Secangkir Cokelat Panas dan Hujan (part 3)

Monday, February 24, 2014

Episode 1: di sini
Episode 2: di sini


Pict source: tumblr



Lagi-lagi, hening mendekap mereka berdua. Tatapan mereka jatuh pada secangkir cokelat dan mereka pun mengambil cangkir itu bersamaan. Sebelum menempelkan ujung cangkir di bibir, mereka sempat saling tatap sejenak. Karena aroma cokelat yang sudah menari-nari mengganggu penciuman mereka, mereka pun langsung menyesap isi cangkir dengan perlahan.
Rainy menutup mata, menikmati sesapan pertama. Rasa pahit dari dark chocolate dan rasa rasa manis dari susu bercampur di dalam mulutnya. Hidungnya masih mengendus wangi dari aroma kayu manis yang ditaburkan sedikit di atas whipped cream. Cokelat panas itu meluncur dengan lancar melalui kerongkongannya. Dan... masih terasa hangat.

Choky menatap Rainy dengan saksama. Dia menikmati saat gadis itu begitu menikmati cokelat panasnya. Wajahnya sungguh natural dan cantik. Hanya ada sedikit polesan bedak dan eye liner. Bibirnya berwarna merah muda tanpa olesan lipgloss, apalagi lipstick. Semua aktivitas Rainy berjalan seperti gerakan lambat dalam pandangannya.
“Choky, ada apa?” tanya Rainy tiba-tiba sambil meletakkan cangkir cokelat panasnya.
Choky mengerjap-ngerjap, sadar bahwa Rainy sudah mengakhiri aktivitasnya. Tiba-tiba, dia berharap gadis itu melakukan sekali lagi adegan meminum-minuman-favoritnya-untuk-sesapan-pertama-kali. Tentu saja, agar Choky bisa melihat wajah natural Rainy saat terpejam.
“Ah, tidak. Kau sungguh menikmatinya, ya,” Choky menyunggingkan senyum salah tingkah.
Rainy tersenyum ringan. “Aku kan sudah bilang. Aku akan memejamkan mata ketika aku menikmati makanan atau minuman favoritku untuk pertama kali. Semacam sudah terbiasa.”
Choky menganggukkan kepalanya. Lalu dia memotong black forest-nya dengan ukuran sedang. Setelah itu, dia memasukkan potongan kue itu ke dalam mulutnya.
“Apa kau percaya tentang sebuah kebetulan?” tanya Rainy tiba-tiba.
Choky menatap Rainy bingung. Setelah kuenya tertelan seluruhnya, dia bertanya, “Memang kenapa?”
“Tidak, aku hanya bertanya.”
Choky terdiam. Ia mengambil cangkir cokelat panasnya, mengendus wanginya sejenak, lalu menyesap isinya perlahan. Rainy menatap Choky kagum. Cara Choky menikmati cokelat panas sungguh unik. Mengendus wanginya terlebih dulu sebelum meminumnya. Rainy menikmati adegan itu. Tanpa sadar, senyumnya terlukis begitu saja.
“Menurutmu?” Choky bertanya balik dan menatap Rainy serius.
“Aku? Tentu aku tidak percaya. Tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Semua kejadian sudah ditakdirkan Sang Pencipta, sebagai sutradara. Dan kita? Kita adalah aktornya yang bermain sesuai keinginan Sang Sutradara, dan tidak kita sadari. Bukankah begitu?”
Choky mengangguk lagi. “Aku sependapat denganmu. Itulah takdir. Lalu, apa kau percaya takdir?”
Rainy terdiam sejenak, memutar bola matanya. “Aku percaya.”
“Aku pun percaya. Dan, pertemuan kita ini adalah salah satu contohnya. Jika saat itu kau tidak mengizinkanku duduk di sini, mungkin kita tidak akan saling mengenal,” Choky menghela napas sejenak. “Tadi, jika hujan masih turun deras, aku tidak akan datang ke sini. Tapi ternyata hujan reda perlahan-lahan. Aku pun langsung bergegas ke tempat ini. Dan lagi-lagi, takdir mempertemukan kita di sini. Padahal, kau sudah memberikan kartu namamu, kan? Tapi nyatanya kartu nama itu hilang. Dan mungkin takdir pertemuan kedua kita harus seperti ini,” lanjutnya.
Rainy tersenyum. Otaknya kembali memutar memori saat pertama kali ia bertemu dengan Choky. Benar juga. Jika ia tidak mengizinkan laki-laki di hadapannya duduk, mungkin mereka baru akan kenal saat ini. Mungkin ia tidak akan bercerita tentang kesukaannya pada hujan saat itu. Mungkin mereka tidak akan saling bercerita tentang analogi cokelat panas dan cinta. Mungkin tidak akan ada tawa yang berderai dan senyum yang tersungging saat itu.
“Terima kasih,” ujar Choky.
“Untuk?”
“Untuk mengizinkanku mengenalimu. Aku pun sangat berterima kasih karena takdir Allah bisa kembali mempertemukan kita di sini.”
Rainy terdiam. Kali ini, bukan hanya wajahnya yang terasa menghangat. Tapi hatinya pun begitu. Cara berbicara Choky, perlakuannya, dan sorot matanya benar-benar membuatnya nyaman.
“Aku pun berterima kasih karena kau mau datang ke tempat ini,” Rainy menatap Choky serius.
“Takdir yang membawa langkah kakiku ke sini.”
Rainy tertawa ringan. Mau tak mau, Choky pun ikut tertawa melihat mata Rainy yang hanya membentuk sebuah garis ketika tertawa.
“Hei, kenapa kau juga tertawa?”
“Kau lucu saat tertawa. Matamu tertutup, Rainy,” Choky masih terkekeh.
“Ini juga takdir, tahu!” Rainy menatap Choky sambil sedikit mengernyitkan dahinya.
“Iya, tak apa. Aku jadi bisa tiba-tiba pergi saat kau tertawa. Dan orang yang melihatmu akan berpikir aneh-aneh tentangmu yang sedang tertawa sendirian.” Choky tergelak dengan kalimatnya membuat Rainy sedikit kesal, murung, tapi juga ingin tertawa.
“Baiklah jika kau ingin meninggalkanku...” Rainy mendesah berat. Lalu dia mengambil cangkirnya dan menyesap cokelat panasnya dengan gelisah.
“Eh, bukan begitu. Maaf, aku hanya bercanda. Aku tentu takkan meninggalkanmu, Rainy. Aku takkan membiarkanmu menikmati cokelat panas ini sendirian lagi.”
Hati Rainy kembali terasa hangat. Bukan karena cokelat panas, tapi karena ucapan Choky dan sorot matanya yang serius. Ada makna tersirat di balik bola mata cokelat terang lelaki itu.
“Terima kasih,” Rainy menyunggingkan senyum tulus.
Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Lalu, Rainy kembali mengambil cangkir cokelat panasnya dan menyesap isinya. Sementara Choky memilih memakan potongan black forest-nya yang masih tersisa sepotong lagi.
“Rainy, bolehkah aku mengantarmu pulang?”
“Sekarang?”
“Iya, kau tentu tidak membawa mobil ataupun motor, kan?”
“Tidak. Aku diantar Ayah tadi ke kantor.”
“Berarti, kau mengizinkanku untuk mengantarmu pulang, kan?”
“Tapi aku merepotkanmu, Choky.”
Choky menggeleng cepat. “Jika kau merepotkanku, tentu aku tidak akan menawarkan ini padamu.”
Rainy mengangguk sambil tersenyum menatap Choky. “Baiklah,” jawabnya yakin.
“Aku ingin berkenalan dengan orang tuamu,” Choky menatap Rainy serius. Dua detik setelahnya, senyum bahagia sama-sama tersungging di bibir kedua manusia itu.

