Wednesday, 13 February 2013

Dwi Sartikasari

1 comment:


Hi guys, I'm Dwi Sartikasari and I'm really proud of my self. Yeay!


Okay, I will introduce all about my self.


Nama asli sih udah pasti Dwi Sartikasari ya. Aku lahir di Pangkal Pinang, 19 Desember 1994 dengan berat badan sekitar 3,7 kg. Aku pertama kali bersekolah di TK. Aisyiyah, Bandung. Setelah bertahan cukup lama, 2 tahun di TK, akhirnya aku melanjutkan masuk sekolah dasar di SDN Mongonsidi, Komp. Sukamenak, Subang. Enam tahun cukup untuk bersekolah di SD, aku meneruskan bersekolah di SMPN 2 Garut. Setelah melewati masa-masa abg alay, aku pun beranjak dewasa dan menghabiskan sisa kealayan-ku di SMA 1 Garut. Oh iya, dari lahir sampai sekarang aku nggak bisa diem di satu kota.

Awal lahir di Bangka, terus TK ke Bandung, SD di Subang, SMP dan SMA di Garut. And finally, alhamdulillah sekarang aku sedang melanjutkan kuliah di Universitas Padjadjaran, Bandung di jurusan Akuntansi. Jurusan yang sebenarnya sangat diharapkan orang tua, padahal aku nggak terlalu suka. But it's okay. To make my parents proud of me, I will do anything for them. Sigh~

Nah curhat masalah hati dulu deh ya. Now, my heart have been stolen by someone. And he is Ezzha Chezar Perdana Putra. I love him I believe he loves me too hihi^^ I found him in 2010 ago, and now we still in relationship. Alhamdulillah :)

Pokoknya ngejalanin hari-hari sama dia itu nano-nano banget. Tapi justru perasaan campur aduk itu yang bakal terus jadi kenangan. Sesungguhnya, orang yang paling beruntung di dunia ini adalah dia yang memiliki banyak kenangan dalam hidupnya. :)

Okay, next I will tell you about my hobbies.

Hobi aku banyak. Eh nggak deng, cuman dua. Nulis dan nyanyi. Aku sih maunya kuliah ngambil jurusan itu, tapi zaman sekarang sih, di Indonesia, sastrawan itu memang 'kurang' dihargai. Beda banget sama di luar negeri. (Maaf untuk sastrawan, bukan maksud merendahkan). Aku suka banget nulis. Jadi penulis itu asik. Bisa berimajiasi sebebas-bebasnya sesuai keinginan. Tapi kalau masalah masa depan, mungkin orang tua tau yang lebih baik. Akhirnya aku memutuskan untuk ngambil jurusan akuntansi itu dan hanya menjadikan menulis dan menyanyi sebagai hobi.

Untuk menyalurkan hobi-hobiku itu, akhirnya aku masuk sebuah UKM di Unpad, yaitu PSM. Paduan Suara Mahasiswa, Unpad Choir namanya. Ternyata teknik menyanyi itu susah ya. Apalagi kalau paduan suara. Harus menyamakan suara dengan kelompok, nggak boleh menonjolkan diri sendiri, dsb. Tapi di sana kami dituntut untuk bekerjasama dengan baik dan saling menghargai. Itu asik tau ;)

Nah kalau menyalurkan hobi menulis, aku mulai mencoba-coba untuk mengikuti lomba-lomba cerpen atau lomba menulis lainnya. Aku pun sedang mencoba mengikuti sebuah lomba novel. Selain itu, aku sering baca-baca novel. Baik itu pinjaman dari teman atau free download dari internet. (Kalau bisa hemat, kenapa harus boros? (re: beli novel tiap saat)). Beruntungnya, mama sangat mendukung hobi aku ini. Malah mama udah sering tanya-tanya tentang novelku. Doain aja semoga aku bisa mengikuti lomba novel dan plus-plus memenangkannya. Aku juga beruntung punya pacar yang bener-bener mendukung hobi nulisku. Dan pengalaman hubungan kami pun selalu jadi inspirasiku untuk menulis. Makasih ya...

