[Cerpen] Terlambat - Part II

Saturday, May 24, 2014


Part 1 di sini

Terlambat
By Dwi Sartikasari


Hari-hari tidak berjalan seperti biasanya. Rion sudah punya pendamping baru dan ia mulai berubah. Tidak ada lagi waktu kebersamaan denganku. Bahkan, dia lupa untuk--hanya sekadar--mengucapkan terima kasih atas tantangan yang kuberikan saat itu. Tapi, sudahlah, aku baik-baik saja. Lagipula dia mengutarakan itu karena hatinya, bukan tantangannya.
“Sendirian aja lo Sha?” aku menoleh ke samping dan menemukan Gery di sampingku. Gery ini teman satu SMA-ku dulu. Meskipun tidak sering bertemu, tapi aku pernah juga curhat padanya. Aku suka cara dia menasihatiku. Tidak terlihat mengajari, tapi seperti merangkul.
“Eh iya nih Ger. Lo dari mana?” tanyaku berbasa-basi. Padahal sebenarnya aku sedang tidak ingin diganggu.
“Lo kehilangan Rion ya?” Gery tidak mengindahkan pertanyaanku.
“Ya kehilangan sih wajar Ger. Dia kan sahabat gue sejak lama. Tapi nggak pa-pa kok, gue juga masih suka kontekan sama dia.” Aku memaksakan tersenyum tanpa menatap Gery.
“Lo kalau lagi sedih jangan sok tegar gitu deh Sha.”
Aku seperti terlempar keras ke jalanan dan dadaku terbentur. Sakit. Kalimat itu benar-benar menohokku. Entah kenapa, rasanya aku belum pernah merasakan sakit hati karena ucapan seseorang. Tapi sekarang, Gery melakukannya dan aku merasakannya.
“Ya udah kalau gitu. Kita main ToD gimana?”
“Nggak mau ah.” Ujarku malas. Permainan itu sudah tidak menarik lagi di mataku. Permainan itu hanya menyisakan kenangan dengan Rion. Permainan itu hanya membuatku teringat pada Rion.
“Ayo dong Sha. Sekali aja.” Wajahnya memelas dan terus membujukku. Aku pun menyerah. Bukan karena benar-benar ingin, tapi agar Gery tidak mengusik ketenanganku.
Gue dulu yang nanya lo.”
“Nggak lah gue dulu. ToD?” tanya Gery mendahuluiku.
Aku mendengus kesal. “Truth aja deh.” Suasana hati yang buruk seperti ini membuatku malas untuk mendapat tantangan apa pun. Bahkan mungkin, jika pertanyaan Gery itu memojokkan, aku akan menjawab sesuka hati.
“Lo sayang nggak sama Rion?”
“Nggak ada pertanyaan lain apa?” aku menatapnya sambil mengernyitkan dahi. Kesal. Kenapa harus cowok itu yang dibahas saat ini?
“Nggak adaUdah jawab.”
“Sayang.” Aku menjawab jutek. Lalu membuang muka.
Gery menjatuhkan telapak tangannya di kedua pipiku dan memutarnya agar bisa berhadapan. Ia menatapku dengan tatapan tajam, menelaah kedua bola mataku dengan matanya. Entah apa yang dia cariMungkinkejujuran.
Udah giliran gue.”
Eits! Gue belum puas sama jawaban lo," ia melepaskan genggaman tangannya. "Lo kan milih truth, berarti semua kejujuran mesti lo ungkapin sama gue.”
“Ger, cuma itu kejujurannya. Apa lagi yang lo mau? Iya gue sayang sama Rion. Tapi ya hanya sebatas sahabat aja. Nggak lebih.” Aku berusaha meyakinkan Gery walaupun sebenarnya hatiku tidak merasa yakin. Ada secuil perasaan perih yang mengiris-iris sudut lain hatiku.
“Sha, gue udah kenal lo dari SMA. Gue udah tau mana saat lo jujur, masa saat lo nutup-nutupi sesuatu.” Seketika suasana hening. Aku tidak menghiraukan kalimat Gery karena terlarut dalam lamunanku sendiri.
“Oke, jujur gue sayang sama Rion lebih dari sekadar sahabat. Tapi ya udahlah, nggak akan mengubah keadaan apa pun, kan?”
“Kalau seandainya Rion juga sayang sama lo?”
Nggak mungkin lah. Orang dia udah pacaran sama Farah. Lo mulai ngaco deh Ger. Udah giliran gue yang nanya lo.” Aku mengalihkan pembicaraan. Tidak ingin memperpanjang masalah yang sedang malah untuk diperbincangkan.
“Lo sedih kan dia udah nggak di samping lo lagi? Lo sedih kan dia udah nggak nemenin lo lagi? Lo sedih kan dia udah nggak selalu sama lo lagi? Lo—
Udah Ger, please. Gue nggak mau nangis di sini gara-gara kalimat nyebelin lo itu.” Aku menatap Gery memelas. Air mataku sudah menumpuk di pelupuk mata, siap terjatuh jika sekali lagi Gery mengucapkan kalimat yang berhubungan dengan Rion.
Berusaha menahan air mata yang sudah berdesak-desakkan ingin keluar itu adalah kegiatan paling menyakitkan dan menyusahkan.
Gery mendekatkan tubuhnya dan perlahan merangkul tubuhku, mengelus kepalaku, dan mendekapku erat. “Jatuhin air mata lo di bahu gue sebanyak yang lo bisa. Sakit itu jangan ditahan sendirian. Jadiin bahu gue sebagai sandaran lo.”
Kali ini ucapannya benar-benar membuatku meneteskan semua air mata yang sedari tadi sudah susah payah kutahan. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku merindukan Rion. Sangat merindukannya. Aku baru menyadari bahwa perasaan ini ternyata lebih dari sekadar sahabat. Aku terlambat menyadarinya. Selama ini aku selalu berusaha mengelak bahwa perasaan ini tidaklah lebih dari sayang sebagai sahabat. Dan aku mengakui bahwa aku salah besar.
“Kesha.” Aku merasakan tangan seseorang bersarang di bahuku. Aku melepaskan pelukanku dari Gery dan menoleh pada orang di belakangku. Tubuhku langsung menegang, membeku untuk beberapa detik saja. Dahiku mengernyit dan mata sipit ini sedikit terbelalak.
“Ada apa?” tanyaku.
“Gue udah denger semuanya. Gue udah denger semua pengakuan lo sama Gery. Gue udah tahu dan gue udah yakin kalau selama ini lo cuma nutupin perasaan lo aja.”
Aku membalikkan tubuhku untuk menghadap Rion. Aku lebih terkejut lagi ternyata Farah sedang duduk di belakangnya. Dilema langsung menyerangku dari berbagai arah. Aku bingung antara mengakui perasaanku atau tetap menjaga hubungan Rion dan Farah.
“Kamu salah denger Rion. Aku emang sayang sama kamu, tapi itu dulu. Sekarang kan aku udah bilang kalau sayang aku ke kamu itu cuma sahabat. Aku—
“Lo mau sampai kapan sih bohongin perasaan lo terus?” Rion memotong ucapanku. Sorot matanya menghujam bola mataku dengan tajam. Aku tahu, cara pandangnya yang seperti itu mengartikan bahwa dia sedang berbicara sangat serius.
Farah bangkit dari duduknya. Dia berjalan menghampiriku dan duduk tepat di hadapanku. “Sha, aku dapet tantangan dari Gery buat nerima Rion. Gery udah ngatur semuanya. Jujur, aku juga suka sama dia. Tapi dia nggak bisa bikin aku nyaman. Saat kamu nyuruh aku dateng ke kafe itu, Gery juga ngasih tantangan aku buat nerima Rion. Tujuannya jelas, dia pengin mancing kamu buat mengakui perasaan kamu.”
Aku bergeming. Beberapa detik setelahnya, aku menatap Rion, Farah dan Gery bergantian. Permainan apa yang mereka lakukan ini?
“Awalnya gue ngerasa sayang sama Farah. Tapi perasaan gue juga ragu karena di satu sisi, gue ngerasain perasaan berbeda sama lo,” kali ini Rion ikut berbicara. “Lo inget waktu gue tanya lo sayang gue apa nggak?”
Aku mengangguk.
“Nah, apa yang gue bilang itu serius kalau gue sayang sama lo lebih dari sahabat. Tapi lo malah ngelak.”
“Ya udah sekarang tugas gue udah selesai buat ngungkapin kebenaran perasaan Kesha. Selebihnya, kalian selesain masalah kalian sendiri deh ya. Kami duluan. Dah...” Gery menarik lengan Farah dan berjalan meninggalkanku dan Rion.
“So?” Rion menatapku sambil mengangkat sebelah halisnya untuk meminta kepastian.
Apa?”
“Kamu mau ngelak lagi kalau itu cuma sayang sebagai sahabat?”
Iya lah. Aku sayang sama kamu sebagai sahabat aja Ri, nggak lebih. Nggak ada sahabat jadi cinta di kamus aku.” Aku berusaha menahan senyum sambil menghapus sisa air mataku.
Tiba-tiba saja Rion memelukku sangat erat sampai aku kesulitan bernapas. “Rion! Rion lepasin! Aku nggak bisa napas.”

