat.

Gadis itu duduk di bangku kayu sendirian. Aku melihat tangannya membekap mulutnya sendiri. Ia terlihat sesegukan. Aku sering melihatnya saat musim panas bersama seorang laki-laki. Tapi kini, ke mana lelaki itu?

Angin terus membawaku turun, bergeser agak ke sebelah kiri. Beberapa meter menjauhi gadis bermata cokelat. Aku pikir, aku akan jatuh di dekat si gadis agar bisa mendengar rintihan hatinya. Tapi, tunggu. Aku menangkap sosok lelaki yang tak asing lagi. Itu lelaki yang dulu sering menemani gadis yang sendirian tadi. Tapi, mengapa kini ia duduk dengan perempuan lain?

Ia duduk di sebelah perempuan berambut panjang. Warnanya hitam legam dan terlihat mengilap tersorot cahaya senja. Seiring tubuhku yang terus terambau tertiup angin, lengan lelaki itu perlahan menyusup ke belakang punggung si perempuan. Lalu akhirnya dijatuhkan di bahu kanan perempuan di sampingnya.

Tubuhku tergelincir di hadapan mereka. Mereka saling menatap dan tersenyum. Tapi tidak ada makna yang terpancar dari sorot mata laki-laki itu. Akhirnya aku sampai di tanah dengan selamat. Bergabung bersama ribuan temanku yang lain, yang sudah gugur mendahuluiku. Kusaksikan dua orang itu dengan saksama.

Aku sadar ternyata lelaki itu memang tidak mencintai perempuan yang dirangkulnya. Aku sadar kalau lelaki itu telah meninggalkan hatinya pada seorang gadis bermata cokelat, yang duduk sendiri tak jauh dari mereka.

Kini aku sadar, keadaan telah memaksa mereka untuk berpisah.

***

With love,

32 comments:

  1. Idenya kewren... itu di ending yang dimaksud adalah butiran salju ya? Iya aja biar cepet. Aku seneng sama endingnya. Haha, penjelasannya datang dari sesuatu yang enggak diduga-diduga.

    Semuanya oke, seperti biasa, ceritanya smooth banget, mengalir bak kapal layar yang tertiup angin di perairan yang tenang, gak kerasa udah ada di tepian. Cuma sarannya sih, di awal-awal, penggambaran penglihatan mata yang diterima si Skyna kurang jelas aja sih, kesannya dia masih tetap bisa membedakan warna hijau dan biru, rumput dan langit, bukannya kalo 'ehm' kita merem itu cuma bisa melihat warna-warna merah yang terpatri menembus kelopak? Atau memang skyna masih bisa menerima warna-warna itu meskipun enggak sempurna? ._.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yakin nih salju? Coba baca lagi, itu musim gugur dan belum tiba di musim dingin loh haha. Tapi makasih ya.

      Iya emang maksudku gitu sih. Dia nggak sepenuhnya kekurangan. Jadi masih bisa ngelihat warna-warna meskipun cuma warnanya aja. Nggak sama bentuknya gitu. Lagipula dia itu sebenernya nggak menutup kelopak mata, Hud.

      Tapi makasih sarannya ya. Nanti aku riset lagi.

      Delete
    2. Oh yayayaya, itu ternyata daun yang gugur yak ._. duh aku dongo haha

      Dan ya, sekarang aku bisa ngebayangin gimana penglihatan si Skyna, tadi awalnya aku kira dia itu merem ._. haha, tampaknya aku sudah salah berimajinasi, maafin yak :P

      Cerpen ini tanpa cela.

      Delete
    3. Hahaha kenapa baru ngeh, Hud?

      Iya mungkin kamu lagi lelah. Imajinasinya lagi pengin istriahat dulu :D

      Delete
  2. kak, itu nama skyna dapet ide dari mana? bagus namanya, hehehe
    ceritanya juga bagus mengalir lembut.
    aku gak bisa komen panjang, soalnya gak terlalu paham beginian -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas liat langit tiba-tiba aja kepikiran nama itu :))

      Nggak apa, makasih ya udah baca^^

      Delete
  3. Kak Dwiii.... kenapa cerpen2nya keren semua sih? Tapi kenapa mesti berbau perpisahan lagi? Yang kemarin pas aku BW juga gtu, akhirnya ditinggal juga, dan dia mulai memahami arti kesendirian dan kehilangan.
    Yang hepi ending dong kak... ='(

    Eniwei, ini karya-karya kakak kenapa nggak dipublikasikan di koran atau...langsung bikin buku gitu. Kan lumayan bisa dapet duit. wehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha nggak semua ah, tapi makasih ya. Aku suka bikin cerpen yang galau2 Zak. Wah direquest-in masa :3

      Ya doain aja ada rezeki aku di sana hehe

      Delete
    2. Iya didoain kokk...
      Asalkan bagi2 royaltinya ya. hehehehe

      Delete
  4. duuh mendadak jadi galau, kenapa harus ada perpisahan dibalik sebuah pertemuan yang berawal indah :(

    eh yaa, btw aku suka bagian puisi" nya. baguuss :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Namanya juga hidup Mbak Mas :")