Sekarang bahas apalagi ya...
Oh okay, all about my friends. I have so many friends. Temen-temen aku banyaaaaakkk banget. Temen aku ada di mana-mana. (efek pindah-pindah sekolah-_-)

Alhamdulillah dari sekian ratus temen yang aku punya, banyak dari mereka yang (kayaknya) seneng temenan sama aku. Mereka juga orangnya asik-asik. Dari mulai temen SD, SMP, SMA, sampai sekarang kuliah. Pokoknya alhamdulillah banget aku dapet temen deket yang selalu setipe sama karakter aku, jadi kan cocok. Tapi banyak juga sih yang nggak sekarakter, alhasil mereka cuman jadi temen biasa aja deh. Tapi nggak sekarakter bukan berarti nggak cocok loh ya.


Aduh aku mau cerita apalagi? Udah dulu deh ya, capek ngetiknya nih. See you next time, guys. Love you all. Xoxo!!!




With Love,


Cerpen: Forget About Your Past

1 comment:

Siang itu matahari bersinar sangat terik. Semua orang banyak terlihat di dalam mall-mall dan tempat-tempat sejuk lainnya. Tapi berbeda dengan Aurel. Dia malah nekat menembus panasnya matahari. Dia terus berjalan dan berjalan. Semakin cepat dan berlari. Air matanya tak dapat ditahan lagi.
Semua orang banyak yang melihatnya. Tapi dia tidak peduli. Yang dia butuhkan sekarang hanyalah tempat sepi untuk menenangkan diri. Tempat yang sejuk yang bisa membuatnya lebih tenang. Bukan suasana seperti ini. Panas, di jalanan banyak orang.
Aurel baru saja bertengkar dengan pacarnya—Dava. Mereka telah jadian 5 bulan lalu. Tapi selama 5 bulan itu, Dava masih belum bisa melupakan mantan di masa lalunya—Cecil. Selama ini Aurel sudah berusaha sabar, tapi Dava selalu tidak mengerti akan perasaannya. Dava selalu saja cerita pada Aurel tentang Cecil. Awalnya Aurel sabar untuk selalu mendengarkan cerita dan curhatan Dava. Tapi lama kelamaan hatinya semakin teriris. Hatinya semakin sakit. Jika bertemu dengan Cecil, ingin sekali Aurel membunuhnya!
***
“Rel! Tunggu!”
Aurel berbalik. Tapi sesaat dia segera berlari untuk menghindar.
Dava mengejarnya. “Rel tunggu bentar!”
Aurel semakin berlari dan menjauh. Tiba-tiba air matanya mengalir lagi. Dia segera masuk toilet untuk menutupi kesedihannya dan menghapus air matanya.
Dava menunggu Aurel di depan toilet cewek. Tak lama menunggu, Aurel keluar.
“Rel!” cegat Dava menarik lengan Aurel.
Aurel menoleh. Lalu dia segera menunduk.
“Rel, maafin aku kemarin. Please maafin aku ya Rel maaf...”
Aurel tak menghiraukan Dava. Dia masih terisak. Semua siswa melihat drama antara Aurel dan Dava di depan toilet. Tapi Aurel dan Dava benar-benar tidak peduli. Yang Dava inginkan hanya satu, Aurel. Dan yang Aurel inginkan hanya satu, Dava lupa akan mantannya itu!
“Lepas!” Aurel berusaha sekuat tenaga melepaskan genggaman lengan Dava dan bergegas pergi meninggalkan Dava yang sedang terdiam kaku.
***
“Rel, kamu masih bertengkar sama Dava?”
“Udah deh Ngel, gak usah bahas itu. Bisa?”
Angel—sahabat terbaik Aurel, kembali diam. Dia ingin tau sejauh mana hubungannya dengan Dava sekarang. Karena memang akhir-akhir ini Aurel terlihat tidak seperti dulu dengan Dava.
“Rel, kalau kamu mau cerita, cerita sama aku aja. Aku siap denger apapun yang mau kamu ceritain.”
Aurel menghentikan kegiatan menulisnya. Dia menatap Angel yang duduk di sebelahnya. “Makasih ya Ngel, tapi mungkin aku gak bisa cerita sekarang.” Aurel mencoba tersenyum. Padahal hatinya saat itu menangis.
“Yakin? Aku yakin kamu pingin cerita kan Rel?”
