[Cerpen] Adera--Bahagia Bersamamu Part II

Saturday, April 12, 2014

Selamat pagiiii. Selamat weekend ya. Oh iya, aku masih punya utang cerita nih. Sebenernya cerita ini harusnya selesai di Maret kemarin. Tapi kan kemarin aku sok sibuk gitu ya, jadi baru kesampean sekarang terusannya. Oke deh tanpa berlama-lama, happy reading! Ditunggu kritik dan masukannya:)
***

Adera: Bahagia Bersamamu II
By Dwi Sartikasari

Aku hendak melontarkan jawaban tapi ponselku berdering lebih dulu. Perhatian kami langsung teralih pada layar ponsel—yang tiba-tiba menyala—yang tergeletak di atas meja. Kuraih ponsel dan kubuka isi pesan masuknya.
Hai, apa kbr? Udh lama nggak ktmu, ya... Aku melebarkan pupil melihat nama si pengirim. Julian. Laki-laki yang sudah meninggalkanku begitu saja demi perempuan lain. Apa maksudnya menghubungiku lagi?
Deg. Aku menatap Akira—yang masih menatapku santai—dan layar ponsel secara bergantian. Hatiku didera keresahan tiba-tiba. Ke mana seharusnya aku melabuhkan hati?
***
Siapa?” tanya Akira setelah melihat ekspresiku yang bingung.
Aku menatapnya sejenak, lalu kembali menatap layar ponselku. Kutekan layar beberapa detik di atas pesan tadi hingga keluar menu-menu pilihan. Kusentuh pilihan delete message, yes. Segera kutaruh ponsel di atas meja.
Nggak penting,” balasku.
“Hmm..., jadi gimana?” tanya Akira dengan raut wajah cemas. 
Yes I want,” jawabku dengan pipi yang langsung memanas. Bahkan sepertinya memerah. Kulihat Akira ikut tersenyum senang atas jawabanku.

Akira
Akhirnya berakhirlah keresahanku. Anne ternyata memiliki perasaan yang sama denganku. Setelah menunggu beberapa saat karena ada sms masuk, dia menjawab pertanyaanku dengan kata yang masih terngiang. Yes I want. Seperti terjun dari gedung berlantai tinggi dan tertahan oleh trampolin di bawahnya. Aku merasa senang dan bebas.

Hatiku hilang di dasar samudra cinta
Kutemukan kembali saat kau menyinari hidupku
Bagiku kaulah yang membuat dunia indah
Mewarnai hari-hariku sempurnalah jiwaku
Bahagia bersamamu

Makasih, Anne. Aku seneng ternyata penantianku nggak sia-sia.”
“Kir?” Anne menatapku ragu.
Kenapa?”
Anne menghela napas sejenak sambil membuang muka. Lalu  dia kembali menatapku. “Aku juga seneng,” senyumnya tersungging lebar membuat perasaan ini membuncah tidak karuan.
***
Anne
“Cie lengket-lengket aja nih kalian,” celetuk Ergi yang tiba-tiba duduk di sampingku. Istirahat makan siang sudah berjalan sejak sepuluh menit lalu. Aku dan Akira memutuskan untuk makan siang di kafe dekat dengan kantor kami.
Lebay kan. Gue jadian sama dia aja udah lama.” Akira menimpali celetukan Ergi. Lelaki itu hanya menyeringai lebar dan menyomot keripik yang tergeletak bebas di meja kami.
“Kalian udah makan?”
“Lagi nunggu makanan dateng. Lo pesen aja. Makan bareng,” ujar Akira santai.
“Nggak ah. Gue nggak mau ganggu yang lagi pacaran. Dah...” Ergi bangkit dari duduknya sambil mencomot—sekali lagi—keripik. Dia lalu berjalan mendekati kursi satu-satu yang berderet bersampingan dengan meja memojok. Biasanya, kursi-kursi itu ditempati oleh orang-orang yang datang sendiri atau jika penuh.
Aku hanya menatap Akira dan laki-laki itu menggeleng sambil tertawa. Aku pun ikut menertawakan tingkah Ergi yang tidak jelas. Kami kembali mengobrol santai sambil menunggu makanan datang.
“Hai kalian,” Dita—partner kerja Akira sekaligus rekan kerjaku juga—menghampiri kami sambil menyapa.
“Hai Dit, sendiri?” tanyaku.
Iya sendiri gue.”
“Gabung aja di sini,” sambar Akira.
“Nggak pa-pa?” Dita menatapku seakan meminta persetujuan.
“Ah, iya nggak pa-pa gabung aja,” jawabku ringan. Tapi rasanya ada sesuatu yang mengganjal di hati. Mungkin, itu hanya perasaanku saja. Aku mengembuskan napas panjang.
***
Cuaca Sabtu kali ini benar-benar cerah. Tapi sayangnya tidak secerah perasaanku. Belakangan ini Akira sedang disibukkan dengan pekerjaannya. Bahkan, semalam pun dia mendadak membatalkan janji denganku untuk hari ini.  Ini adalah kali pertama kami batal pergi karena urusan pekerjaan. Sesibuk itukah?
“Ya udah, kan masih ada gue sama Dion. Lo jangan bete gitu ah,” Luna berusaha menghiburku saat kami sedang makan siang.
“Iya, kami kan bukan patung, Anne.” Dion menimpali kalimat Luna.
Aku menatap mereka bergantian. “Iya makasih ya. Tapi tetep aja gue sebel. Apalagi Dita juga ikutan lembur.”
“Loh, Dita kan emang partner Akira di kantor, ya nggak pa-pa Anne. Lo jangan negative thinking. Nanti malah yang lo pikir macem-macem, kejadian lagi. Nggak mau kan?”
Aku menggeleng cepat. Suasana kembali hening beberapa saat. “Dita udah punya pacar belum sih?”
Kurang tahu gue. Nggak pernah lihat dia dijemput juga sih.”
Aku kembali mendengus panjang. Ribuan bayangan negatif kembali merasuki pikiranku. Bagaimana kalau Akira menyukai Dita? Bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika mereka ternyata memiliki perasaan diam-diam? Bagaimana jika mereka mengalami cinta lokasi? Bagaimana...
“Hei.” Dion mengibaskan telapak tangannya di wajahku, membuyarkan lamunan. “Baru aja Luna bilang, jangan mikir macem-macem.”
“Nggak kok...” jawabku tidak yakin.
***
Aku berjalan menuju ruangan Akira sembari memegang pelipis kanan. Rasanya aku tidak sanggup lagi bekerja hari ini. Aku memutuskan untuk pulang dan pamit pada Akira. Dan jika tidak sibuk, aku ingin dia mengantarku.
Handle pintu sudah kupegang lalu mulai terdorong perlahan. Akira ternyata sedang sibuk di depan layar komputer. Di sebrang mejanya, kulihat Dita sedang menulis. Tapi dia sambil menceritakan sesuatu. Matanya sesekali menoleh pada Akira. Dan lelaki itu pun sesekali memperhatikan. Beberapa detik kemudian, mereka tertawa meskipun tidak saling melihat. Ada sesuatu yang membuatku memutuskan untuk kembali menutup pintu dan pergi.
Segera kututup pintu dan mulai melangkah menjauhi ruangan Akira. Semakin cepat, cepat dan cepat. Mataku memanas. Kepalaku semakin pusing. Hatiku berdebar menahan—sepertinya—rasa cemburu. Atau emosi. Atau kesal. entahlah.
“Loh, katanya mau bareng Akira?” suara Ergi membuat langkahku terhenti.
Dia sibuk. Gue duluan Gi.” Aku kembali melangkahkan kaki tanpa sempat menoleh lagi pada Ergi. Aku takut jika tiba-tiba air mataku menetes di hadapannya.
Tapi Anne...”
***