END



With love,

You Might Also Like

4 komentar

  1. Kaak boleh saran dong.. ini kan blog ya, bukan buku, jadi ada baiknya antara satu paragraf dan lainnya atau antar satu percakapan dan lainnya dikasih satu spasi, biar pas scroll mouse kebawah enggak bingung tadi sampe mana ya haha.. Udah gitu aja.

    Pas baca ini tab sebelah bunyi 3 kali loh kak, ada notif di fb, tapi aku abaikan aja, memilih baca ini sampe abis dulu baru pindah tab. Abis kayak biasanya sih, meskipun cinta-cintaan aku gak begitu suka--soalnya bikin iri, tapi tulisan kak Dwi bener-bener licin, aku terjatuh dan enggak bisa berhenti sampe di akhir. *eaak

    Oh jadi ini kelanjutan dari cerita sebelumnya yang si Rion ditantang Kesha untuk nembak Farah ya? Ternyata dibalik permainan ToD itu ada permainan ToD lain haha, bisa-bisanya si Gery juga nantang Farah buat nerima Rion. Bener-bener enggak ketebak! Kompor Gas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya ya Hud, aku langsung copy-paste dari word soalnya. Hehe. Oke nati aku perbaiki kalo nulis cerpen lagi.

      Tapi nggak sampe tersesat kan? Oke makasih makasih.

      Iya begitulah. Dulu tuh emang lombanya tentang ToD gitu, tapi ya mungkin banyak naskah yang lebih menarik hati dewan juri di sana :D

      Delete
  2. Jadi itu gajadi jadian ?
    anyway saya suka :DD
    dari baca mulai part pertama sampai kedua ini saya nggak pindah pindah tab. biasanya sih kalo cerpen udah mulai bosenin ya saya pindah aja gitu.
    Saya juga pingin nulis nulis gini, tapi belom pernah sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm.. Tafsirin sendiri aja jadian apa enggak hehe.

      Oh iya makasih ya. Sayangnya ini cerpen gagal.
      Ayo dicoba, pasti bisa kok :)

      Delete

Komentar gratis, curhat gratis, iklan bayar!

recent posts