Tuesday, 21 January 2014

Secangkir Cokelat Panas dan Hujan

pict source: tumblr


Hujan sudah turun dengan deras.

Marilah duduk sejenak dan nikmatilah secangkir cokelat panas.

Rasa pahit yang muncul dari bubuk kakao ini tentu akan membuatmu candu.

Pun rasa manis yang berasal dari susu bisa membuatmu berpikir bahwa cokelat panas itu seperti cinta.

Tidak lupa, aroma kayu manisnya akan menyempurnakan seluruh rasa dalam secangkir cokelat panas yang disajikan.

Di balik rasa pahit yang kuat, akan ada rasa manis yang menyeimbangkan. Juga rasa lain yang membuat cinta terasa begitu sempurna untuk dinikmati.

Mari kita bicarakan cinta sejenak.

Sambil menikmati secangkir cokelat panas ditemani hujan.


***

Langkah gadis itu dibuka lebar-lebar. Hujan baru saja turun tidak begitu deras. Tapi gadis itu tidak membawa payung sehingga memaksanya untuk segera tiba di kafe tujuannya.  Rambut panjang gadis itu sedikit basah karena terkena tetesan rintik hujan. Syal yang melingkar di lehernya ikut bergoyang seiring langkah kakinya yang masih dibuka lebar-lebar setengah berlari.
Hap.
Akhirnya dia berhasil menaiki tangga terakhir dari tiga anak tangga menuju pintu kafe. Sebelum memasuki kafe, dia mengibaskan rambutnya dengan tangannya. Beruntung syal yang digunakan tidak terlalu basah sehingga masih berfungsi dengan baik untuk menghangatkan tubuhnya. Dia membuka pintu kafe dan terdengar gemerincing dari lonceng di pintu kafe.
“Hai, Rainy.” Gadis itu mendapat sapaan dari seorang pramusaji yang kebetulan sedang melewati pintu.
“Eh hai, Rodeo.” Gadis itu membalas sapaan dengan ramah. Dia lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang. Penuh sekali kafe itu.
Kafe itu didesain bertema eropa-minimalis. Ada beberapa tiang penyangga di tengah ruangan yang diukir khas bangunan eropa. Tapi untuk memberikan kesan minimalis, si pemilik kafe memilih warna cat ruangan dengan warna putih. Sofa-sofanya berwarna hitam dengan lampu penerangan berwarna kuning cerah—memberikan kesan hangat bagi pengunjung. Di salah satu tembok dibuat wall waterfall dan kolam ikan kecil berukuran 6 x 1 meter dibatasi pagar berwarna hitam. Dan pada hari-hari tertentu, di kafe itu diputar musik-musik ala eropa seharian penuh. Kafe yang menyediakan menu khusus kopi dan camilan-camilan itu pun pasti selalu penuh pada hari weekend seperti ini.
“Itu ada satu kursi kosong lagi kok,” pramusaji itu tersenyum menujukkan kursi kosong di dekat kolam ikan.
“Deo, thank you. Cokelat panas secangkir, ditambah susu, jangan lupa whipped cream­-nya sedikit.”
“Baik. Tunggu dalam lima menit saja.” Pramusaji itu berlalu seiring Rainy yang juga berjalan ke meja kosong.
Tepat saat Rodeo sedang berjalan membawa secangkir cokelat panas, datang seorang laki-laki memasuki kafe dengan kondisi tubuh yang cukup basah.
“Maaf Mas sudah penuh,” ujar Rodeo sopan.
Lelaki itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe. Ternyata sedang ada yang merayakan ulang tahun di sana sehingga jatah 7 meja habis dibawa oleh mereka. Sisa kursi lain sudah dipenuhi oleh pengunjung. Matanya langsung terhenti pada seorang gadis yang sedang menulis sesuatu di sebuah catatan dekat kolam ikan. Dia hanya duduk sendiri dalam satu meja.
“Di sana boleh?” mata lelaki itu langsung mengerling ke arah Rainy.
Rodeo terdiam sesaat. “Tunggu sebentar.”
