Thursday, 25 August 2011

♥LOVE♥

No comments:




Cinta...............

Ngomongin tentang cinta pasti gak akan pernah ada habisnya.

Ngomongin tentang cinta pasti kita langsung terfokus pada perasaan.

Ngomongin cinta itu gak bisa pakai logika.




Cinta itu apasih?






Menurut gue apa ya? Memang susah sih buat di deskripsikannya. Tapi menurut pengalaman (cieee......gaya gue-_-) cinta itu adalah perasaan yang tumbuh dari hati dan ditujukan bagi siapapun dengan tulus tanpa disadari. Bisa untuk keluarga, mama, papa, saudara, pacar, suami, istri, om, tante, sahabat, teman dan lain-lain.




Jadi nih, cinta itu gak harus buat pacar aja loh ya. Inget. CINTA GAK CUMA BUAT PACAR!
Gue ulang biar jelas hehe....





Gue sendiri kadang gak ngerti sama si cinta. Dia itu datang tanpa diundang pulang tanpa diantar *eh. Dia datang pada siapa aja, dimana aja dan dalam situasi apa aja. Kadang gue juga gak bisa ngerti dengan kehadiran cinta.





Cinta itu bikin seneng, bikin bahagia, bikin kita ngefly juga. Pokoknya kalau lagi falling in love itu rasanya dunia itu maniiisss banget. Dunia serasa berpihak pada kita. Tapi nyadar gak? Begitu kita lagi broken heart, WOW. Dunia serasa gelap, badai datang, petir saling menyambar, langit bergemuruh, angin bertiup sangat kencang (oke ini lebai.....hihihi)

Maksud gue tuh, boleh aja sih kalau mau jatuh cinta, lagian juga cinta datang tanpa kita sadari kan? Nah tapi jangan "terlalu". Maksudnya, jangan terlalu dirasakan manisnya. Karena nanti pahitnya juga kerasa terlalu berlebih.



Ngerti gak sih?



Ya pokoknya gitu deh ya. Kalau terlalu dinikmain manisnya, nanti juga bakal kerasa terlalu pahitnya.









Ya gue sih cuma saran aja ya, sesuai dengan pengalaman gue sendiri. Karena jujur, kalau kita melakukan sesuatu dengan "terlalu" akan ada hal yang berlawanan dengan itu yang kita rasakan juga terlalu.


Misalnya, kita terlalu berharap sama seseorang. Pas tau dia cuma PHP (Pemberi Harapan Palsu) rasanya itu sakiiiiiiiittt banget, ya kan? Yah ngaku aja deh gue juga pernah kok gitu hahaha




Tapi memang susah juga buat enggak terlalu berharap itu. Ya deh gue ngaku gue juga ngerasain hal yang sama.

LOVE IS COMPLICATED! right?





Tapi jangan kira loh, cinta juga bisa ngerubah segalanya. Maksudnya gimana ya? Ya pokoknya cinta itu bisa bikin segalanya jadi indah. Mood tambah baik, makin semangat, pokoknya bikin dunia penuh warna deh gitu:3






Cinta sebenernya gak pernah salah. Gak lucu juga kalau kita nyalahin cinta, kan?
Tapi menurut gue kita-lah yang salah dalam menyikapi cinta. Kita harus bisa milih-milih cinta, maksudnya bukan milih apanya.......gitu ya.
Tapi milih cinta yang baik. Kita juga harus mau berjuang untuk cinta atau mengalah demi cinta.





Aduh gue pusing tau ngomongin cinta. Berhubung gue masih kelas XII SMA dan masih kecil, jadi cukup sekian deh sharing gue tentang cinta ini. Ya?
Oke love you all♥