Aurel terdiam sesaat. Tak lama kemudian, dia segera memeluk Angel. Dia segera menangis di bahunya. Angel dengan segera menenangkan sahabatnya itu. Dia mengelus lembut bahu Aurel dengan penuh kasih sayang. Karena yang Aurel butuhkan sekarang hanyalah ketenangan.
“Kamu cerita deh,”
Aurel melepaskan pelukannya. Matanya memerah dan bengkak seketika. Dan tanpa berfikir lebih lama lagi, dia segera menceritakan semuanya. Mulai dari Dava masih kefikiran mantannya, Dava masih berkomunikasi baik dengan mantannya, bahkan sampai Dava masih terlihat ingin tau semua tentang mantannya.
“Loh serius Rel?” Angel terkejut.
“Ngapain aku bohong? Dia bilang kalau mantannya itu mantan terbaiknya. Dia pertama kali pacaran pakai hati tuh sama dia. Mana lagi sama dia itu pacaran paling lama.” Aurel kembali terisak.
“Aurel sayang,” Angel mengelus rambut sepunggungnya Aurel. “Maaf sebelumnya kalau kata-kata aku ini bikin kamu sakit hati. Tapi aku cuma mau kamu siap dengan semuanya.” Angel berbasa-basi.
Aurel mengangguk tanpa lepas dari isakannya.
“Gini deh. Tadi kamu bilang bla bla bla tentang Dava dan mantannya. Menurut aku, seberusaha apapun Dava buat lupain mantannya, dia pasti bakal terus inget sama mantannya itu. Apalagi pacaran paling lama sama dia, pertama kali pacaran pakai hati juga sama dia. Kalau memang sama mantannya udah lupa, tapi kenangan yang udah terukirnya itu gak akan pernah hilang. Kenangan mereka pasti akan terus terkenang...” ujar Angel bijak.
Aurel kembali memeluk Angel. Dia terus menangis sekuat tenaga. Dia ingin melepaskan bebannya. Ingin melepaskan sakit hatinya. Ya, memang apa yang Angel bilang itu benar.
“Ngel...” suara Aurel terdengar sangat lirih seperti orang yang sudah tidak bersemangat untuk melakukan apapun.
“Ya?”
“Salah nggak sih kalau aku marah sama Dava?”
“Ada salahnya, ada enggaknya juga.”
Aurel melepaskan pelukannya. Dia menatap Angel. Sorotan matanya seolah meminta Angel untuk menceritakan maksudnya.
“Kamu salah, harusnya di saat kayak gini kamu berusaha untuk ada di samping dia. Kamu berusaha buat nenangin dia. Berusaha kuat di samping dia. Pasti susah, tapi coba deh buat dia yakin kalau kamu itu memang pacar terbaik yang dia punya. Kalau gak salahnya, ya aku juga ngerti perasaan kamu sekarang. Mungkin kamu mau jaga perasaan kamu jadi ngehindar dari dia, gitu kan?”
Aurel bingung. Entah apa yang harus dilakukannya saat ini. Dia tak ingin kehilangan Dava. Dia sangat menyayangi Dava. Mungkin itu alasan mengapa sampai saat ini dia masih bertahan di samping Dava walaupun Dava sering sekali menyakitinya.
“Saran aku, coba kamu bicara baik-baik sama Dava deh. jangan bikin hubungan kalian gantung kayak gini ya.”
“Susah Ngel. Aku pasti nangis di depan dia. Aku gak mau terlihat lemah di depan dia.”
“Tapi dia udah tau kan kamu lemah? Aku yakin dia ngerti perasaan kamu, tapi dia juga bingung. Percaya deh, waktu akan menuntun kalian pada kebahagiaan. Asal kamu dan dia sama-sama sabar dan harus saling mengerti juga ya,”
Aurel mengangguk. Hatinya sedikit lebih tenang. Semoga waktu berpihak padanya. Ya, Aurel berharap.
***
Malam itu Dava datang ke rumah Aurel. Sudah dua hari Aurel tidak mau bicara dengannya, Aurel tidak mau mengangkat telefonnya, Aurel tidak mau membalas smsnya dan tidak mau mendengarkan penjelasannya.
“Ada apa?” tanya Aurel jutek.
