Sunday, 23 December 2012

Penantian Panjang

No comments:

Hai Blogcha! Lama ya aku nggak muncul di sini. Wah sebulan lebih ya kayaknya nggak buka blog ini. Aduh kasian juga nih blogku nggak keurus begini. Oke deh aku mau iseng-iseng buat tulisan. Bukan pengalaman sih, tapi ya iseng-iseng aja siapa tau kalian lagi ngalamin hihi^^

***************

Kau tahu rasanya memendam? Saat ini, di sini, di tempat kita sering menghabiskan waktu bersama, aku sedang duduk merenung. Di bawah pohon rindang dengan udara sore yang berembus pelan membuat rambut sebahuku yang tergerai bebas melayang-layang tertiup angin. Tapi aku tak bisa menikmati keindahan pemandangan sore ini karena kau tak di sini.

Aku rindu saat masa kecil kita habiskan bersama-sama. Setiap sore, kau dan aku duduk berdua di sini. Membawa camilan-camilan untuk dimakan berdua dan saling berbagi. Setelah selesai, kaubonceng aku dengan sepedamu. Aku memelukmu erat dan sebelah tanganmu memegang kedua tanganku yang mengikat erat di perutmu. Saat itu aku tahu, bahwa kau menyayangiku. Kau melindungiku dan tak ingin aku terluka karena jatuh.

Seiring berjalannya waktu, kita terpisah semakin jauh. Menginjak SMP, kau pindah dan sejak itu pula aku sudah tak tahu lagi kabarmu. Kau tau? Seandainya kau tahu, aku sudah memendam perasaan ini sejak kita duduk di bangku TK. Kau melindungiku dari teman-teman yang usil padaku. Kau menyuapiku donat ataupun kue-kue bekal yang kubawa. Kita berjalan bersama, kau menggenggam lenganku, menyanyi bersamaku, bahkan sekali pun kita berlari bersama, lengan kita masih menempel rapat saling memegang. Sejak itulah aku jatuh cinta padamu.

Kini kau hadir kembali di hadapanku dengan sosok baru. Kau sudah tumbuh dewasa. Kau tampan, gagah, dan memesona. Tapi, aku merasa dadaku sesak saat pertama kali melihatmu lagi. Saat itu kau sudah tidak mengenaliku lagi. Delapan tahun terpisah, kau sudah tidak mengenali sedikit pun akan wajahku?

Kau hanya memberiku senyuman hangat. Bukan senyuman 'selamat bertemu lagi', melainkan senyuman 'salam kenal'. Aku membalas senyumanmu dengan tulus. Tidakkah kau ingat akan senyumku? Lesung pipitku sebelah kiri dengan mata terpejam saat kutarik kedua ujung bibirku membentuk senyuman itu, senyuman khasku. Dulu kau selalu bilang bahwa mataku hilang jika aku tersenyum. Tapi kini? Tak ada komentar apa-apa tentangmu. Ah sudahlah, lagi pula ini dalam suasana pertemuan pertukaran antarpelajar, mana mungkin dia memerhatikanku se-detail itu.

Sejak pertemuan pertama itu, kita jadi sering bertemu. Tapi beberapa hari setelah itu, di sebuah pertemuan lain, kau menggandeng seorang gadis berambut hitam sebahu. Matanya menyorotkan kebahagiaan. Senyumnya mengembang tulus, memancarkan aura bahwa dia sangat bahagia berada di sampingmu.

Sejak saat itu aku pikir bahwa dia adalah tunanganmu. Haha! Aku memang terlalu bodoh. Menunggu belasan tahun untuk kehadiranmu lagi, tapi setelah kau hadir, kau telah bersama gadis lain. Takdir apa ini Tuhan? Sia-siakah usahaku selama ini? Tentu saja!

Di sini, di bawah pohon rindang disinari cahaya matahari sore, aku terdiam terpaku. Berminggu-minggu sudah sejak pertemuan pertama itu, kau masih belum mengenaliku sebagai 'teman masa kecil'mu. Aku nyaris pesimis dan tidak bermaksud sama sekali untuk memberitahumu.

Aku merasakan seseorang duduk di sampingku. Aku menoleh sejenak dan seketika itu pula tubuhku gemetar dan lemas seketika. "Kamu?"

Sosok itu tersenyum padaku. Senyum dengan artian lain. "Selama ini, aku berharap kamu mau bilang tentang perasaanmu."

"Maksud kamu?" aku tercengang mendengar pernyataannya.

"Aku tau, kamu itu teman kecilku, orang yang aku jaga, aku lindungi, dan aku sayangi." dia mengelus kepalaku dan mencium keningku.

"Tapi... Cewek itu."