Sunday, 21 August 2011

Cerpen: Cinta Dua Hati

No comments:
“Aldo...” panggil Sisha manja.
“Eh kamu sayang. Sama siapa?” Aldo melihat ke belakang Sisha. Biasanya Sisha tidak berani jalan-jalan di sekolah sendiri. Dia selalu minta antar temannya atau Aldo.
“Aku sendiri hehe,”
“Lho tumben kamu berani?”
“Iya terpaksa sih hehe, habis temen-temen pada gak mau nganter,” Sisha duduk di samping Aldo.
“Kenapa gak telepon biar aku jemput?”
“Aku gak mau bikin kamu repot Aldo,” Sisha tersenyum manis.
“Kamu gak bikin aku repot kok sayang,” Aldo mengelus kepala Sisha lembut.
“Eh di kelas aku ada murid baru lho Do,”
“Oh ya? Siapa? Cewek atau cowok?”
“Cewek namanya Dita. Kamu gak boleh suka lho sama dia. Dia anaknya cantik banget sih,”
“Haha kamu itu gak percaya sama aku ya,” Aldo mencubit pipi Sisha.
“Aku kan takut Do, kamu kan playboy,”
“Enggak, aku kan udah taubat. Aku udah setia sama kamu,”
“Hehe iya makasih Aldo sayang...” Sisha tersenyum manis.
***
Aldo berjalan menuju kelas XII IPA 1, kelas pacarnya—Sisha. Tapi tanpa sengaja dia melihat gadis cantik berdiri di koridor depan kelas XII IPA 1.
“Hai,” sapa Aldo ramah.
Gadis itu tersenyum manis dan sepertinya Aldo mengenali senyumannya. Entah, siapakah dia yang jelas Aldo mulai tertarik untuk mengetahui gadis itu lebih jauh.
“Murid baru ya?” tanya Aldo berbasa-basi.
“Iya,” gadis itu tersenyum ramah.
“Namanya? Pindahan dari mana?” Aldo mengulurkan lengannya.
“Dita dari SMAN 1 Garut,” membalas uluran lengan Aldo.
“Oh orang Garut ya, kenapa pindah ke sini?” tanya Aldo sok akrab.
“Ikut papa kerja,” Dita tersenyum manis.
Lagi-lagi Aldo teringat akan senyuman itu. Aldo seperti mengenalinya tapi dimana?
“Kok diam? Oh iya, nama kamu siapa?” tanya Dita.
“Eh iya maaf, nama aku Aldo,”
“Aldo? Aldo Rendra itu ya?”
Aldo terkejut karena Dita mengetahui nama lengkapnya. Dari mana dia tau? “Lho, kok tau?”
“Duh aku kan teman kamu yang dari twitter itu lho, dulu kan kita sering mention-an masa kamu lupa sih?”
Oh ya. Kini Aldo baru ingat, senyum Dita pernah ia lihat dari avatar Dita di twitter. Pantas saja Aldo teringat akan sesuatu. Jadi dulu, Aldo itu pernah suka sama Dita sebelum dia jadian dengan Sisha. Tapi berhubung Dita jauh dan sudah punya pacar, mereka tidak pernah lagi berhubungan di twitter. Makanya, Aldo lupa dengan Dita.
“Kok diem Do?”
“Eh maaf Dit. Hehe aku baru ingat. Maaf ya,”
“Iya gak pa-pa kok maklum aja ya berapa bulan kita gak pernah berhubungan. Kabar kamu gimana?” Dita mulai akrab.
“Ya aku baik-baik aja kok, eh gimana sama pacarnya?”
“Hmm.. udah putus Do,”
“Lho kok? Padahal kan kamu jadian udah lama ya sama dia? Tiga tahun kan?”
Dita mengangguk.
“Terus putusnya kenapa?”
“Dia udah gak percaya sama aku, dia ngira aku ini lah, aku itu lah, aku kan jadi males juga,” ungkap Dita jujur.
“Hmm, sabar aja ya Dit,” Aldo mengelus bahu Dita.
Dita tersenyum. “Eh aku duluan ya,” lanjutnya sambil beranjak pergi meninggalkan Aldo.
Aldo melambaikan tangannya.
“Aldo!” teriak Sisha yang berlari menghampiri Aldo.
“Eh kamu Sha,”
“Kamu dari mana sih? Aku cari ke kelas kamu gak ada,” Sisha manyun.
“Lah aku kan ke kelas kamu mau jemput. Kamunya malah gak ada,”
“Ah bohong. Pasti ketemu Dita kan?”
“Hah? Eng... enggak kok Sha enggak,” jawab Aldo gugup.
“Ngaku deh Do, kamu pernah kenal dia kan?”
Aldo terkejut. Dari mana Sisha tau? Atau jangan-jangan dia pernah liat gue dan Dita di twitter dulu?
“Kamu jangan sok tau deh, aku baru tau sejak tadi istirahat kamu bilang di kantin itu,”
“Awas aja kalau kamu bohong!” jawab Sisha kesal sambil pergi meninggalkan Aldo.
Aldo berlari mengejar Sisha untuk mengantarnya pulang.
