Friday, 28 February 2014

Mendekap Rindu





Aku duduk di depan meja belajarku yang menghadap jendela. Jendela itu sengaja kubuka sedikit. Meskipun udara malam terasa begitu dingin sampai bulu kudukku berdiri dan membuat tanganku merinding, tapi aku membiarkannya tetap terbuka. Aku suka menghirup udara malam yang dingin. Apalagi dengan keadaanku yang tidak cukup baik seperti malam ini. Aku merasa beban dan sedihku sedikit hilang terbawa oleh angin. Meskipun sebenarnya, beban itu masih bersarang di hati.

Sudah setengah jam yang lalu aku duduk melamun. Menatap hamparan langit gelap sisa mendung tadi sore. Bahkan, lagi-lagi, air mataku tiba-tiba menetes begitu saja. Dan diary di hadapanku pun masih belum kubuka. Bolpoin di sampingnya belum kusentuh sedikit pun. Aku takut jika pada akhirnya air mataku menetes lebih banyak lagi. Aku takut mengingatnya.

Lima menit berlalu tapi aku belum melakukan apa pun. Tangisku sudah reda beberapa saat yang lalu. Lalu, aku memutuskan untuk mulai menulis, menceritakan kisahku hari ini pada diary. Aku mengambil diary di hadapanku dan membuka lembar per lembar. Sejak seminggu lalu, tulisan dalam diary-ku bertema sama, rindu. Dan sepertinya, malam ini pun aku akan menuliskan hal yang sama. Tema yang serupa.

Aku mengambil bolpoin sembari menghela napas panjang. Kutenangkan pikiran dan aku pun mulai menulis kata sapaan seperti biasa. Dear, Diary. Aku mulai menuliskan kata demi kata hingga akhirnya terbentuklah sebuah paragraf.

Hari ini rasanya masih sama. Pahit. Aku masih merindukannya. Sangat merindukannya. Tapi apa yang bisa kulakukan saat ini? Aku tidak bisa melakukan apa pun selain melihat foto-foto kami berdua, atau sesekali aku mendengarkan lagu kenangan kami. Diary, aku masih belum sanggup untuk mengatakan kerinduanku padanya. Aku tak ingin menjadi beban untuknya di sana.

Air mataku mulai menetes lagi. Aku segera menarik selembar tisu dari tempatnya yang tidak begitu jauh dariku. Aku langsung menyusut air mataku sendiri. Kenapa menahan rindu rasanya begitu sakit? Setelah itu, aku kembali melanjutkan tulisanku.

Oh iya, Diary. Hari ini aku sengaja pergi keluar sendirian. Aku mengunjungi sebuah tempat yang sering kami kunjungi dulu. Aku merasa de javu. Suasana itu, orang-orang itu, semuanya terasa masih sama seperti dulu. Hanya saja, sekarang dia sedang tidak menemaniku. Padahal, tempat itu selalu menjadi saksi bahwa aku sering tertawa dengannya di sana. Aku sering menghabiskan waktuku dengannya di sana.

Lagi-lagi aku terhenti dari aktivitasku. Aku berusaha menahan tangis. Namun ternyata sia-sia. Kupejamkan mataku dan mengalirlah cairan kristal bening yang kutahan-tahan. Hatiku berdesir menahan perih. Mengapa akhir-akhir ini aku terlihat lebih cengeng? Mengapa merindukan seseorang yang kusayangi membuatku jadi bermental lemah dan mudah rapuh seperti ini?

Diary, apa kau tahu rasanya merindukan seseorang yang sangat disayangi tapi dia tidak tahu bahwa dia sedang dirindukan? Lantas, apa dia di sana merindukanku juga? Dulu dia berjanji akan pulang satu bulan sekali. Tapi, sudah lebih dua minggu dari satu bulan, dia belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Apa aku egois jika meminta dia segera pulang dan menemuiku? Aku hanya ingin dia tahu bahwa aku merindukannya. Aku hanya ingin dia merasakan rindu yang sama dan segera pulang menemuiku. Aku ingin bertemu denganya. Aku tahu, sungguh tahu. Perempuan sangat berbeda dengan laki-laki. Laki-laki bisa menahan rindunya, tidak seperti perempuan. Mungkin, itu yang dia rasakan. Dia bisa menahan rindu untukku padahal aku sudah sering menangisinya karena sangat merindukannya.

