Thursday, 5 June 2014

[Review] Swiss: Little Snow in Zürich

Source: google
Judul: Swiss: Little Snow in Zürich
Penulis: Alvi Syahrin
Penyunting: Yulliya Febria
Proofreader: Widyawati Oktavia
Penata Letak: Erina Puspitasari
Desainer Sampul: Gita Mariana
Ilustrator Sampul dan Isi: Gama Marhaendra
Penerbit: Bukune
Cetakan: I, Juni ke 2013
Tebal: 308









Di Zürich,

Ada kisah tentang salju yang hangat, tentang tawa yang mencair. Membuat Yasmine tersenyum bahagia.

"Ich liebe dich,"—aku mencintaimu—bisik gadis itu, membiarkan repih salju membias di wajahnya. Manis cinta dalam cokelat yang laki-laki itu berikan membeku menjadi kenangan di benaknya, tak akan hilang.

Di puncak gunung Uetliberg—yang memancarkan seluruh panorama Kota Zürich—bola-bola salju terasa hangat di tangannya, kala mereka bersisian. Dan Jembatan Münsterbrücke, jembatan terindah dan tertua di Zürich, seolah bersinar di bawah nyala lampu seperti bintang.

“Jika aku jatuh cinta, tolong tuliskan cerita yang indah,” bisik gadis itu. Ia tahu ia telah jatuh cinta, dan berharap tak tersesat.

Namun, entah bagaimana, semua ini terasa bagai dongeng. Indah, tetapi terasa tidak nyata.

Tschüs—sampai jumpa—
Yasmine, semoga akhir kisahmu indah.

***

Di atas adalah cuplikan dari blurb novel Swiss: Little Snow in Zürich karya Alvi Syahrin. Ini adalah novel keduanya setelah Dilema, yang diterbitkan juga di penerbit yang sama.

Novel ini bercerita tentang kisah dua orang remaja, Rakel dan Yasmine, yang saling jatuh cinta. Cerita ini dibuka oleh prolog yang bikin aku terenyuh. Manis. Gimana enggak? Kak Alvi ini mengambil sudut pandangnya adalah salju. Ide yang unik, bukanDan dari situ aku bisa belajar bahwa sudut pandang nggak selamanya harus manusia. Begitu baca bagian prolog, ada sesuatu yang bikin aku penasaran untuk baca cerita berikutnya. Oh iya, di bagian prolog ini juga ada ilustrasi 2 orang manusia--laki-laki dan perempuan--mengenakan payung untuk melindungi diri dari butiran salju yang turun. Latar trem, bangunan dan pohon-pohon--yang hanya beranting--bikin aku langsung jatuh cinta sama ilustrasinya.

Yasmine menyukai dunia fotografi. Mengabadikan momen-momen atau objek mati. Dermaga di dekat danau Zürich adalah spot favoritnya. Dan, di sanalah pertama kali ia menemukan Rakel. Awalnya mereka hanya duduk masing-masing. Rakel di sudut kanan, Yasmine di sudut kiri. Tapi beberapa kali bertemu membuat mereka akhirnya saling berkenalan. Pada saat itu, Yasmine mencoba memfoto Rakel diam-diam.

Mereka akhirnya dekat dan berteman baik. Rakel juga ternyata menyukai dunia fotografi karena dengan itu dia bisa mengenang masa lalunya. Hingga di suatu hari, Rakel meminta izin untuk datang ke sekolah Yasmine, dan gadis itu pun mengizinkan. Di sanalah Rakel bertemu dengan Elena dan Dylan--sahabat Yasmine. Sikap Rakel berubah drastis begitu bertemu mereka. Dia hanya mengaku pada Yasmine bahwa mereka hanyalah sebatas teman di Primary School, tidak lebih. Namun Yasmine masih ragu karena sepertinya Rakel menyembunyikan sesuatu darinya. Dari situlah konflik dimulai.

