Tuesday, 22 April 2014

[Cerpen] Adera--Dengarkan Hatiku

Taraaaa... Aku bisa muncul lagi. Kemarin ikutan long weekend sih jadi blognya ikutan dicuekin. Tapi kasian kalo kelamaan. Untung hari ini koneksi lagi baik. Jadi nggak perlu cari wifi ke luar. Cukup di kosan aja hihi. Hmm, utang pentalogi masih ada ya. Oke, ini judul terakhir akhirnya bisa di-publish juga. Ini part 1, part 2, part 3.1, part 3.2 dan part 4Happy reading!
***


Dengarkan Hatiku
By Dwi Sartikasari

Akira
Kasih dengarkanlah aku kini hatiku yang berbicara
Resah yang ada di jiwaku ingin kulalui bersamamu
Karena kuyakin cintaku hanya tercipta untukmu
Takkan pernah sirna hingga akhir waktu

Anne keluar dengan tampilan kasual. Mengenakan dress selutut motif bunga-bunga berwarna biru dongker—dengan warna dasar biru muda—berbahan twitscone. Rambutnya digerai melewati bahu. Hitam sedikit kemerahan. Wajahnya tampak natural. Hanya diulas sedikit bedak, eye liner, serta lipgloss tipis. Wedges setinggi 5 senti membalut kakinya yang jenjang.
Aku mengangguk mendengar suara Dita di telepon. Setelah pembicaraan terputus, aku mendekati Anne yang sudah duduk manis di kursi rotan. Wangi aroma buah-buahan menyeruak masuk ke hidungku. Wangi yang membuat pagi ini terasa lebih segar.
“Ini, semoga kamu suka ya.” Aku memasangkan sebuah flower crown di atas kepalanya. Kudekatkan kepala ke keningnya dan kucium kening gadis itu sambil mengelus poninya. Lalu aku berjalan mendekati kursi di hadapannya dan duduk dengan nyaman.
“Makasih,” Anne tersenyum manis.
“Kamu cantik pakai itu, Anne. Berasa remaja lagi.” Aku tersenyum.
Anne memukul lenganku tiba-tiba. “Enak aja! Aku kan memang masih muda kayak remaja.” Lalu aku menertawakan ekspresinya jika sedang ngambek.
Hmm, Anne, maaf. Kayaknya kita nggak jadi jalan deh. Dita butuh bantuan aku. Di kantor ada masalah sama staff.” Aku merasa benar-benar bersalah dengan kalimat yang sudah kulontarkan pada Anne. Rasanya kalimat itu merusak kebahagiaan kami saat ini. Tapi, aku tidak punya pilihan lain.
“Dita lagi?” tanya Anne.
Aku merasa dadaku terhantam keras dengan pertanyaannya. Aku tahu sejak seminggu lalu hubungan kami jadi merenggang gara-gara salah paham. Dan Dita yang menjadi sumber kesalahpahaman hubungan kami. Sekarang, aku lagi-lagi membatalkan janji karena Dita membutuhkanku.
Anne menatapku dengan raut wajah yang tidak kumengerti maksudnya. Entah dia baik-baik saja, dia marah, atau bahkan sudah sangat marah.
“Sebegitu pentingnya, ya?” gadis itu menatapku santai tanpa ada penekanan apapun dalam kalimatnya. Membuatku semakin tidak bisa menebak perasaan yang dialaminya.
“Dita bilang sih penting banget. Aku minta maaf, Anne.” Kugenggam kedua lengan Anne yang sedang bersarang di atas meja.
“Ya udah kalau dia lebih penting. Nggak papa, balik ke kantor aja. Kita bisa jalan lain waktu.” Anne tersenyum dan melepaskan genggaman tanganku.
“Anne, maafin aku. Aku nggak tahu kalau Dita bakal tiba-tiba telepon aku.”
“Iya dia kan emang selalu ngenganggu waktu kita ya,” ujarnya tenang.
“Kamu kok ngomongnya gitu?”
“Ya udah gih ke kantor sekarang aja. Katanya Dita butuh bantuan kamu.” Dia tidak menghiraukan pertanyaanku.
Aku terdiam mencerna makna dari kalimat yang diucapkannya. Apa ada makna tersirat yang dia sisipkan di balik kalimatnya? Kenapa gadis ini selalu penuh dengan tanda tanya, sih?
“Ya udah ya aku mau tidur aja.” Anne bangkit dari duduknya hendak masuk ke rumah. Tapi aku buru-buru mencegahnya agar tidak pergi dulu.