Aku menghentikan aktivitasku ketika HP-ku bergetar. Aku mendapat chat darinya dan segera kubuka dengan kondisi mata yang menyipit. Bahkan sesekali air mataku masih menetes.

Hai, gimana rasanya hari ini? Apa kamu masih baik-baik aja? Aku masih belum bisa pulang.

Segera kuhapus air mata yang tersisa di pelupuk mataku. Tidak. Aku tidak boleh menangis lagi. Aku pasti kuat. Segera kusentuh layar di ponselku untuk mengetikkan sesuatu padanya.

Seperti biasa, buatku rasa hari ini masih sama manis seperti kemarin. Aku tentu baik-baik aja. Nggak pa-pa. Kamu jangan khawatir, aku udah mandiri :)

Syukurlah kalau gitu. Seenggaknya aku cukup tenang denger kabar orang kesayanganku baik-baik aja :)

Alih-alih membalas chatnya, aku langsung melempar ponselku ke atas tempat tidur di sebelah. Rasa kesal, emosi, dan sedih bercampur jadi satu. Kenapa dia dengan bodohnya percaya begitu saja dengan chat itu? Kenapa dia tidak bisa merasakan bahwa sebenarnya hatiku perih menahan rindu sendirian?

Aku menutup diary dan kuletakkan di laci meja sebelah kanan. Dan entah untuk keberapakalinya, air mataku menetes lagi.

Maaf jika aku cengeng. Tapi jika sudah menyangkut hati dan perasaan, air mataku memang terlalu mudah untuk menetes. Terlebih jika kamu adalah alasan di baliknya.


#np Pasto - Aku Pasti Kembali


With love,

20 comments:

  1. ini LDR atau giman sih?
    bagus tulisan kamu Dwi, kamu memang pandai merangkai kata tsaaaaah
    "Slahkah bila diriku terlalu mencintaimu, jangan tanyakan mengapa karena ku tak tahuuuuu... nyanyi dulu akh hehehee
    Lagunya pasto emang pas buat nemenin kamu :)
    kalau merindukan seseorang bilang saja rindu, jangan gengsi, soalnya ini masalah hati
    perasaan emng ga bisa bohong :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ceritanya ldr karena cowoknya ditugaskan kerja ke tempat yg beda kak. Amiin, makasih :)

      Haha itu cuma cerita kak, bukan kisahku kok. Tapi iya kalo kangen emang harusnya bilang. Daripada galau sendiri ujung-ujungnya makan hati._.

      Delete
  2. Bener banget tuh apa kata kak Mei.. kamu itu pintar banget ngerangkai kata.. mengkonstruksi kata menjadi enak dibaca.. keren!!

    Ya, begitulah bila seseorang berbicara hati. Sulit ditebak, dan sulit disembuhkan..
    Yang penting, dwi yang sabar.... karena kesabranlah yang akan membantumu.. *kalau itu cerita nyata kau alami.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, makasih kak agha. Tapi masih gak sebagus penulis-penulis yang jam nulisnya udh banyak.

      Haha bukan kok, ini hanya fiktif belaka._.

      Delete
  3. Hy dwi sepertinya ini kunjungan pertama saya ke blog kamu... tampilannya unyu2 gitu...saya suka saya suka...oh ia, ngebaca tulisan kamu, mengingatkan aku sm ssorang yg jarak2 berkilokilometer jauhnya dari saya... kbetulan sy jg jalanin hubngan jarak jauh kyk cerita mu itu.. dan semoga aku dan dia ttp kuat ngejalaninnya. nah loh curhat !!

    oke Dwik salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah selamat datang ya. Makasih makasih *bungkukin badan*.