“Aku mau jenguk kamu,” ujar Dava lembut sambil memberi bucket mawar pink. Ya, hari ini Aurel tidak sekolah karena sakit.
“Ya udah masuk,”
“Kamu sakit apa? Kenapa muka kamu kusut gitu sayang?”
“Capek aja.”
“Masih marah ya? Maafin aku ya Rel. Waktu itu aku bener-bener lepas kontrol banget. Maaaaff banget.”
“Kenapa sih harus bahas itu lagi?! Kalau mau terus bahas dia ya udah balik lagi aja sama dia!” Aurel pergi ke kamarnya dan meninggalkan Dava.
Dava terdiam di ruang tamu. “Rel maaf...”
***
“Va, jujur aku capek sama semuanya. Coba kamu rasain jadi aku. Mungkin kamu belum tentu sekuat ini. Kalau kamu terus mikirin dia.............” Aurel menarik nafas sejenak. “Aku yang mundur.”
“Rel! Maksud kamu apa sih?!”
“Kamu gak ngerti!”
“Ya aku kan bilang aku cuma butuh waktu. Kamu percaya sama aku, aku tuh sayang banget sama kamu. Kalau aku lebih sayang dia, udah aku tinggalin kamu. Tapi buktinya? Aku berusaha buat jelasin semuanya sama kamu biar kamu mau maafin aku. Itu semua karena aku sayang sama kamu Rel,” ujar Dava.
Aurel menangis. “Mungkin dia lebih berharga daripada aku. Aku tau kok.”
“Gak! Kamu lebih berharga buat aku dibanding dia. Kenapa sih kamu gak percaya?”
“Karena kamu selalu dan selalu ngomongin dia. Aku capek dengernya! Aku sakit! Kenapa sih kamu gak mau ngerti juga?”
“Kamu juga ngertiin aku dong Rel. Aku belum lama putus sama dia. Jadi wajar aja kalau aku belum bisa lupa sama dia. Aku...”
“Berarti aku gagal jadi pacar kamu. Aku gak bisa bahagiain kamu dan gak bisa bikin kamu lupa sama Cecil. Aku malah bikin kamu tambah pusing.”
“Rel!”
Aurel menunduk. Air matanya tak berhenti mengalir.
“Rel, maafin aku ya. Kamu terlalu baik buat aku. Sementara aku selalu bikin kamu terluka dan sakit. Aku bukan pacar yang baik.” Dava mendekap Aurel. Dia mencoba menatap Aurel tapi Aurel berusaha untuk menghidar dari tatapan Dava.
“Jadi?”
“Jadi apanya?”
“Kita sekarang?”
“Ya udah jalanin aja dulu ya. Aku gak mau kehilangan kamu Rel. Aku sayang sama kamu.” Dava memeluk Aurel. Aurel menangis di pelukan Dava.
***
Waktu terus berjalan. Dava sudah mulai bisa melupakan Cecil tapi sesekali dia masih ingat dengan semua kenangannya dengan Cecil.
“Rel pulang yuk.”
“Iya, ayo.” Aurel sudah terlihat lebih baik dari beberapa hari yang lalu.
Dava mengantarkan Aurel pulang ke rumahnya. Tapi di perjalanan, secara tidak sengaja Aurel membuka dasbor mobilnya Dava. Dia melihat ada foto Dava dan Cecil berdua. Saat itu juga hati Aurel sakit. Seperti diiris perlahan-lahan oleh pisau yang sangat tajam.
“Ini apa?”
Dava terkejut begitu Aurel memegang fotonya bersama Cecil. “Loh kamu dapet darimana?”
Tanpa berfikir lebih lama lagi, Aurel keluar dari mobil. Kebetulan saat itu jalanan sedang macet. Jadi dengan mudah Aurel pergi meninggalkan Dava di dalam mobil.
“Rel tunggu!” Dava memanggil Aurel. Tapi percuma saja, Aurel tidak mau mendengarkannya. Dia malah berlari semakin jauh.
“Rel maaf. Aku lupa untuk membuang foto ini. Maaf Rel...”
***
Seminggu berlalu. Dava benar-benar lost contact dengan Aurel dan sekarang hubungan mereka pun gantung. Dava mengerti apa yang dirasakan Aurel saat itu. Dia sudah benar-benar jahat menyakiti hati Aurel sejauh ini.
“Dava. Aku mau bicara sama kamu.” Aurel menghampiri Dava yang sedang duduk di taman kesukaan mereka berdua.
“Aurel? Kamu udah gak marah sama aku?”
“Nih.” Aurel memberikan secarik surat pada Dava.