Apa?” tanyanya dengan... ya ampun. Muka dia memerah. Matanya sudah berkaca-kaca. Bisa kulihat bulir bening itu sudah menumpuk siap untuk terjun bebas melewati pipinya.
Kamu nangis?”
“Udah deh Kir. Katanya mau ke kantor. Aku mau tidur!”
“Bisa nggak sih apa-apa nggak nangis?” tiba-tiba emosiku terpancing. Nada bicaraku meninggi.
Anne menegang di tempatnya. Dia menatapku sejenak, lalu menepis lenganku dengan kasar. “Asal kamu tahu, ya! Aku juga nggak mau jadi gadis cengeng. Aku capek jadi orang yang apa-apa cuma bisa nangis. Tapi kamu juga harus tahu kalau nahan tangis itu lebih perih dari apapun!” dia menghentikan kalimatnya sejenak dengan bahu yang naik turun.
“Aku tahu kamu sibuk, Kir. Aku tahu kerjaan kamu lebih banyak. Posisi kamu memang di atasku. Tapi, aku cuma minta waktu kamu saat weekend aja, nggak bisa? Aku cuma minta weekend kamu khusus buat aku. Nggak perlu dua hari kok. Sehari aja udah lebih dari cukup. Nggak kenyang ya ketemu Dita lima hari? Harus ya dia ngerusak jadwal kita saat weekend?”
Kini giliranku yang tidak mampu berkata-kata. Lidahku seperti terkunci rapat dan tidak mampu bergerak. Tenggorokanku tercekat.
“Wajar kalau aku cemburu sama dia. Bahkan, saat hari yang seharusnya kamu luangin buat aku pun, dia ngerebutnya. Enak banget ya jadi dia.” Anne tersenyum getir. Tidak kulihat air mata yang tadi sudah menumpuk, menetes. Entah ke mana perginya cairan kristal bening itu.
“Maaf kalau aku mulai ragu sama perasaan kamu.”
“Lagi-lagi kan kayak anak kecil. Cuma masalah gini doang, Anne. Please dong dewasa dikit. Ngertiin aku. Aku sibuk, aku deket sama Dita, aku nggak punya waktu buat kamu, bukan berarti aku nggak sayang sama kamu. Kamu selalu curiga yang macem-macem sampai ragu sama perasaanku?”
“Aku nggak pengin debat, Kir. Capek. Aku juga capek buat nahan tangis dan capek dikatain kayak anak kecil terus. Saat aku nggak bertingkah kayak anak kecil, kamu nggak pernah bilang kan aku dewasa?”
“Terus, mau ngerembet ke mana lagi masalahnya?” aku menatapnya tajam. Tapi Anne malah membuang muka. Dia nyaris melangkahkan kakinya untuk masuk. Lagi-lagi aku berusaha menahannya.
“Apa lagi sih Kir?”
“Kamu kalau mau marah, sini marah sama aku. Bentak aku. Keluarin semua kekesalan kamu!”
Air mata gadis itu mulai menetes. Aku melihatnya menangis. Dia menangis tepat di hadapanku dengan lengan yang masih kugenggam. Ingin segera kupeluk tubuh mungil itu. Tapi seperti ada sesuatu yang menghalangi. Dia seperti berusaha untuk menghindariku.
“Kamu udah tahu aku cemburu. Kamu udah tahu aku nggak bisa nahan tangis. Tapi kamu selalu tanya aku kenapa? Harusnya aku yang tanya kamu kenapa? Kamu jangan-jangan lupa sama sifat aku saking keseringan sama Dita, ya?”
“Anne!” refleks, aku membentaknya. Gadis itu menatapku dengan mata terbelalak dan bibir bergetar. Aku tahu dia ketakutan. Aku tahu dia terkejut dengan bentakanku. Tiba-tiba rasa menyesal mulai menyerangku. “Anne,” suaraku melemah. Aku menariknya tapi dia menghindar.
“Lepas!” Anne menepis genggamanku di lengannya. “Ini pertama kalinya kamu ngebentak aku. Dan, semua bersumber dari Dita,” dia menghela napas sejenak. “Aku bener-bener nggak ngerti lagi di mana makna sayang yang kamu bilang. Thanks, Kir.” Anne berlalu.
Tubuhku kaku tidak dapat bergerak. Rasa bersalah lagi-lagi menghinggapiku. Memelukku erat dan membuat sesak. Anne, maaf.
***