Lelaki itu masih terdiam di depan pintu sambil sesekali mengibaskan rambut pendeknya yang basah. Dia melihat pramusaji tadi sedang berbincang dengan pengunjung. Tiga menit berikutnya, pramusaji datang sambil membawa nampan kosong.
“Silakan Mas,” Rodeo mempersilakan lelaki itu untuk menempati salah satu dari tiga sofa di meja yang sama dengan Rainy.
“Secangkir cokelat panas dengan sedikit whipped cream dan perbanyak susu.” Lelaki itu tersenyum lalu berjalan mendekati Rainy.
“Permisi.”
Rainy menoleh dan menemukan laki-laki tampan di hadapannya. “Oh iya, silakan.”
Lelaki itu mengeluarkan sofa dari balik meja dan duduk dengan nyaman di sana. Sementara Rainy kembali menulis sesuatu di catatannya.
“Terima kasih sudah mengizinkanku duduk di sini,” lelaki itu memulai pembicaraan.
Rainy menoleh dan menatap lelaki itu sejenak. “Tak masalah. Kafe ini memang selalu penuh saat libur. Aku juga beruntung masih mendapat satu meja di sini.”
Lelaki itu menatap Rainy dengan kagum. “Aku baru bertemu dengan perempuan yang berbicara banyak pada orang yang baru dikenalnya.”
“Oh ya? Maaf,” Rainy menyunggingkan senyum.
“Choky,” lelaki itu menjulurkan tangan di udara, tepatnya di hadapan Rainy.
“Rainy.”
“Apa kau suka hujan?”
“Hm? Kenapa?”
“Namamu.”
Rainy tersenyum. Dia mengambil cangkir cokelat panasnya dan menggenggam cangkir itu sejenak. Rasa hangat menjalar cepat di tubuhnya dan ia langsung menyesapnya perlahan. Wangi khas cokelat, whipped cream dan kayu manis bubuk langsung menari-nari di hidung Rainy membuat gadis itu bersemangat untuk menikmatinya.
“Mama sangat menyukai hujan. Dia selalu membawaku duduk di dekat jendela saat hujan dan menikmati susu cokelat panas. Awalnya aku tidak menyukai hujan karena menurutku hujan itu membawa sial. Karena hujan, aku tidak bisa keluar. Karena hujan, cucian jadi tidak kering. Karena hujan, jalanan jadi basah dan kotor. Karena hujan, aku bisa sakit. Dan masih banyak alasan-alasan lainnya. Tapi karena Mama yang sering mengajakku menikmati hujan, lama-kelamaan aku mulai menyukainya,” Rainy menghela napas sejenak.
“Sampai sekarang, aku sangat menyukai hujan. Karena hujan, aku bisa menikmati secangkir cokelat panas. Aku hanya akan meminum cokelat panas di saat hujan seperti ini. Karena hujan bisa mendatangkan banyak inspirasi. Karena hujan juga bisa memberikan kesejukkan.”
Laki-laki itu menatap Rainy dengan saksama. Bagaimana Rainy bisa membuatnya tertarik hanya karena cerita yang diutarakan gadis itu?
“Kau menarik sekali, Rainy...”
“Maksudmu?”
Choky seperti tersadar sudah mengutarakan perasaannya secara tidak langsung. “Ah, maksudku, ceritamu menarik sekali.”
Rodeo datang sambil membawa secangkir cokelat panas pesanan Choky. “Silakan, secangkir cokelat panas dengan sedikit whipped cream dan susu yang diperbanyak.”
“Terima kasih,” Choky menyunggingkan senyum dan Rodeo pun meninggalkan mereka.
Rainy menatap Choky, lalu pandangannya beralih ke cokelat panas milik Choky yang persis mirip dengan pesanannya. “Kau suka cokelat panas?”
“Tentu. Selain baik untuk kesehatan, wangi dari cokelat bubuk lebih menarik dibanding dari wangi biji kopi. Menurutku begitu.”
Rainy mengangguk-angguk menyetujui.
“Lalu kau sendiri kenapa memesan cokelat panas di dalam kafe kopi?”
