[Cerpen] Adera--Melukis Bayangmu

Tuesday, April 15, 2014

Alhamdulillah hari ini kebagian libur sehari setelah UTS dua minggu kemarin. Tapi nggak beruntung banget sih soalnya besok udah disambut sama tugas yang bejibun lagi. Kan belum mahasiswa tingkat akhir, ya, kenapa udah banyak tugas gini? Errr-__- berhubung ini masih pagi, masih bisa nyempetin buat ngelanjutin utang cerpen. Eh cerbung kayaknya. Buat yang belum baca, ini ada part 1, part 2, part 3, part 3.1. Yuk langsung cus aja. 

***



Adera: Melukis Bayangmu
By Dwi Sartikasari

Cinta ternyata tidak selalu membawa pengaruh baik. Ia juga bisa membawa pengaruh buruk pada korbannya. Buktinya, kini aku lebih sensitif saat Akira mengajak Dita untuk makan siang bersama dengan kami. Aku juga lebih sering negative thinking jika Akira memutuskan untuk lembur dan Dita juga. Bahkan, aku yang awalnya baik-baik saja dengan Dita, perlahan mulai merasa cemburu dan menjauh. Cemburu karena Dita bisa bekerjasama dengan Akira. Cemburu karena Dita bisa satu ruangan dengan Akira. Cemburu karena Akira pernah mengantar Dita pulang saat aku cuti karena sakit. Memang terlihat seperti anak kecil. Tapi, cemburu tidak pernah mengenal usia, bukan?
“Kamu kenapa belakangan jadi pendiem, Anne?” suara berat Akira membuyarkan pikiranku.
“Ah, kenapa?”
“Tuh kan, ngelamun.” Akira menggelengkan kepalanya. “Kamu kenapa? Belakangan jadi sering ngelamun dan pendiem? Kamu masih sakit?”
“Nggak kok,” aku cengengesan. “Something wrong with my head.” Heart, I mean. Aku melanjutkan dalam hati.
Akira menempelkan punggung tangannya di keningku. “Tapi kamu udah nggak panas kok.”
Nggak peka! Seruku dalam hati. “Emang kalau aku jadi pendiem kenapa? Kan bagus kamu nggak pusing  dengerin celotehank.” Aku menghiraukan ucapan Akira.
“Kamu kok ngomongnya gitu?” kening Akira mengernyit. Ia menatapku. “Aku kangen tau kamu cerita panjang lebar.”
“Iya sibuk sama kerjaan terus sih. Sama partner-nya juga,” jawabku tanpa melirik Akira.
“Ya namanya juga kerja, Anne. Mau gimana lagi?”
Aku bangkit dari dudukku. Emosi ini sudah bergejolak tidak karuan di dalam hati. Kekesalanku sudah memuncak di ubun-ubun siap meledak. Dan kali ini, semuanya keluar tanpa sisa.
“Nggak peka banget sih! Kamu selalu tanya ‘kenapa’ tanpa berniat ingin tahu lebih jauh lagi. Kamu selalu percaya kalau aku bilang nggak pa-pa. Harusnya kamu tahu kalau ada sesuatu yang bermasalah saat aku berubah jadi pendiem. Saat aku berubah jadi nggak cerewet lagi. Harusnya kamu sadar kalau aku butuh diperhatiin. Kamu bilang kangen, tapi nggak pernah ngeluangin waktu banyak buat aku. Kerja, kerja dan kerja.”
Akira menatapku bingung. “Ya, ini kan aku ngeluangin waktu buat kamu? Aku datang ke rumahmu, Anne. Lagian, memang kerjaan aku akhir-akhir ini lagi banyak banget.”
Ini? Iya kita ada di tempat yang sama. Tatap muka. Berdampingan. Tapi, hati kita nggak di sini. Hatiku maksudnya.”
Akira bangkit dari duduknya dan hendak merangkulku.
Apa? Mau peluk?” aku menepis lengannya. “Kamu pikir masalah selesai hanya dengan sebuah pelukan? Kamu pikir semuanya baik-baik lagi setelah kamu peluk aku? Nggak, ya!”
“Kamu kenapa sih?”
“Kamu masih tanya aku kenapa? Aku udah nyindir-nyindir panjang lebar dan kamu masih tanya kenapa?” bibirku bergetar menahan tangis. Air mata sudah menumpuk di pelupuk mata, tapi masih bisa kutahan kuat-kuat.
“Kamu nggak suka aku sibuk?” nada pertanyaan Akira mulai meninggi.
“Aku nggak suka kamu akrab sama Dita!”
“Aku sama dia nggak ada apa-apa. Lagian kan kami cuma rekan kerja aja, nggak lebih. Jangan kayak anak kecil gitu dong Anne.”
Terus kalau aku kayak anak kecil? Nggak suka? Ya udah pacaran aja sama Dita yang nyambung dan lebih dewasa!” aku mengentakkan kaki pada langkah pertama dan langsung masuk ke rumah meninggalkan Akira yang masih terdiam di beranda.
***