Anne
Aku berlari masuk ke kamar. Kujatuhku tubuhku dengan kasar ke tempat tidur. Pikiranku saat ini hanya memutar satu nama saja. Akira. Laki-laki itu membentakku hanya karena... Dita? Apa dia tidak sadar kalau Dita menyukainya? Aku bisa melihat cara Dita menatap Akira. Aku tahu gadis itu menyukai Akira. Dia sering sengaja pura-pura lewat di hadapan kami saat jam makan siang agar bisa ikut makan siang bersama. Dan, dia yang pura-pura kelelahan saat aku tidak masuk kantor agar bisa diantar pulang Akira. Awalnya aku memang tidak sadar, atau tepatnya mencoba untuk menepis pikiran buruk itu. Tapi Ergi yang memperhatikan tingkah Dita, lalu mulai menyadarkanku.
Air mata terus merembes keluar. Sudah lebih dari lima belas menit aku di dalam kamar mengurung diri. Tapi air mata ini masih enggan untuk berhenti, seakan dia memiliki cadangan sangat banyak.
Aku masih teringat Akira. Bagaimana jika dia memutuskan untuk pergi meninggalkanku? Lalu Dita mengetahui hubungan kami berakhir dan dia dengan cepat merebut hati Akira? Dan aku tentu tidak akan sanggup lagi bekerja di sana. Melihat Dita dan Akira bersama-sama. Tidak!
Aku semakin menangis membayangkan hal buruk itu terjadi. Aku tidak ingin kehilangan Akira. Tapi aku kesal. Kenapa dia lebih memilih membantu Dita ketimbang menemaniku? Sudah banyak janji yang batal gara-gara urusan kantornya. Haruskah kali ini dia mengulangnya lagi?
Suara pintu terdengar diketuk. Aku segera menghapus air mata dengan kasar. Wajahku sudah tidak jelas rupanya. Terlebih dengan mata. “Bentar.” Aku berjalan menghampiri pintu dan kuputar handle pintu.
Akira.
“Ada apa?”
“Aku minta maaf, Anne.”
“Hatiku masih berantakan, Kir.”

Sejujurnya ingin kukatakan saja
Dari hati ini kumencintaimu
Kuharapkan kau mengerti
Dan percayakan hatimu
Semuanya kini terserah padamu