Rainy tersenyum setengah tertawa. “Karena aku tidak begitu suka kopi. Cokelat panas lebih membuatku candu daripada kopi. Lagipula, menurutku cokelat panas sangat cocok dipadukan dengan hujan yang turun dengan rintik seperti ini.”
Mereka saling bertatapan. Rainy seperti terhipnotis oleh pesona Choky sore itu. Wajahnya terbilang tampan dengan bola mata yang bulat. Alisnya tebal dan nyaris bersentuhan. Ada kumis tipis di atas bibirnya dengan hidung yang bangir. Tubuhnya tegap dan tinggi dibalut warna kulit sawo matang. Rainy bisa menebak bahwa Choky bekerja dalam sebuah perusahaan dengan umur sekitar dua puluh lima ke atas. Terlihat dari tampilan laki-laki itu yang mengenakan kemeja dan celana berbahan kain. Serta tas selendang berwarna hitam yang dikenakannya.
“Kenapa Choky?” Rainy tersadar dari dunianya.
“Kenapa apanya?”
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Rainy merasakan pipinya memanas dan mungkin sepertinya memerah. Warna kulit tubuhnya yang putih membuat perasaannya mudah tertebak.
“Tidak. Justru aku yang ingin bertanya kenapa kau menatapku seperti itu?”
“Seperti apa?”
“Seperti yang kulakukan padamu,” Choky tersenyum dan dia bisa melihat pipi Rainy memerah. Mata gadis itu semakin menyipit saat tersenyum dan semakin membuat Choky tertarik.
Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Rainy mengambil cangkir cokelat panasnya dan menyesapnya perlahan. Choky pun melakukan hal yang sama dan mereka menyesap cokelat hangat itu bersamaan.
“Cinta itu seperti cokelat panas,” ujar Rainy lebih seperti menggumam.
“Karena menghangatkan?” Choky mencoba menebak-nebak.
“Iya. Tapi lebih tepatnya karena cokelat panas memiliki dua rasa yang kuat dalam setiap cangkirnya. Ada rasa pahit dari dark chocolate, juga ada rasa manis dari susunya. Dan aroma lain-lain seperti whipped cream dan kayu manis itu akan menyempurnakan rasanya.” Rainy meletakkan cangkirnya perlahan lalu melanjutkan kalimatnya.
 “Sama seperti cinta. Dalam cinta, kita hanya akan merasakan dua rasa yang sangat kuat. Sedih dan bahagia. Sedangkan rasa lainnya seperti rindu, emosi, cemburu, itu akan melengkapi keseluruhan rasa dari cinta itu sendiri.”
“Kalau cokelat panas bisa menghangatkan tubuh, lantas, menurutku, cinta pun bisa menghangatkan hati yang dingin bahkan sudah membeku. Tapi jika saatnya ia berubah dingin, satu-satunya yang perlu kulakukan hanya terus menikmatinya. Sama seperti cinta. Saat ia sudah tak hangat lagi, aku hanya perlu menikmatinya toh rasanya masih akan tetap sama.”
Rainy tertawa renyah mendengar analogi yang diutarakan Choky. “Dari mana kau bisa menganalogikan cokelat panas seperti itu?”
“Entah. Tapi sepertinya seseorang sudah bisa memberikanku inspirasi sambil menikmati secangkir cokelat panas dan hujan di luar sana.”
Lagi-lagi Rainy merasakan pipinya memanas. Dia memalingkan wajahnya pada waterfall di tembok sebelahnya. Sebenarnya, dia hanya sedang berusaha menutupi perasaan yang berlonjak-lonjak tidak karuan dalam hatinya.
“Rainy,” panggil Choky.
“Ya?” Rainy menoleh.
“Bolehkan kita bertemu lagi? Suatu hari di saat hujan untuk menikmati secangkir cokelat panas seperti ini?”
“Oh iya, tentu. Aku pikir kau menyesal bertemu denganku karena aku terlalu banyak bercerita,” Rainy tertawa renyah.
“Sama sekali tidak. Aku bahkan sangat senang bisa bertemu denganmu sekaligus mengenalmu hari ini,” Choky menggelengkan kepala sambil ikut tertawa.