***
Pagi-pagi sekali Aldo telah datang di sekolah. Entah mengapa hari ini dia ingin sehari saja lebih dekat dengan Dita. Memang, di twitter Dita terlihat sangat seru. Tapi menurut Aldo, bertemu langsung dengan Dita ternyata lebih menyenangkan.
Ya Tuhan perasaan apa ini? Seorang Dita yang pernah gua suka kini hadir di dunia nyata. Hadir di hadapan gua. Orang yang dulu pernah gua suka jauh lebih dulu sebelum gua mengenal Sisha. Perasaan macam apa ini? Apa gua benar-benar jatuh cinta sama Dia? Ah gak! Gua gak mau mengecewakan Sisha. Tapi gua juga masih sayang sama Dita. Apa yang harus gua lakukan? Cinta dua hati.....
“Aldo, kok ngelamun?” tanya Dita ramah dan langsung duduk di kursi sebelah Aldo.
“Eh kamu Dit. Enggak kok, aku gak ngelamun,”
“Ah bohong,”
“Serius. Dua rius malah,” canda Aldo garing.
“Yah susah ah ngomong sama kamu. Eh btw aku gak nyangka lho bisa ketemu langsung sama kamu,” ujar Dita.
“Haha sama lho aku juga, ternyata aslinya kamu lebih cantik ya,” aku Aldo. Ya Tuhan, apa yang gua bilang tadi? Ah sial! Gua gak boleh terlalu dekat sama Dita! Gua gak mau sayang sama dia! Lanjut Aldo dalam hati.
“Dih ngegombalnya bisa aja,” Dita tersenyum manis.
“Hehe, eh Dit aku duluan ya. Masih banyak tugas nih. Bye,” Aldo pergi menuju kelasnya.
“Yah, padahal aku masih pingin ngobrol banyak sama dia,” gerutu Dita.
***
Semakin hari, Aldo dan Dita semakin dekat. Entah, Aldo malah semakin menyayangi Dita. Salahnya Dita juga mendekati Aldo sejauh ini membuat Aldo semakin berharap. Dan semakin hari juga Sisha semakin curiga dengan sikap Aldo. Aldo sekarang jarang mengobrol dengannya saat istirahat, selalu tidak bisa menjemputnya untuk pergi sekolah bersama, tidak bisa pergi jalan-jalan dan lainnya.
“Sha kok gak pulang sama Aldo?” tanya Imel.
“Eh itu katanya dia mau bikin tugas,” jawab Sisha murung.
Imel terkejut, tapi dia hanya ber’oh’ dan segera pergi.
“Kamu gak pulang sama Aldo Sha?” tanya Gisel yang bertemu dengan Sisha di koridor.
Aneh, hari ini orang-orang kok pada nanya yang sama. Kenapa ya? Batin Sisha.
“Hello Sha...” Gisel menggoyangkan telapak tangannya tepat di hadapan wajah Sisha.
“Eh sori Sel. Enggak nih, dia mau buat tugas katanya,”
“Hah? Eng... oh, iya deh,” Gisel langsung beranjak pergi.
Dan di depan kantin Sisha bertemu dengan Panji yang sedang menatapnya.
“Mau nanya juga aku gak pulang sama Aldo?”
“Hah? Enggak kok. Orang Aldo lagi jalan sama murid baru itu di belakang sekolah,” jawab Panji polos.
“Apa?” Sisha terkejut.
“Serius. Gua liat sendiri tadi. Ya udah ah gua duluan ya,” Panji pergi meninggalkan Sisha.
Betapa terkejutnya Sisha mendengar ucapan Panji tadi. Pantas saja Imel dan Gisel bertanya hal yang serupa. Sepertinya mereka telah melihat Aldo dan Dita. Ingin membuktikan ucapan Panji, dengan segera Sisha pergi ke halaman belakang sekolah. Dan lebih terkejut lagi ketika melihat Aldo dan Dita sedang mengobrol berdua. Saat itu juga, hatinya serasa tersambar petir, tersengat listrik dan tertimpa batu gunung. Sangat sakit.
“Aldo!” teriak Sisha menghampiri Aldo dan Dita.
Aldo terkejut mendengar suara yang sangat tak asing baginya. Dia menoleh dan...
PLAK!
“Kamu udah buang kepercayaan aku sama kamu! Puas kamu bikin aku sakit hah!” Sisha mendorong Aldo hingga terjatuh.
“Cewek gatel!” Sisha mendorong bahu Dita hingga ia mundur beberapa langkah.
Sisha pergi dengan air mata mengalir deras di pipinya.
“Sisha tunggu!” Aldo berusaha mengejar Sisha hingga ia memegang lengannya.
“Gak usah pegang tangan aku! Gak pantas tangan aku dipegang sama orang kotor kayak kamu!”
“Sha maaf Sha, aku sama dia tuh gak ada pa-pa,”
“Udah lah Do! Kamu itu udah buang kepercayaan aku sama kamu, jadi tolong pergi aja dari aku. Sekali aku udah dibuat kecewa, selamanya aku gak akan pernah percaya lagi sama kamu!” Sisha kembali meneruskan langkahnya pergi.