“Aku tahu aku egois. Aku banyak ngeluangin waktu untuk kerjaan tanpa sadar kalau kamu pun butuh aku. Aku juga menanggapi Dita biasa-biasa aja tanpa tahu kamu cemburu berlebih sama dia. Nggak tahu deh, barusan Ergi telepon dan ceritain semuanya tentang Dita. Aku baru sadar ternyata dia suka sama aku. Aku juga baru sadar ternyata dia berusaha cari perhatian aku.” Akira menghentikan kalimatnya sejenak.
“Aku bukan nggak peka sama kamu aja, kan? Bahkan sama Dita yang menurut Ergi kelihatan jelas cari perhatian aku, aku tetep nggak sadar. Ini emang sifatku, Anne. Tapi bukan berarti aku nggak sayang kamu. Tanpa perlu aku bilang pun, kamu bisa lihat usahaku selama ini buat bikin kamu bahagia. Tapi untuk ngeyakinin perasaan kamu, kamu harus tau. Aku sayang kamu, Anne. Bahkan, lebih dari itu. Perasaanku lebih dari sayang sampai aku nggak bisa mendeskripsikannya sendiri.”
Aku seketika terbius dengan kalimatnya. Tidak, sorot matanya pun menyiratkan keseriusan.
“Aku berharap kamu mau maafin aku. Kamu mau bertahan sama aku meskipun di depan masih banyak hal yang mungkin sulit kita hadapi. Tapi semuanya terserah kamu. Yang jelas aku udah jujur akan perasaanku. Kalau memang kamu masih nggak percaya, it’s up to you.” Akira membalikkan tubuhnya dan mulai melangkahkan kaki.
Anne, tahan Akira pergi. Anne, jangan biarin Akira ninggalin kamu. Anne, tahan langkah Akira. Hatiku menjerit untuk menahan langkah Akira. Tapi rasanya lidah ini kelu tidak dapat berkata. Aku masih melihatnya berjalan mendekati anak tangga.
“Akira.” Akhirnya aku berlari menyusul dan langsung memeluknya dari belakang. Kujatuhkan kepalaku di pundaknya dan air mata kembali menetes.
“Anne,” Akira berusaha melepaskan pelukanku.
“Jangan pergi.” Aku mempererat pelukan di perut Akira.
“Siapa yang pergi?” lagi-lagi Akira berusaha melepaskan pelukanku.
“Aku sayang kamu, Kir. Maaf atas sikapku belakangan ini. Aku cuma nggak suka kamu deket-deket sama Dita. Aku tahu Dita suka sama kamu. Maaf juga atas tingkahku yang sampai saat ini masih childish. Aku nggak bisa menghilangkan. Tapi aku akan coba untuk meminimalisir.”
“Iya aku akan menghargai usaha kamu, Anne. Tapi ini pelukannya dilepas ya, kekencengan. Perutku sakit.” Kali ini Akira berhasil melepaskan pelukanku. Ia langsung membalikkan tubuhnya menghadapku.
“Ih!” seruku dengan ekspresi kesal. Suasana romantis begini jadi rusak gara-gara ucapannya.
“Sifat childish kamu nggak akan pernah hilang kayaknya,” laki-laki itu mengelus kepalaku lembut. “Tapi selama kamu bisa membagi saat childish dan dewasa, nggak masalah. Aku juga baru sadar kenapa kamu begitu cengeng. Karena aku diciptakan buat menguatkan kamu. Kalau kamu bahagia terus, usahaku buat bikin kamu bahagia itu flat aja nggak bermakna.”
“Pede banget.” Aku mencubit lengannya dan dia meringis.
“Anne, tolong percaya sama aku ya. Kita bisa terus bertahan salah satunya karena saling percaya. Percaya aku nggak akan macem-macem. Percaya juga hati aku akan terus bertahan sama kamu. Aku usahakan.”
Aku mengangguk.

Akira
Aku merasa lega akhirnya masalahku dengan Anne bisa selesai. Meskipun aku tahu masih banyak masalah di depan nanti, tapi setidaknya untuk saat ini, kami bisa melewatinya.
Kami terdiam untuk beberapa saat setelah Anne mengangguk atas ucapanku. Kucondongkan tubuh mendekati Anne dan mengecup kening gadis itu.
Semoga kita masih bisa menghadapi masalah-masalah, sekalipun yang lebih berat dari ini, Anne.

Sayang maafkanlah aku
Bila ku tak s’lalu di sisimu
Namun percayalah kasih hatiku hanya untukmu
Tiada yang lain yang menggantikanmu


***
Anne
Anne: Gi, tengs ya. Lo telp Akira di saat yg tepat. Gw udh baikan sm dia :D

Ergi: Ure wlcm. Hrsnya gw ksh tau dia besok2 aja yak biar bisa liat drama kalian dl. Hahaha.

Anne: Serah lo-_-

--------------------------------------------------------------------------------

Alhamdulillah. Selesai sudah utangku ya teman-teman. Ditunggu saran dan kritiknya biar bisa bikin cerita yang lebih baik lagi. Makasih yang udah mau baca dari part-part sebelumnya :)

Pict source: di sini

With love,

16 comments:

  1. Anne cemburuan banget yah, dan sayang si Akiranya nggak peka. tapi akhirnya Akira tau apa yang benar-benar di rasakan oleh Anne.

    menurut kaca mata pembaca yang nggak tau apa2 tentang cerpen, rasanya konfliknya terlalu sederhana dan terlalu cepat selesai. enakan yang konfliknya digantngin gitu tuh, jadi misalnya seolah-olah si Akiranya putus sama Anne, padahal nggak dan cuma yg nulis yang tau. halah gue ngomong apa sih
    malah riquest haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya emang kasian Anne. Udah tau cemburuan, cowoknya nggak peka.