Setelah Rainy memberikan kartu namanya, mereka langsung menghabiskan sisa cokelat panas dalam cangkir. Sebelum akhirnya pulang dan berjanji untuk bertemu lagi di tempat yang sama.



With love,

25 comments:

  1. “Saat cokelat panas, ia akan mampu menghangatkan tubuh. Seperti cinta, saat ia hangat akan mampu menghangatkan hati yang dingin bahkan membeku. Namun bila ia dingin, aku hanya bisa menghadapinya”, inti kalimatmu di atas aku suka dengan itu. Cinta, hujan, cokelat, kehangatan dan kedinginan..

    Kalau boleh tahu, ini cerita nyata atau fiktif. Kalau memang fiktif, kalau bisa adakan pertemuan kedua kalianya sehingga ada ketertarikan langsung. Sangat susah menemukan seorang wanita beru pertama kali bertemu langsung tertarik dan berani memandang seperti itu. Tapi keren lah,.. kalau dilihat dari bagaimana ceritanya, kayaknya ceritamu cerita fiktif ya..

    Yaudah, kembangkanlah selalu karyamu.. nice post.. aku yakin besok selalu berkarya dengan yang luar biasa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya makasih kak. Itu ceritanya fiktif kok. Iya makasih sarannya ya. Aku pernah baca kalau cowok lebih mudah suka pada pandangan pertama. Sedangkan cewek lebih tertarik saat obrolan pertama. Jadi buat cerita gitu..

      Amiinn. Pasti!

      Delete
    2. Oh gitu... kirain apa lah...
      Pandangan pertama, dan obrolan pertama.. aku jadi paham..
      Pandangan pertama, berarti cowok lebih suka pada “visual” kecantikan wanita.
      Obrolan pertama, berarti cewek merasa diperhatikan. Makanya mudah jatuh hati..

      Sip...
      aku tunggu cerita inspiratif selanjutnya..

      Delete
  2. Imajinasimu bagus bgt utk merangkai kisah ini.
    Mengalir.
    Dan bisa membuat saya seakan membayangkan situasinya.
    Sederhana, tapi riil dan jelas maknanya.

    Tapi endingnya, blm jelas.
    Mreka pisah setelah minum bersama.
    Atau masih ada kisah lanjutannya?
    Sayang bgt kalo cuma sampai di sini :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, makasih kak:)

      Hehe iya ya? Tunggu part selanjutnya yaa. Aku lagi nyambungin sama cerita baru dengan tambahan tema...

      Delete
  3. Kereeeeeeeeeeen ceritanya kak.
    Rangkaian kalimatnya juga pas banget. Mampu ngebuat pembaca berada di dalam suasana cerita.
    Dan yang penting, easy going.

    Kasih cerita yang lain lagi dong

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huehehe iya amiinn, makasih ya cil:)

      Sip sip, tunggu sambungannya aja yaa

      Delete
  4. uwuuw cinta seperti cokelat panas, uwuwu semoga mereka bertemu kembali, dari secangkir kopi panas bisa jadi cerpen, ini nih yg saya belum bisa, gak bisa berimajinasi, sepertinya bisa belajar banyak disini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uwuwuu iyaaa. Hehe ayo semangat kak! Terus belajar, membaca, dan berlatih nulis. Lama-kelamaan makin keasah tuh imajinasi dan kemampuan nulisnya.