Aldo terkejut mendengar ucapan Sisha barusan. Sesakit itukah hatinya Sisha?
***
Dua minggu berlalu. Sisha masih tidak mau bicara dengan Aldo. Rasanya Sisha sudah benar-benar membenci Aldo. Dan Aldo pun sudah mulai bingung, cara apa lagi yang harus ia lakukan agar Sisha mau memaafkannya? Hubungan mereka pun sudah tidak tahu lagi kemana arahnya.
“Sha, itu ada penggemar lo katanya mau ketemu lo di kantin,” Imel datang menghampiri Sisha.
“Penggemar? Sejak kapan aku punya penggemar?”
“Yah harusnya lo bangga dong punya penggemar. Udah gih ke sana aja, dia pakai jaket merah katanya,”
Penggemar? Sejak kapan aku punya penggemar ya? Ah ada-ada aja adik kelas sekarang nih. Batin Sisha terus mengoceh hingga ia tiba di kantin. Dia mulai mencari seseorang yang berjaket merah sesuai ciri-ciri yang disebutkan Imel.
“Eh maaf, kamu penggemarku bukan?” tanya Sisha ragu.
“Hah? Geer banget lo,” jawab orang itu cuek.
Sisha malu. Sangat malu, ternyata dia salah orang. Dia mulai menghampiri orang-orang lain yang berjaket merah dan selalu salah. Hingga akhirnya sisa satu orang lagi yang berjaket merah.
“Mudah-mudahan dia deh. Malu banget aku selalu salah orang. Bikin ribet aja sih itu penggemar. Yang mau ketemu dia kok aku yang repot ya?” gerutunya pelan.
“Maaf, kamu penggemarku bukan?” tanya Sisha hati-hati.
Cowok itu tanpa menjawab langsung memeluk Sisha.
“Eh eh lepas. Kamu siapa sih main peluk-peluk aja,”
Cowok itu melepas jaketnya dan membuka samarannya. Dia tersenyum manis pada Sisha.
“Aldo?” Sisha terdiam sesaat. “Mau apa lagi sih kamu? Udah aku bilang gak usah ganggu aku lagi! Aku udah kecewa sama kamu dan kamu sendiri yang bikin aku kecewa berat sama kamu!” bentak Sisha.
“Sha please. Aku enggak ada pa-pa sama Dita. Oke jujur, dulu aku memang suka sama dia dan aku udah kenal dia dari twitter. Tapi perasaan aku ke dia tuh gak sebanding sama sayang aku ke kamu Sha!”
“Tuh kan! Kamu dulu bilang gak kenal sama dia, kamu gak suka sama dia. Tapi buktinya? Kamu bohong lagi kan?”
“Iya aku minta maaf Sha, aku bakal melakukan apapun asal kamu mau maafin aku,”
“Oke, kalau kamu sayang sama aku tolong jauh-jauh dari aku,”
“Sha, itu gak bisa!”
“Kenapa? Bukannya kamu sayang?”
“Sha please Sha, kasih aku satu kali lagi kesempatan. Aku serius sama kamu Sha,”
“Serius mau bohong lagi sama aku? Hah kamu fikir aku cewek bego gitu? Buang-buang waktu aja di sini,” Sisha pergi keluar dari kantin.
Setibanya di pintu, Dita mencegatnya. “Kamu gak bisa bohong sama perasaan kamu sendiri Sha, kenapa sih gak bilang aja kalau kamu masih sayang sama Aldo?”
“Jangan sok tau kamu. Awas aku mau pulang!”
“Kamu mau bohong sama perasaan kamu sendiri? kamu mau sia-siakan kesempatan ini?”
“Maksud kamu apa sih?”
“Bukti kalau kamu masih sayang dia, kamu pergi dari tempat ini karena kamu gak mau kan liat Aldo sama aku? Bukankah itu cemburu? Bukankah cemburu itu tanda sayang?”
“Heh cewek gatel! Asal kamu tau ya, aku pergi dari sini karena aku males liat Aldo!”
“Oke kamu silahkan pergi tapi setelah itu jangan berharap Aldo minta maaf lagi sama kamu,”
Sisha terdiam. Dita yang melihat gelagat Sisha itu segera memberi isyarat pada Aldo agar menghampiri mereka.
“Sha, kamu mau kan maafin aku? Aku tau kok kamu masih sayang sama aku,”
Sisha berbalik dan memeluk Aldo erat. Ia menangis dalam pelukan Aldo. Aldo tersenyum pada Dita. Begitupun sebaliknya. Semua orang di kantin bersuit-suit. Karena baru menyadari banyak orang di kantin, Sisha segera melepaskan pelukannya.
“Iya aku maafin kok Do,” ujar Sisha dalam tangis bahagianya. “Jangan diulang lagi,”
“Makasih ya Sha, ak janji kok bakal terus setia,” Aldo tersenyum pada Sisha.
Sisha mengangguk diikuti suit-suit ricuh. “Terus Dita?”
“Aku udah balikan sama mantan aku kok seminggu lalu,” jawab Dita senang.