***

Sekali lagi, hari ini, aku dibuktikan sesuatu dari kekuatan tangan Tuhan.

Tentang takdir dan garis hidup makhluk-Nya.

Takdir yang kembali mempertemukanku dengannya dan mengeratkan hubungan kami.

Kisah ini sungguh sederhana.

Hanya berawal dari secangkir cokelat panas dan hujan.

Diakhiri cinta...





With love,
--------------------------------------------------Note: Cerita ini dipersembahkan buat kalian yang udah menantikan kelanjutan cerita pertama. Mungkin jauh dari kata bagus, tapi semoga kalian bisa menikmatinya. Selamat menikmati cinta! Ditemani secangkir cokelat panas dan hujan :)

You Might Also Like

24 komentar

  1. cerita ini ilustrasi dari kisahmu ya?
    aku blg ilustrasi lho, bukan pure nyata.

    oh jd endingnya mreka sama2 saling suka.
    good lah.
    rodeonya hanya sbg 'figuran' aja rupanya.

    aku udah baca all out ya.
    bagus penggambarannya dan pemilihan kata2nya shgga bs bkin pembaca membayangkan suasananya.
    saranku, konfliknya diperkaya ya, apalagi kan ceritanya panjaanggg sampe 3 part :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak hehe. Iya dia figuran aja, emang niatnya cuma fokus sama mereka berdua kok.

      Makasih kak ina, makasih juga sarannya:) tadinya emang mau bikin konflik, tapi takut tambah panjang. takut yang baca bosen :D

      Delete
  2. Keren Dwi keren! Kenapa nggak kamu buat novel aja? Cara penyampaian pesan dan imajinasi melalui kata-katanya sempurna banget. Aku bahkan bisa ikut ngerasain bahagia dalam cerita.