Kumelintas pada satu masa
Ketika kumenemukan cinta
Saat itu kehadiranmu
Memberi arti bagi hidupku

Ribuan kenangan berputar silih berganti. Tiba-tiba saja, pikiranku terlempar jauh ke masa lalu yang cukup manis. Ketika di mana aku menemukan seseorang yang mampu menyibakkan awan kelabu dan menggantinya dengan senja yang indah. Seseorang yang mampu menggantikan hujan menjadi pelangi.
Sejak masalah dengan Akira beberapa hari lalu, kenangan masa lalu itu seperti kaset yang kembali terputar dengan jelas. Tiba-tiba saja aku teringat akan seseorang yang pernah meninggalkanku beberapa tahun lalu. Orang yang tidak lagi kutangisi sejak Akira datang tanpa sengaja. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini aku kembali teringat padanya dan membandingkan Akira dengannya. Julian.
Lagi-lagi aku meneteskan air mata. Aku menjerit sambil membekap mulut dengan bantal. Aku bingung dengan diriku sendiri. Di satu sisi aku merasa bersalah pada Akira, tapi kesal. Di sisi lain aku merindukan Julian, tapi juga membencinya. Aku benci karena tiba-tiba merindukannya.

Meskipun bila saat ini
Kita sudah tak bersama lagi
Ada satu yang kurindu
Kehangatan cinta dalam pelukanmu

Seseorang merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Aku merasakan tubuhku menghangat dalam pelukan seseorang di sampingku.
“Kenapa nggak cerita sama gue?”
Luna. Entah sejak kapan gadis itu ada di kamarku. Aku terlalu sibuk menangis sampai tidak sadar akan kedatangannya. Bahkan, mendengar suara pintu terbuka lalu tertutup pun aku tak tahu.
Kueratkan pelukan di tubuh Luna sambil menangis. Air mata membasahi bahunya cukup banyak. Tapi ia seakan tidak peduli. Ia terus mengelus bahuku dan memberikan ketenangan untuk beberapa saat.
Gimana? Udah tenang?” tanyanya ketika aku sudah melepaskan pelukan.
“Akira jahat sama gue, Lun. Dia sayang sama Dita,” ujarku sambil sesegukan.
“Lo ngomong apa sih? Mana mungkin Akira sayang sama Dita. Dia kan sayang sama lo. Lo pacarnya, Anne.”
Aku terdiam bingung harus berkata apa. “Gue udah sabar nahan ini sebulan lalu, Lun. Tapi apa? Akira tetep nggak peka. Dia tetep ngajak Dita makan siang bareng kami kalau kebetulan Dita lewat. Bahkan dia sengaja ngajak Dita makan siang tanpa persetujuan gue. Dia juga tahu gue sakit dari Ergi. Padahal saat gue mau pulang dan pamit, dia lagi asyik ketawa-ketawa bareng Dita. Dan yang paling bikin gue kesel, dia nganter Dita pulang tanpa bilang dulu sama gue. Gimana gue nggak curiga? Coba lo bayangin kalau lo jadi gue dan Dion jadi Akira. Lo mau ngapain? Ngebiarin Dion terus gitu sama cewek lain?” aku menjatuhkan tatapan pada mata Luna, menghujam.
Gadis itu terdiam beberapa jenak. Membuang pandangan pada rumput hijau yang terbentang luas di balik jendela kamar. Helaan napas cukup panjang, lalu dia kembali menatapku. “Iya gue ngerti. Akira salah karena nggak izin sama lo. Tapi, gue tahu banget Akira gimana orangnya. Sedeket-deketnya dia sama orang, kalau dia nggak punya perasaan, ya dia bakal tetep anggap orang itu temannya. Nggak lebih. Percaya sama gue deh,” Luna mengelus bahuku sambil mengulas senyum.
Aku mengangkat bahu. Tidak menanggapi kalimat Luna.