Wednesday, 3 August 2011

Cinta Masa Lalu

No comments:
“Eh Lintang turunin aku dong...” Vini merengek minta turun.
Saat itu, Lintang sedang menggendong Vini seperti pengantin.
“Nanti kalau udah besar aku gendong kamu kayak gini lagi ya? Kan kita mau nikah,” jawab Lintang polos sambil menurunkan Vini pelan-pelan.
Vini speechless. Mukanya memerah.
“Kamu kok gak jawab? Kamu gak mau nikah sama aku ya?”
“Kok kamu ngomongnya gitu? Kita kan masih kecil... masih enam tahun,” Vini tersenyum.
“Ya enggak apa-apa, jadi nanti kalau udah besar kamu enggak boleh cari cowok lain karena kamu mau nikah sama aku,”
Vini hanya tersenyum manis...
***
10 tahun kemudian...
“Ya ampun Vini, lu ngapain sih ikut-ikut gua terus? Malu tau gak diliat sama siswa lain!” Lintang membentak Vini di belakang kantin.
“Sori Lin, gua cuma pingin memperhatikan keadaan lu doang kok,”
“Iya tapi gak gini caranya! Dari tadi pagi lu ikut-ikut kemanapun gua pergi. Risih tau gak?”
Vini terdiam. Dia menunduk.
“Mending sekarang lu pergi deh, gua mau ke WC. Mau ikut lu?”
Vini shock. Tanpa berkata lagi, dia segera pergi meninggalkan Lintang yang ternyata berhasil menipunya.
***
“Vin, mending lu berhenti ngejar-ngejar Lintang deh. Lu tau kan dia itu banyak ceweknya? Dan apa selama ini misi lu berhasil buat mendapatkan Lintang dan minta maaf sama dia? Nyatanya kan malah dia selalu marah sama lu, malah pergi menjauh dari lu, dan lebih parah lagi dia malah cari cewek lain,” Oshi—sahabatnya Vini menasihati.
“Gua akan berhenti, kalau sesuatu hal memang menyuruh gua buat melakukan itu,” jawab Vini yang membuat Oshi kebingungan.
“Maksud lu?”
“Tau ah,”
“Lu tuh susah ya kalau gua kasih tau,”
“Bukannya gitu Shi, gua gak mau nyerah. Gua mau membuktikan kalau selama ini perasaan gua sama dia tuh tulus,”
“Lu tau apa sih tentang tulus? Selama ini cinta lu selalu bertepuk sebelah tangan kan sama dia? Cinta lu itu gak pernah dibalas sama dia!”
“Iya gua tau, dan gua juga yakin dia gak suka sama gua...”
“Nah maka dari itu mending lu pergi! Gua gak mau liat lu terus-terus ngejar orang yang gak pernah peduli sama lu,” Oshi memotong ucapan Vini.
“Tapi gua yakin suatu saat dia bakalan berubah,” Vini tersenyum-senyum.
“Hhhh....” Oshi mengeluh. Entah bagaimana menyadarkan sahabatnya itu. Tapi dia berharap semoga waktu kan tunjukan jalannya.
***
Pulang sekolah, Vini segera bergegas menuju kelasnya Lintang. Tapi setibanya di sana, Vini melihat Lintang sedang menggandeng seorang cewek salah satu anak dancer. Vini terkejut, tapi baginya itu bukanlah hal yang baru.
Karena tak ingin mengganggu, akhirnya Vini pulang dengan hati yang sakit. Bukan untuk pertama kali hatinya sesakit ini.
“Tuh kan apa gua bilang. Lintang bukan buat lu,” Oshi datang tiba-tiba sambil mengelus pundak Vini.
“Udah biasa kok, suatu saat dia bakalan berubah,” Vini pergi dengan air mata yang menetes.
“Vini, kapan sih lu sadar,” ucap Oshi lemah.
***
“Lintang...” Vini mengetuk pintu kamar Lintang sambil membawakan sarapan pagi untuk Lintang.
“Aduuhhh... berisik lu!” Lintang berteriak kasar.
Vini terdiam. Bi Onah—pembantunya Lintang, hanya dapat menatap Vini iba. Selalu dan selalu Vini diperlakukan seperti itu oleh Lintang.
“Non sabar ya,”
“Gak pa-pa kok Bi, udah biasa,” Vini tersenyum. Padahal dalam hatinya ia menangis. Kenapa Lintang berubah drastis kayak gini?
Penyebab Lintang seperti itu, karena pada saat menginjak SMP Vini pindah ke Surabaya. Dan di sana dia menemukan cowok yang membuatnya benar-benar bahagia. Saat itu betapa sakitnya hati Lintang, karena dia selalu mengharapkan Vini. Dia sangat menyayangi Vini. Tapi hubungan Vini tidak berlangsung lama. Dan begitu Vini kembali ke Depok kelas tiga SMP, Lintang mulai membencinya dan mulai menjauhi Vini.
Kini sikap Lintang sangat berubah. Vini selalu merasa bersalah dan berusaha untuk memperbaiki kesalahannya. Dari mulai mengantarkan sarapan pagi untuk Lintang, mengikuti Lintang kemanapun dia pergi, menemaninya jalan-jalan, membantu mengerjakan tugas dan lainnya. Tapi rasanya Lintang sudah benar-benar mati rasa pada Vini.
Ya, Lintang sudah benar-benar membenci Vini.
***
Pagi itu Vini terbaring lemah di kasurnya. Entah mengapa, tapi ia merasa keadaannya tidak begitu baik. Mama dan Papanya telah mengajaknya untuk pergi ke dokter, tapi Vini menolak.