Dava, sori ya kalo selama ini gue selalu ganggu hubungan lo sama pacar lo. Jujur, gue gak bisa lupa sama lo. Makanya gue selalu datang buat ngusik hidup lo. Tapi sekarang gue sadar kalau lo itu memang couple-nya dia. Maafin gue selama ini selalu ganggu lo. Bilang maaf juga sama pacar lo. Gue mau lo lupain gue ya, jangan inget-inget gue lagi. Kecuali kalau pacar lo ngizinin kita temenan. Hehe
Jaga pacar lo baik-baik ya, jaga terus sampai lo jadi kakek-kakek. Gue yakin, cewek lo itu cewek yang kuat karena bisa sabar dan tahan ngehadapi cowok kayak lo.
Cecil.

Dava menatap Aurel. “Mau maafin aku kan? Ini bener loh gak dibuat-buat suratnya. Aku sendiri gak tau surat ini dateng darimana.”
“Maaf...”
“Rel! Please. Kamu liat sendiri kan Cecil udah nyuruh aku lupain dia?”
“Emang kamu bisa lupain dia?”
“Yap! Kamu yang ngajarin aku buat belajar lupain dia. Seminggu tanpa kamu itu bikin aku bener-bener belajar kalau masa lalu itu hanya sekedar kenangan. Seminggu itu ngajarin kalau yang bener-bener buat aku ya kamu,” Dava tersenyum sambil mendekap Aurel.
“Iya iya aku maafin. Tapi kalau suatu saat nanti kamu lepas dari aku, aku harus positive thinking aja ya, mungkin Tuhan tau yang terbaik buat aku,” ujar Aurel.
“Gak! Aku gak akan lepas dari kamu!” Dava mengacak-acak rambut Aurel.
Aurel tersenyum. Semoga. Batinnya.