Biarkan aku melukiskan bayangmu
Karena semua mungkin akan sirna
Bagai rembulan sebelum fajar tiba
Kau s’lalu ada walau tersimpan
Di relung hati terdalam

“Loh, ini kan barang yang Julian kasih?” tanya Luna menatapku bingung. Tangannya memegang sebuah pas foto kecil berisi sketsa gambarku. Hadiah ulang tahun.
Aku bergeming.
“Lo masih kangen Julian?”
Nggak kangen. Cuma keingetan aja.”
 Luna menatapku tanpa berkata. Dia menunggu penjelasanku lebih lanjut.
“Kita nggak akan pernah lupa sama orang yang pernah ngisi hari-hari kita di masa lalu. Begitupun gue. Sepinter-pinternya gue move on, kenangan sama dia nggak akan hilang gitu aja. Yang dimaksud move on itu sendiri kan bukan melupakan kenangan, tapi mengganti kenangan.”
“Jadi lo keingetan lagi Julian gara-gara lo punya masalah sama Akira?”
Maybe.” Aku menatap Luna santai. “Gue tahu gue salah. Gue udah ngebandingin Akira sama Julian. Tapi gue juga sadar kalau mereka punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Julian. Dia baik banget, perhatian dan humoris. Dia paling nggak suka lihat gue nangis. Dia selalu tahu kalau gue nangis. Tapi, dia ninggalin gue demi orang lain. Dan orang itu udah bikin Julian nggak peka lagi sama kesedihan gue. Dia nggak tahu seberapa terlukanya gue setelah dia pergi.”
Aku menghela napas sejenak, lalu melanjutkan ucapan. “Akira. Dia juga baik banget. Dia bisa bikin hati gue mencelus saat pertama kali lihat senyumnya. Dia bikin gue nyaman. Dia memperlakukan gue dengan spesial. Tapi, dia nggak peka. Dia nggak pernah tahu gue cemburu atau nggak. Gue sedih atau nggak. Gue terluka atau nggak. Dia cuma bisa tanya kenapa tanpa mau tahu lebih lanjut sebenarnya gue kenapa.”
So?” Luna menatapku sambil menaikkan sebelah alisnya, meminta penjelasan lebih lanjut.
“Ya Julian tetap masa lalu gue. Biar gimanapun dia udah memutuskan untuk memilih jalan hidupnya bukan sama gue. Meskipun Akira nggak peka, tapi gue udah terlanjur sayang terlalu jauh sama dia.” Aku menyunggingkan senyum. Akhirnya aku merasakan hatiku lega.
Luna langsung memelukku dan mengelus punggungku. “Gue yakin kok lo udah nggak childish lagi. Akira harus tahu kalau lo udah dewasa.”

Aku membalas pelukan Luna. Beberapa detik kemudian, kulepaskan pelukannya dan tersenyum dengan mata sedikit bengkak. Hasil tangis sejam yang lalu.

***

With love,

You Might Also Like

20 komentar

  1. cinta yang jahat tentunya akan membawa pengaruh buruk bagi yang memiliki cinta demikian,,kalo menyalahkan cinta pun gak layak sebenarnya krn cinta itu anugerah.

    ReplyDelete
  2. Jujur ya, gue bingung mau komen apa -_- Kalo baca cerpen atau novel yang berhubungan dengan cinta yang model begini, susah buat di ungkapin pake kata-kata. Konflik asik, keren !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya ya? Siapa tau mau komentarin tentang EYD dan semacamnya kak.

      Delete
  3. “Kumelihat pada satu masa
    Ketika kumenemukan cinta
    Saat itu kehadiranmu
    Memberi arti bagi hidupku”

    Aku suka dengan kata-kata ini, karena mungkin selama ini mereka yang menyetujuinya berarti pernah merasakan manisnya cinta. Namun, akhirnya aku merasa tak nyaman karena menjadi korban cinta. Cinta yang buta, cinta yang merusak masa depanku. Aku menjadi alergi dengan cinta. Semoga cinta datang tepat pada waktunya, tidak terlalu dini menyusup didalam hati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cinta nggak seburuk itu kok, kak. Tapi emang kadang orang-orang yang selalu salah mengartikan aja.