“Vin, kita ke dokter yuk,” ajak Mama dengan lembut.
“Gak mau Mah...”
“Vini, jangan bikin Mama sama Papa khawatir deh,”
“Papa, aku baik-baik aja kok. Percaya deh,” Vini tersenyum manis pada Papa.
Mama dan Papa saling bertatapan.
“Uhuk.. uhuk... uhuk...” Vini terbatuk keras berulang kali sampai akhirnya ia muntah darah. Vini terkejut. Ya Tuhan, kenapa ini?
“Vini!” ucap Mama dan Papa berbarengan. Mereka terlihat shock.
Vini segera mengelap lengannya yang ada darah sedikit itu. “Aku gak pa-pa kok Mah, Pah,”
“Vini, kamu masih bilang gak pa-pa? Kamu udah muntah darah Vin, kamu harus ke dokter sekarang. Ayo Pah,” Mama terlihat panik.
Vini tak bisa berbuat apa-apa, akhirnya ia menuruti Mama dan Papa untuk pergi ke dokter.
Ya Tuhan, kasih Vini umur panjang... batin Vini berdoa.
***
Oshi berkali-kali menatap pintu kelas, tapi sudah sepuluh menit pelajaran berlalu Vini tidak datang juga. Oshi mulai cemas dan khawatir.
“Pak,” Oshi mengangkat tangannya.
“Ya? Ada apa Oshi?” tanya Pak Dedi yang sedang duduk mencatat absensi.
“Boleh saya permisi?”
“Oh iya silahkan,”
Oshi bergegas keluar kelas menuju belakang kantin untuk menghubungi Vini.
“Halo,” sapa Vini di sebrang sana.
“Vin, lu dimana? Kenapa gak sekolah?”
“Sori Shi gua sakit, gua lagi di dokter ini. Sori banget ya,” suara Vini terdengar melemah.
“Hah? Lu sakit apa Vin? Kenapa gak bilang dari tadi?”
“Iya sori banget gua lupa,”
“Hmm... oke deh nanti gua telepon lagi deh ya,”
“Iya iya Shi. Thank you ya,”
“Sip...” Oshi menutup handphone-nya.
***
Sepulang sekolah Oshi mencoba mendatangi kelasnya Lintang. Dia berharap Lintang mau menengok teman kecilnya ke rumah sakit.
“Lintang!” seru Oshi pada Lintang yang ternyata sedang melangkah menuju tempat parkir bersama mantannya—Hilda.
Lintang dan Hilda menoleh. “Eh lo,” Lintang menghentikan langkahnya.
“Lin, lu harus nengok Vini sekarang juga!”
“Kenapa sih? Udah gua bilang gak akan ada lagi Vini!” bentak Lintang.
“Vini sakit, dan dia harus menjalani perawatan selama beberapa hari. Makanya kita harus tengok dulu dia,”
“Gak usah. Kan sakitnya belum parah,” sambar Hilda sambil menoleh tajam pada Oshi.
“Oh jadi sekarang lu udah benar-benar lupa sama teman kecil lu? Lu udah gak peduli lagi sama dia? Bagus ya! Padahal kalau Vini cerita tentang lu dan dia dulu, kalian tuh saling sayang. Tapi sekarang? Jauh berubah!” Oshi pergi dengan kesal.
Lintang terdiam. Dia mencerna kata-kata Oshi dan....
“Oshi tunggu!” Lintang meneriaki Oshi yang sudah jauh berada di hadapannya.
Oshi menghentikan langkahnya. Dia membalikan badannya.
“Gua ikut,” Lintang berlari menghampiri Oshi.
“Seriusan?” mata Oshi berbinar-binar.
“Ya. Gua gak mau terus-terus cuek sama dia gitu, di masa lalu ataupun masa yang akan datang gua akan selalu jadi teman terbaik untuk Vini,” Lintang tersenyum manis.
“Oke deh. Yuk,”
Lintang mengikuti langkah Oshi. Eh, dia lupa akan kehadiran Hilda. “Gua duluan ya Hil,”
Hilda tak menjawab. Ia hanya menggerutu kesal.
***
“Apa Mah?” Papa terkejut begitu mendengar penuturan Mama.
“Pah, apa yang harus kita lakukan? Leukimia itu belum ditemukan obatnya... Mama gak percaya kalau umur Vini tinggal sebulan lagi,” Mama menangis.
“Papa gak tau Mah, Papa juga gak tega kalau harus kasih tau Vini,”
Vini yang secara tidak sengaja mendengar pembicaraan Mama dan Papanya sangat terkejut. Dia menangis, perlahan demi perlahan air matanya mengalir deras.
“Vini?” Oshi menghampiri Vini sambil memeluknya.
“Vin...” ucap Lintang lemah.
Vini menatap Lintang. “Ngapain lu?”
“Gua mau nengok lu. Gua khawatir katanya lu dirawat,”
“Terlambat!” ucap Vini kecut.
“Maksud lu?”
“Gua minta maaf kalau selama ini selalu nyusahin lu,” Vini mengabaikan pertanyaan Lintang.
“Lu ngomong apa sih Vin?” Oshi bingung dengan ucapan Vini.
Vini tidak menjawab lagi pertanyaan Lintang dan Oshi. Dia beranjak ke tempat tidur dan menutup matanya tanpa mempedulikan lagi kedua temannya.
***
Oshi dan Lintang berusaha membujuk Mama Vini untuk menceritakan penyakit Vini. Dengan penuh kehati-hatian, Mama Vini akhirnya menceritakan semua penyakit yang telah Vini derita sejak tiga bulan lalu.