"Itu adekku. Kamu lupa ya? Saat aku pindah, aku baru punya adek kecil."

Mukaku memerah menahan malu. Bodoh! Kenapa aku baru ingat? Umpatku dalam hati. Entah apa yang harus kukatakan. Aku terdiam, tapi dia masih memandangiku sambil memegang lenganku.

"Izinkan aku untuk terus menjaga kamu." dia berbisik lembut di telingaku.

Aku tak mampu mengatakan apapun. Aku mengangguk, menangis terharu, lalu membenamkan wajahku di bahunya. Dia mengelus lembut kepalaku dan mencium ujung kepalaku.

Maaf, Aku Begini Adanya

No comments:

"Kamu tuh jadi cewek bisa apa sih? Ngeselin banget!" Ega pergi sambil menahan emosi yang sudah di ubun-ubun.

Keyla hanya bisa menangis di kursi tempatnya duduk. Seluruh air matanya tumpah. Pipinya sudah dibanjiri penuh dengan air mata. "Maaf Ga, aku nggak bisa bahagiain kamu."

***

Malam itu seperti biasa Ega selalu menelepon Keyla untuk sekedar mendengar suara Keyla. Meskipun mereka satu sekolah, tapi tetap saja kalau sudah rindu tak bisa ditahan.

"Key, besok aku nggak bisa jemput sekolah nih, maaf."

"Loh kenapa?" suara Keyla terdengar parau.

"Nggak aku ada perlu."

"Oh ya udah nggak papa deh." Tanpa curiga sedikit pun, Keyla hanya mengangguk-angguk.

***

Keyla sedang menunggu Ega di depan kelasnya dengan sabar. Siang itu pelajaran terakhir di kelas Ega memang pelajaran yang biasa pulang telat. Pelajaran matematika. Sudah 15 menit Keyla menunggu dengan sabar. Terkadang dia membaca novel, mendengarkan lagu, atau sekadar menyapa teman yang lewat. Tapi matanya tiba-tiba berbinar ketika melihat kelas Ega mulai berhamburan keluar. Keyla cepat-cepat mencari sosok Ega.

"Ega!" Keyla melambaikan tangannya.

"Eh kamu  udah nunggu. Mmhh.. Anu Key. Kayaknya kita nggak bisa pulang bareng. Aku harus cari buku-buku buat UN. Ya kamu tau kan UN sebentar lagi."

"Tapi aku bisa anter kamu loh Ga."

"Nggak perlu. Aku mau cari sama... Temen. Iya aku ada janji nih sama temen."

"Yah... Padahal hari ini aku mau kasih kamu masakan dengan resep baruku. Tapi ya udah deh nggak papa kalo nggak bisa."

"Maaf ya Key. Besok-besok deh kita pulang pergi bareng lagi ya."

***

Seminggu, dua minggu, tiga minggu, Keyla semakin bingung dengan perubahan sikap Ega. Dia semakin sulit untuk diajak menghabiskan waktu bersama. Tapi tak ada kecurigaan sedikit pun akan itu. Hingga tiba saat kelulusan dan Ega lulus dengan nilai yang sangat memuaskan.

Keyla senang. Sangat senang malah, pacarnya bisa masuk 3 besar siswa dengan nilai UN tertinggi. Tapi ada juga yang membuatnya sedih. Tentu saja dia akan berpisah dengan Ega. Ega harus meneruskan  kuliahnya di Jakarta. Dan tidak tentu juga kapan pulang ke Bandung.

"Ega. Kamu jangan nakal lho di sana. Di sana kan ceweknya cantik-cantik nggak kayak aku."

Ega terdiam sejenak. "Iya." jawabnya singkat tanpa menoleh sedikit pun pada pacarnya itu.

"Ga. Kamu kok akhir-akhir ini menghindar? Kamu aneh. Jadi ngejauh. Kamu nggak punya selingkuhan kan?"

"Kamu ngomong apa sih! Udah deh kamu itu masih kecil, nggak tau apa-apa sama masalahku!" bentakan itu keluar refleks dari mulut Ega.

Keyla terdiam. Tiga detik setelahnya, matanya terasa panas. Air mata itu mengalir begitu saja tanpa permisi. Keyla terkejut dengan apa yang baru saja diutarakan Ega. Dia sangat tidak suka dibentak! Umurnya memang 2 tahun di bawah Ega, tapi bukan berarti Ega bisa mengatakan apapun tentang Keyla.

"Iya maaf. Aku emang anak kecil. Nggak tau apa-apa sama masalah kamu. Kamu juga emang nggak pantes cerita sama aku karena aku nggak akan ngerti!" Keyla pergi begitu saja tanpa memedulikan keberadaan Ega di sampingnya.