      Aamiin, semoga bertemu di saat yang tepat ya

      Delete
  4. ini edisi yang terakhir...saya agak nggak setju sama definisi move on nya :P
    tapi ada bnernya juga...tapi tetep nggak setuju :P

    ya begitulah.....
    menghayati banget ceritanya..keren..keren...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang ini belum terakhir kak, masih ada satu lagi. Hehe iya tiap orang pasti punya pengertian move on sendiri-sendiri kok.

      Makasih yaa

      Delete
  5. Aaaaaah, cinta itu emang rumit ya..... X))
    Menurut saya, masalah dalam hubungan akira dengan anne. Dua-duanya bisa dikatakan salah kali ya. Anne meminta secara nggak langsung supaya akira bisa peka. Tapi disisi lain, akira bisa dikatakan sikapnya terbilang cuek. Ya satu-satu jalan, harus dimusyawarahkan di RT/RW terdekat. <-- ini bercanda.

    Anyway, tulisannya keren banget, Wi. Ikut terbawa suasana nih... Hehe. :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya harusnya dibicarakan baik-baik sih. Kalo langsung dibicarain baik-baik langsung ending dong haha.

      Makasih bang makasih :D

      Delete
  6. bagus cc Dwi, as usual. ceritanya tuh sehari hari bangettt, dan tapi kalo aku udah di bilangin,
    'mau peluk?'
    pasti aku jawabnyaaa...
    iya mau mau mauuuu...hahaha. udah selesai jadinya. hahaaha...

    ahh, emang cinta tuh gituu dah...bikinn hidup berwarna tapi besoknya gelap gulita. tapi kalau aku jadi si cewek jga udah curiga maksimal. orang dita sama pacarnya kayak gitu deketnya. kenapa jga pake dianterin pulang cobaaa???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cie kakmey pengen dipeluk-peluk aja nih :))

      Iya kan emang nyebelin banget kalo aku jadi si Anne-nya juga. Punya pacar gitu banget ya huhu

      Delete
  7. Emang Akira gak punya perasaan, masa punya pacar tapi pas waktu makan siang malah ngajak cewek lain, sempet ngajak makan siang tanpa persetujuan Anne lagi, Akira emang jahat orangnya, mending sama Akika aja, neng!! Yuk, cap cus!!

    Tiap kali baca tulisanmu pasti endingnya selalu bilang, keren :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngeselin ya kakbay? Tuh kamu jangan gitu sama pacar kamu. (kalo udah punya pacar :p). Akika?-___-

      Makasih makasih kaak :D

      Delete
  8. Cerpennya bagus. ini aku pertama kalinya baca cerpen kamu :)
    sempet pertama baca bingung, ini cowoknya namanya siapa. kok kayak anama cewek semua, anne akira dan dita hehe
    tapi lama-lama tau jalan ceritanya, dalam kehidupan sehari-hari banyak terjadi hal kayak gini, membandingkan emang boleh, tapi jangan sampe akhirnya malam menuntut pacar menjadi seperti mantan hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya iya makasiihh :)

      Tapi kalo aku sih dibandingin aja udah nggak suka, apalagi dituntut. Nggak bangett-__-

      Delete
  9. Waaahhh ini pemerannya makin bertambah yah... hmmm krn gak baca dari awal jd masih bingung dengan jalan ceritanya. Tp untuk part 3.1 ini kyknya makin seru deh... Anne yang makin cemburi dengan Akira dan Dita.. Akira yg makin dekat dg Dita...dan Anne yang tiba-tiba keinget Julian .. crtanya bgs nih bisa dikembangin jd novel teenlit...^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak hehe. Menjelang ending kan.

      Huuu maunya gitu sih. Doain aja semoga kesampean :)

      Delete
  10. aku udah baca dari awal sampe yg ini dwiw, keren banget deh (y)
    apalagi aku kan suka banget sama Adera, ini baca cerpennya aja sambil dengerin lagu Adera :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih ada yang lainnya Kak. Ayo baca lagi :D

      Emang. Aku juga suka banget sama Adera... Hihihi

      Delete

Komentar gratis, curhat gratis, iklan bayar!

recent posts