Lintang terdiam. Dia menunduk lemah. Gua mimpi? Ya Tuhan bangunkan gua dari mimpi buruk ini! Gua gak mau kehilangan Vini secepat ini! Gua sayang sama Vini!
“Tante... serius?” suara Oshi melemah.
Mama Vini mengangguk lemah. Lagi-lagi air mata menetes dari pelupuk matanya. “Tante gak percaya sama semua ini, ini seperti mimpi,”
Lintang berlari meninggalkan ruang tunggu tanpa berpamitan. Entah, rasanya ia ingin mati dan menghilang dari kenyataan pahit itu sekarang juga.
“Lintang!” Oshi hendak berlari mengejar Lintang, tapi Mama Vini menahannya.
Setibanya Lintang di taman rumah sakit, dia melihat Vini sedang duduk. Bukankah tadi dia tertidur? Batinnya.
“Vin...” panggil Lintang pelan.
Vini menoleh tanpa ekspresi. “Udah gua bilang lu gak usah peduli lagi sama gua,”
“Gua minta maaf ya Vin. Maaf banget selama ini gua selalu cuek sama lu. Tapi jujur, selama ini perasaan gua gak pernah berubah sama lu. Dari kita kecil dulu sampai detik ini gua masih dan selalu sayang sama lu,”
“Terus niat lu cuek sama gua apa? Niat lu cari cewek lain apa?”
“Karena gua pingin liat lu cemburu dan sakit sama seperti apa yang pernah gua rasa waktu SMP dulu, gua minta maaf banget ya,”
“Ya terserah deh apa mau lu bilang. Toh umur dan nyawa gua gak lama lagi,”
“Nyokap lu udah cerita semuanya. Lu gak boleh nyerah Vin! Gak boleh, lu harus semangat!”
“Percuma. Gimana perasaan lu kalau lu tau ternyata umur lu tinggal sebulan lagi hah? Gimana kalau lu tau ternyata penyakit yang lu derita belum ditemukan obatnya?” Vini membentak dalam tangis.
Tak lama kemudian dia batuk dan mengeluarkan muntah darah. Darah segar juga keluar dari hidungnya. Mukanya mulai pucat dan..... dia pingsan.
Lintang terkejut. Segera dia menggendong Vini menuju kamar rawatnya.
***
“Pagi Vini sayang...” sapa Lintang ramah sambil membawakan bubur hangat khusus dibuatkan olehnya untuk Vini.
Vini tersenyum menyambut kedatangan Lintang.
“Asik kamu udah senyum, berarti udah maafin aku dong?” tebak Lintang asal.
“Ya... gitu deh. Kok lu jadi ngomong aku kamu lagi?” Vini bingung.
“Kan kemarin aku gendong kamu kayak pengantin, jadi aku ingat masa kecil kita. Ya udah sekarang kita beraku-kamu aja ya,”
“Oh ya? Berarti utang gendong aku udah lunas ya?”
“Belum dong. Kan kitanya belum nikah,” canda Lintang.
Vini tertawa renyah. “Eh Lin, ke taman yuk,”
“Tapi kamu sambil sarapan ya?”
Vini mengangguk.
Lintang membawa Vini ke taman dengan kursi roda. “Udara pagi sejuk ya,”
“Iya, aku suka banget. Aku jadi ingat dulu Lin, setiap pagi kita selalu keliling komplek sambil main sepeda,”
“Iya kamu kan aku bonceng. Kalau jatuh kita jatuh sama-sama,” Lintang tersenyum.
“Iya ya, jadi kepikiran tau. Aku kangen masa lalu. Coba kalau aku gak punya penyakit ini,”
Lintang terkejut. Padahal dia sangat berharap Vini lupa akan penyakitnya. Dia ingin mengenang semua masa lalunya bersama Vini di sisa umur Vini yang tersisa.
“Lin, kalau waktu aku pergi tinggal beberapa jam lagi gimana?”
“Vini! Aku gak suka ya kamu ngomongnya gitu. Kamu gak boleh nyerah sama penyakit kamu, kamu kan kuat Vin!”
“Iya, tapi terkadang aku merasa...”
“Aku sayang kamu Vin. Kamu mau kan jadi pacar aku?”
Vini terkejut. “Kamu kenapa sih? Umur aku gak lama lagi Lintang,”
“Justru itu, kasih aku kesempatan untuk menjaga kamu. Kalau perlu kita tunangan, biar kamu percaya sama rasa sayang aku,”
Vini menggeleng. “Aku gak mau. Aku gak mau liat kamu sendri saat aku pergi nanti,”
“Aku gak akan sendiri karena kamu ,,,selalu di hati aku,” ujar Lintang gombal.
“Haha bisa aja kamu. Udah deh kita jadi teman aja,”
“Vini, ayo lah. Kalau kita gak bisa nikah, seenggaknya kita bisa pacaran atau tunangan gitu,”
Vini terdiam. Berpikir sejenak dan akhirnya mengangguk.
“Yeeee makasih ya Viniku sayang, aku janji bakalan jaga kamu baik-baik,” Lintang memeluk Vini erat.
“Iya sama-sama,” ucap Vini sambil memeluk Lintang tak kalah erat. Tapi semakin lama pelukannya semakin melemah sampai akhirnya Vini menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan Lintang, pacarnya.
Lintang terkejut. Dia melepaskan pelukannya dan menatap Vini. “Viniiiiiii!!!” Lintang menjerit. Gua senang, lu pergi dalam pelukan gua dan udah resmi jadi pacar gua. Baik-baik ya lu di sana... batin Lintang menahan tangis.