With Love,
 

Senja Kelabu

No comments:
Matahari di sore hari. Perlahan mulai menyembunyikan dirinya di balik gumpalan awan putih yang besar. Aku masih menikmati pemandangan indah itu dari ayunan yang kuayunkan pelan di sebuah taman komplek. Namun, kurasa keindahan itu tidak sesempurna dulu. Setahun lalu, aku bisa menikmati itu bersama seseorang. Orang yang sempat mengisi hari-hariku selama 2 tahun. Orang yang kutinggalkan karena sebuah alasan…
Matahari semakin menyusup bersembunyi di balik awan. Aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah dan mandi karena hari itu aku sibuk mengurusi kegiatan BEM di kampusku. Aku melewati sebuah rumah minimalis bercat cokelat muda dengan tempelan batu marmer di seperempat temboknya. Aku mempercepat langkahku. Rasanya aku tak ingin melihat lagi rumah itu.
***
“Putri!” aku menoleh ke sumber suara.
“Eh, Kak Syifa ya?”
“Iya lo masih inget sama gue. Apa kabar nih?”
“Eh gue baik-baik aja. Lo sendiri gimana Kak? Lagi sama siapa sekarang? Haha udah lama ya kita gak curhat-curhatan lagi.”
Syifa duduk di kursi di hadapanku dan kami mulai berbincang-bincang heboh. Syifa adalah kakak kelas SMAku dulu. Umur kami beda 2 tahun. Kami sudah terlihat seperti adik kakak. Dia sudah sangat dekat dengan keluargaku, begitupun denganku. Biasanya dulu kami bercerita tentang gebetan, pacar, mantan, dan apapun yang berhubungan dengan itu.
“Gue dijodohin nih Put sama nyokap gue.”
“Eh serius? Ya ampun zaman gini masih musim jodoh-jodohan?” aku mendengus kesal. Aku terdiam sejenak. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu…
“Iya dan gue pun belum ketemu calonnya. Gue udah berusaha nolak, tapi nyokap gue ngotot dan gue gak mungkin terus-terusan nolak. Lagian gue juga udah selesai kuliah, kerja udah, ya udah tinggal nyari pasangan deh.”
“Mmhh.. iya deh lo enak. Nah gue? Setahun lagi deh lulus, amin…”
“Haha iya lo cepet ya kuliahnya. Pasti IPK lo tinggi-tinggi deh.”
“Nggak deh biasa aja Kak.” Aku tersenyum rendah. Aku paling tidak suka jika orang-orang memuji IPKku secara berlebihan.
“Oh iya nanti deh gue kenalin lo sama calon gue kalau gue udah kenalan ya haha.”
“Oke deh Kak. Rencana nikahnya kapan nih?”
“Nyokap gue maunya setahun lagi. Tapi gak tau gue juga belum ngerasa cocok sama calonnya, haha. Eh gue duluan ya mesti balik cepet nih. Next time kita cerita-cerita lagi.”
“Oh iya hati-hati Kak…” aku melambaikan tangan ketika perlahan Syifa keluar dari Mc. Donald.
Tiba-tiba aku teringat seseorang lagi. Dulu, aku sering sekali menghabiskan waktu sore hari di Mc. Donald bersama mantanku. Dia dimana? Aku tak tahu. Dia masih mengingatku? Sepertinya tidak. Apa dia baik-baik saja? Kuharap iya.
Ada sedikit harapan aku bisa melihatnya lagi. Tidak! Tidak hanya sekedar melihat. Namun tersenyum. Saling menyapa. Mengobrol. Bercanda. Dipeluk. Ya Tuhan. Aku merindukannya… secara tidak sadar air mataku menetes. Aku melihat ke setiap arah, apakah ada yang memerhatikanku atau tidak. Namun ternyata tidak ada.
Tunggu! Aku berharap untuk bisa melihatnya? Bukankah dulu aku yang meninggalkannya dan tak ingin lagi melihatnya? Itu karena… Ya Tuhan!!!
***
Entah mengapa, akhir-akhir ini orang yang sering hadir di pikiranku, yang merupakan bekas pacarku, yang bernama Egi, menyita habis semua waktuku. Rasanya, aku sangat merindukannya. Mungkin karena beberapa malam terakhir dia sering hadir ke dalam mimpiku sepertinya. Aku membuka laci di sebelah tempat tidurku. Aku menyimpan semua kenanganku dengan Egi di sana. Seandainya saja tidak pernah ada masalah itu. Mungkin saat ini aku masih manis dengan Egi, layaknya dahulu.
Aku memandangi satu demi satu foto kami dahulu. Aku melihat tumpukan novel yang diberikannya padaku. Ada juga frame, kamera, gelang, kalung, boneka, dan aksesoris lainnya. Dan yang paling membuatku menangis adalah sebuah kotak musik berwarna pink soft. Dia memberikannya ketika kami sedang bermain ayunan di taman komplek. Sore hari, ketika matahari mulai bersembunyi di balik awan. Saat kotak musik itu dimainkan, alunan lagunya yang merdu, dengan suasana senja yang jingga dan angin sore yang bertiup lembut mendukung keindahan sore itu. Kalau kamu kangen aku, kamu duduk aja di sini setiap sore sambil mainin kotak musiknya ya. Itu kata-kata yang teringat jelas di telingaku hingga saat ini.