      Hmm.. semangat! LDR emang nggak gampang, tapi bukan berarti gak bisa dilalui. Banyak sih yg gagal, tapi nggak sedikit juga yg berhasil.

      Iya kak fadli, salam kenal juga..

      Delete
  4. LDR emang gitu, suka kangen sendiri, padahal yg dikangenin belum tentu kangen juga *ehh
    Ya cowok emang gitu kok mbak, kalo kita bilang baik2 aja ya pasti dia percaya, mereka kan kurang peka *pengalaman*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya harus bilang sih ya. Meskipun berharap sebenernya mereka peka, tapi susah-__-

      Delete
  5. Kalau LDR an emang suka sering dilanda rindu..tsaah..
    kalau saling cinta, pasti keduanya saling rindu..buka rindu sendiri..hehe
    *sok tau banget deh*

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sih pasti, tapi cowoknya tuh nggak peka kadang sampe bikin uring-uringan ceweknya :| *ini kok malah sesi curhat*

      Delete
  6. ohhh jadi kisanya dia rindu pada kekasihnya yg jauh.
    LDR gitu.
    emang berat menahan rindu yang kayak gini.
    soalnya aku juga mengalami.
    endingnya bagus, pke ilustrasi lagu pasto-aku pasti kembali....

    eh dia menceritakannya nulis di diary, buku atau diary dlm bentuk blog tuh :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak ldran gitu ceritanya.

      Nah bener kaann.. emang nahan rindu sendirian itu susah. Makasih makasih kak ina:)

      Itu pake buku diary, kan diceritain nulis pake bolpoin:)

      Delete
  7. Dan lagi lagi aku ikut terbawa dalam suasana tulisan ini.
    Ini real ya wi?
    Keren banget penyampaian nya.
    Jadi ikutan ngerasa miris gitu.
    Hiks.

    Cowok emang gak peka deh.
    Gak pernah tau gimana wanita.
    Tapi belom tentu juga sih.
    Siapa tau dia ngejawab gitu sambil mewek juga nahan kangen.
    Ye kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih makasiihh:)
      Nggak kok itu fiktif juga, emang keliatan real ya? Haha

      Kayaknya kamu pengalaman ya cil? *eh
      Iya sih, bisa aja. Tapi kalo di sini kan k=aku ngambil pov 1 yang jadi ceweknya :)

      Delete
  8. Bagus kaak tulisannya, puitis tapi ga terlalu berlebihan:) Kalo ada waktu main-main ke blog saya yaaa:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah wah makasih yaa, hendri. Oke nanti aku mampir :D

      Delete
  9. Itu fiksi kan? Ya, yakin saja dia bakal kembali. Toh rindu enggak harus juga diungkapkan. Bisa saja tu tokoh meminta kabar dan menjaga kesehatan selama jauh. Itu saya rasa sudah menunjukkan kita perhatian dan rindu sama dia.

    Okesip. Tinggal paragraf terakhir tuh. Kalau di atas yang ditulis miring kan curhatnya di diari. Kalau yang akhir karena diari sudah ditutup, sebaiknya ditulisnya biasa saja, enggak harus miring ngetiknya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak itu cuma fiksi kok. Bener, kalo ldr mungkin sering ngasih perhatian lewat itu aja. Kan ketemunya susah.

      Oke kak biar jatohnya nggak kayak nulis diary lagi ya?

      Delete
  10. widih, galau maksimal ya cc..but I know what u feel then..missing someone and cannot say it is something so terrible....hehehe..ini beneran yah bukan cerpen or cerpen dari curhatan. hehehe tapi bagussss cc...kamu memang pintar mengolah kata dan merangkainyaaaa... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya kak sedih banget emang:(
      Tapi itu bukan curhatan kok. Itu cerpen dan menyisipkan kisah temen :D

      Makasih kak meeyy:) tapi harus terus belajar lagi sih ya

      Delete

Komentar gratis, curhat gratis, iklan bayar!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...