      Iya semoga ya :)

      Delete
  5. asiiik, nih cerpen berdasarkan khayalan cenderung ke keinginan niiih..hahaha...so sweet banget dah, pertemuan manis...aku jga udah bbrpa hari ini mengganti kopi jadi coklat panas...lbh enak dan ga sarat marabahayaaa...belinya di indomaret yg sachetan merknya Delfi klo ga salah. kental bgttt!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya nih kak, sesuai temanya kan hot chocolate...

      Iya sama aku juga suka beli itu. Apalagi minumnya anget setengah panas. Yang cadburry udah coba kak? Katanya lebih enak tuh *eh promosi*

      Delete
  6. Ceritanya macem FTV aja ini, tapi bagus. Bisa banget bikin cerpen..

    Cokelat panas yang dipadukan sama hujan itu sama kayak kopi dan pisang goreng di pagi hari. Jodoh. Jangan coba misahin kebersamaan yang udah disatukan oleh yang namanya jodoh.

    Ya, pokonya gitu :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya kak alhamdulillah. Cie penggemar FTV ya?

      Bener bener, kasian ya kalo udah jodoh terus dipisahin. Apalagi dipisahin sama restu orang tua. *eh gak fokus*

      Delete
  7. Gue suka! :)
    Bahasanya gak berat, gak terlalu banyak Perumpamaan, banyak ungkapan. hehe..
    Menarik juga cara dwi menganalogikan cokelat panas. :)
    semoga ada lanjutannya :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya makasih kak hehe. Itu tiba-tiba aja kepikiran pas lagi minum cokelat panas.

      Ditunggu aja semoga kelanjutannya lebih menarik dibaca...

      Delete
  8. Ceritanya bagus, sampai2 kebawa suasana sedang nongkrong di cafe, mimum copy sambil melihat langsung kedua tokoh diatas.

    Ini pasti masih ada lanjutanya kan? ditunggu lanjutanya. *karena mungkin endingnya masih mengganjal. he he he he

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya makasih yaa

      Haha menggantung ya? Sip ditunggu aja part selanjutnya...

      Delete
  9. langsung jadi pingin secangkir cokelat panas :)))
    bagian yang gue suka kalimat "jika saatnya ia berubah dingin, satu-satunya yang perlu kulakukan hanya terus menikmatinya"

    ahhhh kalimat itu buat gue cengar cengir XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah kok pengen jadi secangkir cokelat panas? :|

      Cie... lagi nikmatin cinta yang dingin ya kak?

      Delete
  10. aku yakin kamu punya bakat.. o_o
    cara bercerita, pilihan kata, analoginya.. semua kereen~

    udah coba ke penerbit? atau malah udah nebitin? keren sumpah

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin, makasih..

      iya udah coba kok, lagi nunggu kepastian hehe doain aja ya

      Delete
  11. cerpennya bagus..
    ceritanya mengalir..
    deskriptif, padahal ceritanya cuma ngobrol di dalem kafe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih...

      Iya emang sengaja nggak dibuat konflik. Awalnya cuma iseng gambarin setting sama analogi

      Delete
  12. Waktu awal baca agak janggal menangkap. Langkah gadis itu dibuka lebar lebar=> berasa yang membukanya adalah orang lain bukan dirinya.

    Pemaparan ceritanya perlu dikembangkan lagi. Sepertinya ini terlalu terpaku pada penggambaran coklat, sementara untuk percakapan ada yang rancu. Silakan cek nanti.

    Oya, EYD nya juga koreksi lagi ya.

    Terima kasih sudah memberikan suguhan cerita berbeda. Semangat menulis dan asah terus kemampuannya. Semangat^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak lina teliti banget haha iya aku salah diksi, baru ngeh ternyata ini pake PoV 3 jadi kesannya kayak ada yang bukain langkahnya.

      Iya siap, emang tema utamanya tentang cokelat panas kak. Dan iya, aku baru ngeh juga buat EYD tuh hehe

      Sip sip kak lina, makasih banyak buat koreksi dan komentarnya. Semangat:)

      Delete

Komentar gratis, curhat gratis, iklan bayar!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...