***

"Bego banget sih jadi cewek! Heh! Kamu tau kan aku lagi sibuk ngurusin kuliah. Ngerti dong. Jangan maunya dingertiin terus tapi lo sendiri nggak mau ngertiin!"

Keyla diam. Entah untuk keberapa ratus kalinya dia mendengar bentakan itu keluar dari mulut Ega. Rasanya dia ingin menyerah begitu saja. Dia tak mampu terus menjalani semuanya dengan Ega. Setahun sudah dia melalui masa-masa kebersamaan dengan Ega.

"Kamu bisa nggak ngomongnya pelan-pelan?"

"Lo ngeselin sih! Udah sana pergi jangan ganggu gua!"

***

Sore itu, di sanalah mereka berada. Keyla dan Anggi sedang membuka sesi curhat di pinggir kolam ikan di rumah Keyla. Mata Keyla sudah sangat sembap. Mukanya sudah terlihat sangat lelah.

"Aku nggak tau harus gimana lagi Nggi. Aku capek. Ega semakin berubah." jelas Keyla sambil sesegukan.

"Tapi cuman kamu yang mampu ngimbangi dia. Di balik sifat kerasnya, kamu mampu melembutkannya. Dia egois dan kamu pemaaf. Kamu penyabar. Pokoknya cuma kamu yang bisa ngimbangi dia." nasihat Anggi panjang lebar.

"Nggak tau deh. Dia sekarang berubah drastis. Mana kami bakal LDR juga. Komunikasi sekarang aja udah susah. Apalagi nanti kalau udah LDR?" keluh Kesya.

"You're the strongest girl!"  Anggi mengelus bahu Kesya lembut.

***

"Pokoknya setahun lagi kamu siap ngelamar dia ya. Mama yakin dia pasti jadi istri yang baik buat kamu."

"Tapi Mah..."

"Mama udah pilih seseorang yang tepat untuk kamu. Jadi tolong, tinggalkan pacarmu yang nggak bisa menikah cepat sekarang-sekarang ini dan menikahlah dengan pilihan Mama."

Keyla terkejut saat mendengar itu. Ternyata, perubahan sikap Ega selama ini karena sebuah perjodohan. Pantas saja Ega dulu bilang bahwa dia tidak akan mengerti apa-apa. "Ya Tuhan!" batin Keyla.

Ega keluar dari rumah dan mendapati Keyla mematung di pintu rumah dengan muka memerah siap untuk menumpahkan sebanyak apapun air mata yang dimilikinya.

"Keyla!"

Keyla berusaha melepaskan genggaman tangan Ega. "Kamu nggak perlu jelasin apa-apa. Semua emang udah jelas. Kita akhiri semuanya di sini!" Keyla berlari pergi meninggalkan Ega yang masih berdiri kebingungan. Setibanya di luar gerbang, Keyla tidak menyadari ada mobil yang melaju sangat kencang.

CKIIIIIIIIIIIIIKKKKKKKKK! Tabrakan pun tak dapat dihindari. Keyla terlempar beberapa meter sebelum akhirnya jatuh ke aspal dan kepala belakangnya terbentur sangat keras.

"Keylaaaaaaaaaaa!!!!!" Ega berlari menghampiri pacarnya yang tergeletak bermandikan darah di jalan. Ega berusaha membangunkan Keyla. Namun percuma, Keyla sudah tak bernyawa.

Ribuan bahkan jutaan tetes air mata Ega tak mampu menggantikan nyawa pacarnya itu kembali. Namun Ega tak mampu menahan sakit yang dideritanya. Kehilangan orang yang sangat dicintainya. Dia belum menjelaskan apa-apa pada Keyla. Baru saja beberapa detik yang lalu Keyla marah dan meninggalkannya. Ternyata, dia mengakhiri semua itu untuk selamanya.

"Keylaaaa! Maafin aku! Aku sayang kamu! Jangan tinggalin aku Keylaaaaaaaaaaaaa!"

Penyesalan selalu datang terlambat. Dia mungkin sering membuatmu kesal. Sering membuatmu marah. Tapi di balik semua itu, dia masih mampu mengimbangimu. Dia masih sabar dan tahan akan sifat egoismu. Percayalah, dia pasti sangat mencintaimu. Jika kamu meninggalkannya, belum tentu kamu bisa menemukan orang baru sepertinya. Sebelum menyesal, jagalah dia dan bahagiakan dia. Sebanyak apapun kekurangannya, Tuhan sengaja menciptakanmu untuk menutupi kekurangan itu dan menjadikan kalian sebagai pasangan yang sempurna yang bisa saling melengkapi satu sama lain.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...