      Itu bukan puisi loh, itu lirik lagunya Marcell yang Semusim hehe

      Delete
  5. bagus kak cerpennya hihihi
    kapan ya aku bisa nulis sebagus ini duhh.
    cerpen nya terisnpirasi dari lagu ya, aku suka lagu semusim tuh hihihih
    sepertinya daun yang gugur itu lebih mengerti tentang perasaan ya di banding daniel yang menipu perasaannya. Bahkan dari matanya saja, sepertinya daniel tidak mencintai gadis di sampingnya di bandin skyna.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Lis makasih :3
      Tenang aja, belajar lama kelamaan bisa lebih smooth lagi kok.

      Iya aku juga tiba-tiba aja terinspirasi gara-gara denger lagu dia^^

      Delete
  6. Cerpennya bagus... ceritanya menarik.
    Aku sampai sekarang masih belum bisa lho buat cerpen hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah Mbak Reni makasih loh ya hehe

      Aku juga ini masih belajar aja, belum bisa bagus banget bikinnya.

      Delete
  7. waahhhhh... mengalir indahhh~~
    Jadi ikut masuk ke dalam ceritanya Kak Dwi, jadi berasa Skyna
    aaaakkk
    tapi endingnya vina agak nggak ngerti :|
    tapi ngerti, lah gimana cara bilangnya yaa.. :3
    endingnya ini sedih kan ya kak.. vina bacanya gitu :|
    atau vina salah menanggapi :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya makasih Vina :)

      Nggak ngerti ya? Wah sayang banget. Padahal aku suka part endingnya loh

      Delete
  8. Nice cerpennya idenya keren.. terus dikembangin nie bakatnya siapa tau jadi penulis terkenal

    ReplyDelete
  9. Cerpennya bagus. Semoga ke depan tetap semangat nulisnya ya^^

    Maaf ga komentar banyak:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tumben Kaklin nggak komentar apa-apa, padahal aku nunggu komentarnya loh^^

      Delete
  10. Bahasa & Tulisannya keren.. aku belum bisa sampe segini.. Btw, kumpulin aja semua cerpennya, jadiin buku. Well, ini KEREN! :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih ya. Kalo kumpulan cerpen nyari penerbitnya susah. Nyoba ke novel aja mungkin~

      Delete
  11. Ceritanya keren, plot serta karakternya asik banget terkesan hidup banget :)

    ReplyDelete
  12. ihhhh gilak. seperti biasa aku selalu baca cerpen di blog ini sampai habis. kali ini penggambarannya jelas banget! aku jadi ngerasakan gimana jadi orang tuna netra. hebat banget showingnya kak dwi.

    tapi kok di endingnya sudut pandangnya ganti sih, aku sempat bingung tadinya -____-. mungkin karena si karakter sky nggak bisa ngeliat apa yang sebenarnya terjadi kali yak. tapi secara keseluruhan cerpennya (lagi lagi) sukses melarutkanku ke dalam cerita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ihhhh gilak. Makasih banget ya Kuh, muji tapi ngatain. Aku jadi bingung hahaha.

      Iya bener, pengen nyampein apa yang dilakuin si cowok. Soalnya Skyna emang nggak tau kan. Makanya aku ambil sudut pandang lain.

      Delete
    2. bukan gitu kakak dwi, di bandung kata kata gitu nggak biasa ya -___-

      kalau di samarinda itu, ih gilak sama kayak "Ih wow".cuma kalau ngomong Wow di Samarinda kesannya kayak lebay -_- kayak gitu kira kira.

      makin lama makin keren aja cerpen cerpennya. aku jadi rutin main main ke blog ini hahaha

      Delete
    3. Hahah iya paham Kuh, di sini juga biasa kok kalo wow kadang suka diganti sama gila.

      Wiiihhh makasih ya Kuh :D

      Delete
  13. wahh endingnya keren, ganti sudut pandang gitu.
    aku seneng deh baca cerpen galaunya mbak dwi.
    tapi bacanya, nunggu waktu luang. biar gak buru buru biar bisa menghayarti gitu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya aku ganti hehe.
      Wah makasih banyak ya Latifah udah meluangkan waktu buat baca cerpenku^^

      Delete
  14. kamu ini spesial cerpen cinta yah, -__-' sskali-skali aku tantang kamu buat bikin cerpen absurd tapi romantis. :))

    nama tokohnya unik Sky kayak anaknya koh Ernest ;))
    ceritanyua bagus :)) keren.
    sory baru bisa bw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Spesialis maksudnya Kak? Wah ditantangin nih. Aku juga pengin nyoba sih keluar comfort zone, tapi bingung mulainya dr mana. Absurd maksud kamu yang gimana?

      Oh iya? Aku nggak tau hehe. Makasih makasih :D

      Delete

Komentar gratis, curhat gratis, iklan bayar!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...