Aku terdiam sejenak. Saat ini aku benar-benar merindukannya. Sangat merindukannya. Aku ingin pergi ke taman. Tapi itu tidak seharusnya kulakukan. Bukankah aku harus melupakannya? Aku terdiam sejenak. Ah biarlah. Ini terakhir kali aku akan mengingatnya. Setelah beberapa saat menimbang-nimbang, akhirnya kuputuskan untuk pergi ke taman dengan membawa kotak musik itu. Aku duduk di ayunan tempat yang biasa aku tempati. Meskipun aku sudah beranjak dewasa, namun ayunan itu tetap menjadi tempat favoritku dari dulu. Hanya saja, tidak ada lagi Egi di sampingku.
Sore itu langit agak mendung. Namun suasana senja masih terasa. Langit terlihat menjadi berwarna jingga kelabu. Perpaduan antara awan yang mendung di sebagian langit dan cahaya matahari yang muncul dari balik awan lainnya. Kotak musik itu mengalun sangat lembut. Aku tak mampu lagi untuk menahan air mataku. Setetes demi setetes air mataku jatuh dari pelupuk mataku hingga akhirnya pipiku basah karena air mata yang jatuh terlalu banyak.
“Kangen aku?” suara berat itu terdengar di belakangku.
Aku menoleh. “Ka…mu?” aku tidak bisa memercayai kedatangannya.
Egi menghampiriku dan menghapus air mataku dengan tangannya. “Kamu bawa kotak musik itu karena kangen sama aku? Kok kita bisa sehati ya? Aku juga kangen sama kamu.”
Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Aku sudah tidak pernah melihatnya sejak setahun lalu. Apalagi diperlakukan seperti barusan. Tapi rasanya sangat tidak mungkin untuk mengulang cerita lagi seperti dulu.
“Kamu kenapa ada di sini?” aku mengalihkan pembicaraan.
“Aku bahagia bisa liat kamu baik-baik aja.” Senyuman itu terpancar dari raut wajah Egi. Untukku. Dia berjalan menghampiriku. Berdiri tepat di hadapanku. Dia membungkukkan badannya dan tiba-tiba saja dia mencium ujung kepalaku.
Aku diam saja. Entah, rasanya aku sangat merindukan hal ini. Tiba-tiba dia memelukku erat. “Aku gak mau kehilangan kamu lagi, Putri. Tolong jangan pergi.”
Aku menangis untuk beberapa saat di bahunya. Namun aku sadar akan suatu hal yang tidak mungkin menyatukan kami kembali. Aku melepaskan pelukannya. “Ngapain kamu ke sini? Udah sana aku gak mau lagi liat muka kamu!” aku membentaknya seperti orang hilang kendali.
“Putri, kamu kenapa? Kamu…”
“Udahlah! Ngapain lo muncul lagi di hadapan gue hah? Untuk apa lo datang lagi kalau nyatanya lo akan pergi lebih lama lagi?”
“Put, aku gak pernah pergi. Kamu kan yang pergi dari aku?”
“Ya. karena percuma! Lo bakal dapet pengganti gue. Lo bakal pergi bersama orang lain untuk selamanya. Haha udahlah. Lo juga udah nemu kan calon istri lo itu? Nyokap lo pasti kasih calon yang baik buat lo. Dan tentu saja itu bukan gue!”
Egi hanya bisa menunduk. Entah apa yang ada di pikirannya. Aku ingin segera pergi, meninggalkan Egi dan tak ingin melihatnya lagi. Tidak akan pernah!
“Kenapa diem? Lo udah tau kan calonnya? Siapa?” emosiku memuncak.
“Iya Put, namanya Syifa.” Egi masih menunduk merasa bersalah.
“Syifa? Syifa Aninda?”
“I.. iya. Kamu… kenal?” tanya Egi ragu.
“Oh.. Syifa. Haha iya selamat deh. Dia orang yang baik. Lo pantes dapetin dia. Dia juga pantes buat gantiin posisi gue di hidup lo.” Aku melangkahkan kakiku gontai. Rasanya aku berjalan tanpa membawa ruh. Syifa? Haha.. permainan apa ini, Tuhan? Aku mendengus kesal dalam hatiku.
“Kamu mau kemana?” Egi menarik lenganku.
“Tolong! Semua urusan kita benar-benar berakhir hari ini. Bye.” Kata yang sebenarnya tidak pernah ingin kuucapkan pada seorang Egi. Namun aku tau, saat inilah seharusnya kata itu kuucapkan. Bye. Iya, selamat tinggal Egi. Terima kasih untuk semua hal yang pernah kita lalui bersama.
Aku berjalan semakin lemah, semakin tak terarah. Aku seperti tidak memiliki tulang. Rasanya ingin seketika itu menjatuhkan tubuhku. Tapi aku tak ingin terlihat lemah di depan Egi. Bagaimana bisa, pada akhirnya seorang Egi dan Syifa berjalan bersama ke pelaminan? Aku bermimpikah? Ini permainankah? Atau Tuhan sedang mengujiku? Entahlah. Yang jelas, aku berharap hanya hari ini saja aku merasakan senja kelabu. Di bawah senja dan awan yang mendung, hatiku menangis sekeras-kerasnya.





Source: Senja Kelabu


With Love,

Dwi Sartikasari
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...