      Aku emang ngambil cerita keseharian aja sih Kak, makanya konfliknya nggak ribet. Sebenernya udah bingung juga mau bikin ending gimana haha.

      Tapi makasih masukannya. Mungkin bisa dipraktekin nanti di cerita yang lain.

      Delete
  2. asyik juga bacanya, ceweknya cemburuan terus sama cowoknya sibuk dengan perkerjaannya sifatnya pengen diperhatiin terus. lanjutkan lagi ceritanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kadang jadi nggak sinkron gitu yaa.

      Kalo cerita ini udah tamat Kak, haha. Mungkin nanti bikin cerita yang lain.

      Delete
  3. gue berasa kayak baca novel yang udah best seller kak. sumpah keren banget cerita nya. kata-kata nya juga bagus banget, bisa bikin terhanyut dalam cerita nya. ending nya juga melegakan banget ya, akhirnya Akira sadar dan hubungannya dengan Anne pun tetap kembali berjalan. kayak nya Anne harus berterimakasih banget tuh sama si Ergi, karena Ergi udah jadi penyelamat buat hubungan mereka berdua hehe.

    lain kali bikin cerpen kayak gini lagi dong kak, jadi ketagihan nih baca cerpen dari kak Dwi wkwk. jujur gue dari dulu emang suka sama cerita-cerita yang romantis kayak beginian hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Reyza jangan berlebihan... Aku masih amatiran banget loh ini huhu.. Tapi makasih ya. Komentar kamu bikin aku tambah semangat buat jadi penulis yang lebih baik lagi.

      Haha masa sih? Boleh-boleh. Coba aja dibuka-buka postingan lama. Ada beberapa cerpen juga kok :D

      Delete
    2. amatiran aja udah keren begini, apalagi ntar kalo udah hebat. hehe semangat terus ya kak. btw naskah novel nya juga semoga bisa cepet jadi novel. amin.
      kalo udah terbit, ntar kasih diskon novel nya ke gue ya kak hehe

      wahh jadi stalker dong wkwk

      Delete
    3. Haha iya iya semangat! Aamiin, doain aja.

      Gampang.. Bikin GA aja biar bisa gratis tis tis.

      Iya stalker yang udah izin ya :|

      Delete
  4. Tulisannya kak Dwi enteng, enak bacanya, enggak bosen, sama kayak orangnya enggak ngebosenin. *aduh ditampar ka rei nih

    Iya, jadi berasa ngalir aja gitu pas baca, saking ngalirnya sampe tadi sempet kepeleset -_- apalagi sudut pandangnya dibikin dua, jadi tahu perasaan masing-masing, berasa kayak orang yang jadi tempat curhat sepasang kekasih gitu.

    Tapi sayang, bener kata bang Topik, konfliknya terlalu sederhana dan agak mudah ketebak aja sih :') overall akuuu sukaaa bangeeet!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enteng kayak kerupuk dong Hud :|
      Haha hayo nanti dia baca loh.

      Makanya kalo baca cerpen aku hati-hati, kepelesetnya jatoh? *lah

      Iya karena itu tadi, aku emang ngambil tema dari kisah keseharian aja. Makanya nggak ribet. Tapi makasih yaa. Nanti diperbaiki lagi buat ke depannya.

      Delete
  5. sumfeh... aku suka ama gaya kalimatnya. efisien dan nggak overload... hhmmm, untuk ceritanya sih, aku nggak begitu suka kalau masalah love2an. tapi cerpen ini cukup sukses membuatku baca sampek habis... keren kok. kak dwi bikin lagi dong... aku pengennya sih yang bernuansa horor...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih ya Dali. Alhamdulillah mau baca sampe akhir. Biasanya nggak dong ya? Haha.

      Aduh horor ya? Mikir-mikir dulu deh. Baca novel horor atau nonton yang genre gitu aja aku mikir berkali-kali. Kalo bikin, lebih mikir berkali-kali lagi nih hehe.

      Delete
    2. aku berani nebak kalau kayak gini... kak dwi takut ya ?

      Delete
    3. Ah nggak kok... Nggak berani aja -_-

      Delete

Komentar gratis, curhat gratis, iklan bayar!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...