Selanjutnya? Silakan beli novel Swiss: Little Snow in Zürich di toko buku terdekat^^

Pertama, aku suka cover-nya. Ilustrasi sketsa warna biru muda. Cocok sama suasana salju dan cerita di Swiss, jadi berkesan cool. Lalu untuk karakter, aku sebenarnya bingung, yang jadi tokoh utamanya siapa. Aku sih nangkapnya Rakel. Soalnya dia yang paling detail diceritakan. Dari latar belakang keluarga, sifat, sampai bentuk tubuh dijabarkan dengan jelas. Sedangkan Yasmine, aku ngerasa dia kurang pendeskripsian karakternya. Kurang kuat gitu, nggak ada ciri khasnya. But I like her style. Untuk Elena dan Dylan, aku rasa mereka terlalu baik ya karakternya. Ya meskipun ada sih Dylan bertengkar sama Rakel. Tapi itu kurang greget menurutku. Jadi kesannya mereka kayak malaikat. Mungkin kalau ditambah karakter lain, biar mereka berdua bisa mendukung karakter utama, kayaknya lebih bagus.

Terus untuk soal setting, umm, aku suka banget sama seluruh deskripsi setting yang ditulis Kak Alvi. Memang sih banyak narasinya, tapi ada beberapa yang digabungkan sama dialog. Aku lupa di halaman berapa. Yang jelas penggambaran setting-nya cukup detail. Karena Kak Alvi ini nggak hanya mengandalkan satu panca indra--penglihatan--tapi juga beberapa indra lainnya. Aku ikut merasakan dingin ada di Swiss begitu angin musim dingin bertiup kencang. Aku juga ikut merasakan sedikit hangat begitu cahaya matahari menyusup. Jadi nggak seperti laporan travelling. Karena setahuku, penggambaran setting yang baik adalah yang bisa menggabungkan narasi dengan dialog sesuai porsinya. Dan nggak terkesan seperti laporan travelling.

Untuk alur sendiri Kak Alvi mengambil alur maju-mundur. Pada bagian prolog adalah alur sekarang. Lalu mundur beberapa pekan, sampai akhirnya tiba di bagian sekarang lagi. Di bagian awal alurnya masih santai. Cara Yasmine dan Rakel bertemu sudah unik, tapi waktu Yasmine jatuh cinta kayaknya terlalu cepat. Mungkin sarannya, bisa dikasih penjabaran dulu suka, baru akhirnya sadar kalau itu cinta. Dan di bagian-bagian akhir, rasanya alurnya jadi terlalu cepat. Apalagi setelah Rakel pergi ke Amerika tiba-tiba datang lagi. Mungkin bisa diceritakan dulu bagimana sedihnya Yasmine saat ditinggalkan Rakel. Hal-hal yang Yasmine lakukan buat menghibur diri saat Rakel pergi.

Konfliknya, kalau menurutku kurang greget. Mungkin karena terlalu singkat antara konflik dengan penyelesaian. Tapi untuk ukuran anak remaja SMA, konfliknya sesuai. Melakukan rencana musim dingin karena ingin mengenang masa lalu. Dan nggak antimainstream juga. Soalnya mengenang masa lalunya bukan tentang mantan.

Buat keseluruhan, aku nggak nyesel beli buku ini. Meskipun ada beberapa kekurangan, tapi Kak Alvi berhasil "menarik"ku untuk masuk ke Swiss, menyaksikan--bahkan--merasakan langsung kisah Yasmine dan Rakel. Dan untaian kata per katanya juga sudah berhasil menghipnotisku ikut terhanyut dalam ceritanya. Mungkin kalau boleh kasih rating, aku kasih 3 dari 5. 


***


Ini mungkin hanya review amatiran dari seorang penikmat novel. Karena aku bukan kritikus yang hobinya mengkritik karya orang. Tapi aku hanya menilai novel Swiss ini sesuai sama apa yang aku rasa. Semoga Kak Alvi nggak bosan berkarya dan bikin karya lebih baik lagi^^



"Percayalah, tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Sia-sia adalah ketika kau tidak mencoba apa yang harus kau lakukan." -Elena, halaman 178.


Semoga bukuku segera menyusul di penerbit yang sama^^

With love,

2 comments:

  1. Halo, Dwi, terima kasih banyak ya telah menuliskan review untuk Swiss. Aku suka, dan terima kasih untuk masukannya! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Kak Alvi kembali kasih. Ditunggu novel barunya yaaa^^

      Delete

Komentar gratis, curhat gratis, iklan bayar!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...