    Aku setuju tentang takdir yang kamu tuangkan dalam cerita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiihh kak. InsyaAllah doain aja, aku emang lagi proses buat novel kedua. Yang pertama lagi nunggu kepastian penerbit hehe doain aja ya

      Iya syukurlah.

      Delete
  3. Rainy lagi so sweet nih...
    Sampai berapa episode nih dik? Hehe..
    Keren..tulisannya kayak novel. Bukan seorang blogger, tapu seperti tulisan orang novelis..
    Aku ngga tahu, bagaimana sih adik bisa menyerap kata-kata dari novel yang mungkin telah dibaca.
    Dua jempol untukmu dik...kakak jadi malu kalau ngeposting hal yang tenteng dunia penulisan genre fiktif. Kalau dipaksain, kakak malah tulisannya menjemukan dan hambar rasanya..

    nice post..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih kak agha..
      Udah sih sampe sini aja, soalnya takut bosen haha

      Amin amin. Doain aja ya kak. Sama-sama belajar aja ini juga.

      Delete
    2. Cie..
      Iya adik.. sama-sama.. semangat!
      Pesan cerpen motivasi dong!! *kalau boleh..

      Delete
    3. Motivasi ya? Aduh agak susah sih, tapi nanti dicoba ya :D

      Semangat!

      Delete
  4. ceileeeee... si Choky mau kenalan sama ortunya Rainy :)
    Endingnya gak ketebak nih, bagus
    kemarin aku baca yg part 2, skg part 3, ada berapa part lagi???
    ajarin aku nulis yg beginian donk Dwi :)

    oya memang tidak ada yg kebetulan di dunia ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. awalnya aku bingung
      part 2 kan namanya Kevin kok part 3 ganti choky??
      uhmmmmm untung kamu jelasin hehe

      Delete
    2. Makasih kak mei :)

      Udah kok ini terakhir kak, endingnya ya kalo choky mau kenalan sama ortunya mungkin bisa ditafsirkan masing-masing hehe ayo kak sharing2an. Seru deh pasti.

      Iya bener banget. Aku juga lupa itu postingnya udah lama yang part pertamanya :D

      Delete
    3. berarti endingnya tergantung sama pembaca ini ya? keren

      oke2 hahhaa

      Delete
    4. Iya kak mei, ceritanya udah mengarah happy ending sbnrnya, tapi kalo pembaca mikir di jalan ketemu mantan choky dan choky jadi galau, itu bisa sad ending haha

      Delete
  5. Uwaaah...romantisnya, itu kisah cinta kelas berat. Gue seumur2 belum pernah ada di situasi kayak gitu. Ini ada lanjutannya gak??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uwaaa makasih. Emang cinta ada kelas ringan ya? Kok berasa tinju sih-_- ya ampun kasian... Semoga suatu saat mengalami yaa. Amiiiinnn

      Ini udah last part :D

      Delete
    2. Bikin buku aja gih, biar ada kelanjutannya lagi :D

      Delete
    3. Cerita yang ini? Amiin doain aja nanti dipertimbangkan yaa

      Delete
  6. cc, kamu bakat bikin nove romance dehh, dari kata katamu aja aku bisa membangun imajinasiku sendiri loh...keren bingitttt!! :D ahh, coklat..jadi pingin minum coklat di cafe gitu, sapa tau bisa samaan kisahnya, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiinn, sebenernya masih jauh banget dari bagus kak, ini masih berproses. Masih banyak belajar juga. Tapi makasih ya buat semangatnya:)

      Haha silakan dicoba kak. Good luck! Kabarin kalo beneran kejadian yaa :D

      Delete
  7. wah keren nih keren, bagus banget mulai dari cerita, pemilihan kata dan layout bagus. bakat jadi penulis novel. Ngiri nih pengen bisa nulis novel juga..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiinn, makasih kak. Baru bakat, belum ahli haha

      Ayo ayo nulis! Nulis aja dulu dari genre yang disukai. Itu buat mempermudah feelnya.

      Delete
  8. Kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen, kak.
    Ending nya itu bikin aku wah banget.
    Berasa jadi Rainy.

    Tapi gak keren deh garagara ini last part :/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh itu panjang banget huruf e-nya haha. Makasih banyak ya caecilia :)

      Doain aja semoga ada cerita lainnya yang lebih baik yaa

      Delete
  9. keren. gaul. dan kapan cerita ini bisa gue alami di kehidupan nyata gue _ _".....
    smua cerita, yang berbau coklat, kafe, menurut gue adalah hal yang mnerik. keren nih ceritanya.
    tapi, knpa cwonya namanya choky sih? itu kayak makanan aje _ _". kenapa ga ahmad. atau fauzi. kan lbih keren tuh.
    lain kali make nama gue yak, biar bsa kebawa d khidupan nyata. amin. hahaha

    ReplyDelete

Komentar gratis, curhat gratis, iklan bayar!

recent posts