Putih Abu-Abu Itu, Tinggal Kenangan

Tuesday, June 19, 2012

Jeritan tangis kebahagiaan itu jelas terdengar. Sangat nyaring. Masih tak percaya dengan kebahagiaan itu. Yap. Kelulusan itu tiba. Kami semua lulus. Sekolah kami lulus 100%. Bagaimana kami tidak bahagia mendengar kabar baik itu?

------------------------------------------------------------------------------

Rasanya hilang sudah semua beban yang aku tanggung selama ini. Tapi, tunggu! Apa aku bahagia sepenuhnya? Tidak! Aku jelas tidak bahagia sepenuhnya! Aku tidak bahagia ketika aku harus kehilangan mereka. Aku sedih! Sedih karena harus kehilangan orang-orang yang sangat aku sayangi dan cintai. Ya, mereka adalah teman-teman seperjuanganku. Mereka adalah orang yang rela berbagi suka dan duka denganku. Mereka adalah orang yang rela berkorban untukku. Mereka adalah orang yang menyempatkan waktunya untuk sekedar membantuku atau hanya untuk mendengarkan ceritaku. Mereka adalah orang yang selalu memberiku semangat saat aku jatuh, yang selalu melengkapi cerita masa SMAku. Masa SMA? Tidak! Aku tak ingin mereka hanya menjadi pelengkap masa SMAku, aku juga ingin mereka terus menjadi pelengkap hidupku.

Masih kuingat jelas bagaimana mukaku dan muka-muka mereka, saat guru yang kami takuti masuk ke kelas. Aku tidak tau persis, tapi yang aku tau, kami ingin segera mengakhiri pelajaran itu. Masih kuingat jelas, bagaimana saat kebanyakan dari kami tidak diperbolehkan masuk kelas karena terlambat. Masih kuingat jelas, bagaimana jantungku berdegup kencang saat guru yang kutakuti menyuruh teman-temanku satu per satu maju ke depan untuk mengerjakan soal-soalnya. Meskipun aku tidak disuruh mengerjakan soal, tapi aku ikut merasakan takutnya. Rasanya saat itu seperti kiamat. Omelan hangat selalu kami dapatkan saat soal-soal itu tak dapat dijawab dengan benar. Bahkan akhirnya selalu berujung dengan bentakkan. Tapi biar bagaimanapun, guru biologi itu adalah guru terbaik bagi kami, dan kami menyebut beliau, Bunda.

Masih kuingat jelas, bagaimana seorang guru fisika kami selalu menghangatkan suasana kelas. Beliau selalu menyempatkan leluconnya di tengah-tengah pelajaran. Aku tau, fisika itu bukan pelajaran yang mudah. Maka dari itu aku sangat bersyukur dapat belajar fisika dengan beliau.

Masih kuingat jelas, bagaimana saat aku menghabiskan waktu jam pelajaran kosong dengan teman-teman di kelas. Hanya sekedar mengobrol-ngobrol ringan, makan-makan, atau berfoto-foto. Semua itu terasa indah, sampai akhirnya kedatangan guru yang bersangkutan menghancurkan semuanya. Hehehe...

Masih kuingat jelas, bagaimana sindiran-sindiran kami begitu pedas terucap ketika kami membenci sikap adik-adik kelas kami yang bertingkah sok! Bukankah kakak-kakak kelas mereka mengajarkan hal yang baik? Bagaimana sikap mereka bisa menyimpang? Entahlah. Yang jelas, aku selalu mengeluarkan sindiran-sindiran panas ketika mereka berlaku sok di depan kami.

Masih kuingat jelas, bagaimana ketika kami mendapat tugas dari guru yang tidak bisa datang ke kelas. Jika tugas itu tidak dikumpulkan, maka kami akan mengabaikannya dan kembali mengobrol atau menonton film. Ya! Infokus di kelas terkadang selalu kami gunakan untuk menonton film bersama. Haha (mohon jangan ditiru). Tapi kami lebih sering menonton film hanya sekedar di laptop dan dikerumuni bersama.

Kenangan itu terlalu banyak. Entah berapa juta kata yang harus kuungkapkan untuk mendeskripsikan semua kenangan-kenangan yang pernah terjadi. Memang benar apa kata pepatah, masa SMA adalah masa yang paling indah. Dan aku memang menyetujuinya.

Entah harus menangis atau tersenyum. Ada kesedihan di balik kebahagiaan. Aku senang, senang karena lulus SMA dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Tapi aku sedih, sedih karena harus kehilangan orang-orang yang aku sayangi. Mereka, teman-teman terbaikku. Terima kasih kalian pernah mejadi krayon dalam hidupku. Aku berharap, tetaplah menjadi krayon untuk terus mewarnai hari-hariku.

Terima kasih untuk guru-guru yang pernah mendidikku, yang tak pernah lelah untuk memberikan ilmunya padaku, yang selalu sabar menghadapi tingkahku. Tanpa kalian, aku tak mungkin bisa seperti ini. Maaf, aku selalu menyusahkan kalian. Maaf juga, aku belum bisa membalas jasa-jasa kalian. Doakan aku ya Bu, Pak, semoga suatu saat aku bisa membanggakan kalian dengan prestasiku.

Tiga tahun ini terlalu singkat. Tapi aku tak ingin memutar waktu untuk kembali. Biarlah semuanya berlalu. Akan kukenang selalu bagaimana aku menghabiskan waktu 3 tahunku di SMA. Yang jelas, aku benar-benar beruntung pernah mengalami saat-saat indah itu. Tak lupa, aku mengucapkan terima kasih untuk "kamu" di sana yang juga menambah cerita di masa SMAku.

Kini semuanya selesai. Kututup buku cerita SMAku dan akan kubuka lembaran baru nanti. Bye putih abu-abu :)


much love

You Might Also Like

0 komentar

Komentar gratis, curhat gratis, iklan bayar!

recent posts