Monday, 1 August 2011

prestasi kurawa

No comments:
31 juli 2011......


sejarah pertama bagi kurawa.
kenapa?






kenapa coba?






haha kami bisa menjuarai lomba idori tahun ini. asik kan? asik banget yelah~





dengan perjuangan yang kami lakukan, ternyata semuanya tidak sia-sia. usaha, doa dan dukungan selalu kami lakukan ;)





awalnya aku memang gak yakin kelas kami akan juara, tapi ternyata Allah berkata lain. seneng sih, habisnya kelasku jarang-jarang dapet juara. kecuali juara kebersihan kelas X-2 dulu wakakak






pas acara jalan santai sih oke lah, hampir 70% siswa kelas kami ikut...... eh tapinya tapi nih, begitu selesai jalan santai masa pada kabur gitu aja..... pada langsung pulang. gak solider banget kan? gak asik kan? gak ada pengorbanan buat kelas tau! jujur sih, aku agak kesel sama mereka itu. tapi fine lah, mungkin acara dukung kurawa gak penting buat mereka.






tapi ternyata................ dengan sisa makhluk yang udah sedikit banget, kami beranjak menuju lapangan tempat futsal dilaksanakan. dengan sisa tenaga yang kami punya dan dengan semangat yang masih tinggi kami para pendukung berteriak-teriak untuk mendukung teman kami yang sedang bertanding. dan akhirnya............









GOOOOOOLLLLLLLLLLL!!! 1 gol pertama tercipta oleh...... hmm lupa hihi..
oke sori ya, aku lupa siapa yang mencetak gol pertama kali. tapi sudahlah, lanjut aja ceritanya oke?




seiring berjalannya waktu, gol demi gol dapat diciptakan oleh teman-teman cowok. 6 gol tercipta tanpa balas. asiiiikkkkkkk~~~~~~

meskipun suara habis ya gak apa-apa, yang penting menang dong ya ;;)





oh iya, di hari sabtu juga kelas kami sudah menjuarai lomba bulu tangkis loh.
jadi sampai tadi cerita, kami sudah mendapatkan 2 kejuaraan dari seluruhnya 5.






ok next, udah tenggorokan kering dan sakit kami istirahat dulu deh. shalat tanpa sempet makan dan minum. kenapa? karena waktunya gak keburu :((





akhirnya setelah siap semuanya, kami semua pergi menuju lapangan dan.......... taraaannnnnnnggggg~ lomba sudah siap. dengan jumlah makhluk XII IPA 2 yang masih tersisa, kami mencoba mengikuti lomba pesta rakyat dan tarik tambang. berharap keberuntungan datang pada kami hari itu, setelah sebelumnya kami mendapatkan keberuntungan juga. bazar kami laku lho hihi ;)







singkat cerita, perlombaan tarik tambang kami tiba di final. dengan tenaga yang masih tersisa, para supporter tak lelah untuk berteriak dan memberikan dukungan dan teriakan yang sangaattttt meriah. alhasil, alhamdulillah teriakan kami tak berujung sia-sia.. kami menang dalam lomba tarik tambang yang diikuti oleh faisal, novri, silvia, andri dan rizal.







setelah bersyukur 3 pertandingan kami dapatkan, ini adalah pertandingan terakhir yang akan kami usahakan. pasalnya, lomba basket kelas kami sudah di WO dengan alasan para personi pada telat datang hahahah ngocol bangetsi-__-






pesta rakyat. ya, akhirnya kami bersahil menembus seperempat final. saat kelas kami selangkah lagi memenangkan pertandingan, insiden kecil terjadi. oow, insiden itu aku rahasiakan ya hehehe



karena semua terbawa emosi, akhirnya kelas kami mengalah. 3 kemenangan rasanya sudah cukup bagi kami untuk dibawa pulang. karena kalau terus diributkan mungkin tidak akan pernah berujung ya.... lagipula tenaga kami sudah habis u,u




mengalah itu bukan berarti kalah ya, inget!






finally, dengan 3 kemenangan yang kami raih itu sudah lebih dari cukup. dan dengan rasa bangga, kami melangkah pergi dari sekolah tercinta itu. walaupun masih ada sedikit rasa kecewa dan rasa kesal terhadap mereka yang iri pada kemenangan kami, tapi sudahlah..... kami relakan itu.







akhir kata, KAMI BANGGA JADI KURAWA! :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...