Okee, semoga ceritanya nyambung dari yang kemaren. Oh iya, ini part sebelumnya. Yang pertama, kedua, dan ketiga.


With love,

You Might Also Like

14 komentar

  1. jadi ini semacam 2 orang pertama yg bergantian? hehe bagus. mungkin cerita berikutnya bisa ditambahin hal hal manisnya, kalo mereka gak putus sih. kayak sesuatu yg dilakukan akira buat anne yg sweet gt hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bang, pov yang bergantian gitu.

      Nah, cerita manisnya udah aku sisipin di awal banyak-banyak hehe. Tapi nanti kalo bisa aku masukin.

      Makasih masukannya ya

      Delete
  2. bagus cerpennya, cerbung deh kayanya ya. harus baca dari awal biar mengerti . jadi terhanyut bacanya. bagaimana diposisi anne yang tentu saja pikirannya jadi kalut dan jadinya berprasangka buruk karna melihat akira yang sebegitu terihat akrabnya dengan dita. ditampah lagi melihat tatapan mata mereka berdua seperti menyiratkan sesuatu. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak kayak pentalogi cerpen gitu hehe.

      Sebenernya terinspirasi dari kisah nyata kok ini. Makanya mencoba buat dihayati juga.

      Delete
  3. brarti ini part 4-nya ya...kurang 1 lagi...gak sabar pengen tau endingnya....
    itu jangan2 akira flirting..jangan2 kejadian yang dulu keulang lagi ke anne...ah pokoknya ditunggu endingnya deh... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini masih bagian dari part 3 mif, soalnya part ini agak panjang jadi dibagi 2 gitu hehe.

      Oke selamat menunggu ya:)

      Delete
  4. Huaaaaa keren dwi.. topcer deh paling jago di suruh bikin beginian bwahaha lanjutan nya di tungguuuu~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih makasihhh, nggak jago juga sih, masih belajar :D
      Oke siap siaapp

      Delete
  5. Ini udah part empat...panjang juga yah cerbungnya... jadi ketinggalan nih... gak ngerti jalan ceritanya krn gak baca dari awal .. hmm... tapi keren dwinya bisa mengembangkan cerita fiksinya ... nama tokohnya juga keren Anne dan Akira...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dibaca aja kak kalo sempet :D

      Iya makasih yaa

      Delete
  6. bagusss cc Dwiii...ini ceritanya nggak kayak sinetrn tapi jadi aku pinin tau yg selanjutnyaaa..hihihi..coba deh ikutan event event lomba yg sering aku post di fb cc..banyak kesempatana dan peluang untuk kamu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku kan bukan penulis skrip sinetron kakmey hahaha..

      Iya tapi kadang temanya yang bikin mentok. Nanti aku coba deh. Makasih infonya kak:)

      Delete
  7. Jadi di Part ini mulai timbul benih2 cemburu yang nyata yaaak..
    Ah Anne jangan pulang sendirian, gue mau kok disuruh nganterin.. biar si Akira sibuk sama Dita gak apa-apa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya gih Bang anterin. Kasian Anne udah jeles abis tuh sama Dita...

      Delete

Komentar gratis, curhat gratis, iklan bayar!

recent posts