Friday, 20 August 2010

my love is chocolate ( cowok rese part 2 )

No comments:
Istirahat itu Tasha pergi menemui kelas 12 IPA 1 untuk memberikan tugasnya Hensel.
“misi” kata Tasha sambil mengetuk pintu.
“eh Tasha, ada perlu apa?” tanya Siska.
“mau cari ka Hensel ada?”
“Eceeeell” teriak Siska kedalam kelas.
Lalu Siska membalik lagi pada Tasha. “Henselnya gak ada tuh Tas”
“oohh..” Tasha melirik Ocha.
“ada perlu apa memangnya? Ciiee.. nanyain Ecel” goda Siska.
“hehehe..” Tasha nyengir. “ini gue mu titip tugas inggrisnya dia ka” lanjutnya sambil memberikan kertas-kertas.
“oh iya nanti gue sampein” jawab Siska.
“ya udah thanks ya ka”
“sip-sip”
Ketika Tasha melangkahkan kakinya, Siska mencegah dengan ucapan, “tunggu Tas”
Tasha berbalik, “ada apa ka?”
“gak titip salam yang lain?”
“oh iya, kalo dia pulang, tolong anterin tugas gue ke kelas ya ka” tambah Tasha.
“yaahh,, kirain bukan itu. Ada yang lain gak?”
Tasha sedikit berpikir. Lalu Ocha berbisik. Tasha mengerti, lalu tersenyum jahil pada Siska. Siska balik tersenyum jahil. Tashapun berlalu dari kelas 12 IPA 1.
Sementara itu di kelas 11 IPA 1.
“Achanya gak ada tuh ka” kata Mila.
“ya udah gue titip tugas ini sama Tasha ya” sambil memberikan tugasnya Tasha.
“iiya kak”
Lalu Tasha datang bersama Ocha.
“eh Tasha, ni ada yang nyariin” teriak Mila.
“ka Hensel ya?” tanya Tasha. Tasha memang gak tau nama cowok yang menabraknya tadi. Tapi setelah melihat nama dalam tugas itu, Tasha baru mengetahuinya.
“iya. Tugas gue mana?” tanya Hensel.
Hensel memang udah kenal sama Tasha. Siapa sih yang gak kenal Tasha? Seorang model majalah, dan juga pernah menangin olimpiade fisika tingkat provinsi.
“udah gue kasihin sama kak Siska ka” jawab Tasha. “yang gue?” tanya Tasha.
“tuh di temen lo” Hensel menunjuk Mila.
Tasha mengambil tugas itu langsung menarik lengan Ocha. “thanks ka” sambil beranjak pergi menuju ruang guru.
Hensel pun langsung pergi meninggalkan kelas 11 IPA 1.

***

Bel pulang pun berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas, terkecuali Tasha.
“masih lama Tas?” tanya Ocha yang udah kesel nungguin Tasha beres-beres buku.
“ya udah duluan aja sono” perintah Tasha.
“ngambek kaga lo?”
“kaga”
“seriusan?”
Tasha menghentikan kegiatannya. Ia menatap Ocha sesaat. “iya sayang” ucapnya lembut. “gue bisa kok pulang sendiri” lanjut Tasha.
“yaudah deh gue cabut duluan ya” pamit Ocha.
“sip” jawab Tasha.
Lalu Ocha beranjak keluar kelas. Tasha melihat Ocha keluar dan akhirnya menghilang dibalik pintu.
Sepuluh menit berlalu.
“huuft.. beres juga” keluh Tasha. Ia keluar dari kelas.
“eh Tasha” panggil seseorang dari depan koridor.
Tasha berbalik.
“eh bu Sisil. Ada perlu apa bu?”
“ini Sha. Bisa bantuin ibu ngajar anak-anak di Panti Asuhan gak?”
“dimana bu?”
“ibu tau kok tempatnya. Ibu minta bantuan kamu, bisa ya Sha”
“mmm.. baiklah bu. Saya bantu”
“terima kasih ya Sha” Bu Sisil terlihat senang.
“kembali ibu” Tasha tersenyum. Terlihat lesung pipi kirinya yang tipis. Membuat dia semakin manis.
“oh iya Sha, kamu kenal sama Hensel?” tanya ibu.
“ka Hensel? Kenal bu. Ada apa?”
“kamu ajak dia juga ya. Biar kita ngajar sama-sama”
“oh siap bu” Tasha menurut.
“ya sudah kalo begitu sekarang kamu datangi dulu kelasnya. Dia takut keburu pulang”
“siap bu guru”
Tasha dan bu Sisil terlihat sangat dekat. Maklum saja, bu Sisil masih berumur 25 tahun. Masih terlihat seperti anak muda. Jiwa remajanya juga masih kental. Sehingga Tasha dan bu Sisil sudah seperti adik dan kakak. Banyak yang mengira bahwa mereka saudara kandung. Selain itu juga, bu Sisil merupakan guru yang paling dekat dengan Tasha. Tasha sering banget curhat sama bu Sisil. Tapi tentunya, di luar jam sekolah ya…
“Tasha duluan ya bu” pamit Tasha lalu beranjak pergi menuju kelas 12 ipa 1.
“permisi” ucap Tasha.
“eh iya, ada apa Sha?” tanya Hensel.
“huuftt.. untung lo belum pulang ka” Tasha ngos-ngosan. Masih mengatur nafasnya yang gak beraturan.
“tenang dulu deh Sha.. atur nafas lo” Hensel memberi saran.
Sejenak Tasha mengatur nafasnya yang sudah mulai teratur.
“udah?” tanya Hensel.
Tasha mengangguk. “udah”
“nah, sekarang lo cerita”
“okey” berhenti sejenak. “bisa bantu gue?”
“apa?” tanya Hensel bingung. Pasalnya Tasha ngos-ngosan lari-lari cuma buat nanyain itu doang? Hhh…
“ngajarin anak-anak Panti. Bisa kan?”
“kapan?”
“hari ini nanti jam 2” jelas Tasha.
“lo ngos-ngosan itu cuma buat nanya itu?”
Tasha mengangguk.
“hahahaha” Hensel tertawa lepas. “lo tuh lucu tau gak”
Tasha semakin bingung. Apa maksudnya sih ni anak? Apa yang lucunya coba? Tasha ngebatin. “apa yang lucu sih kak?”
“yah elo yang lucu”
Tasha semakin bingung. “maksudnya”
“masa lo cuma nanya itu doang ampe ngos-ngosan sih? lari-lari pula. Aneh deh” Hensel menjelaskan.
“nah itu dia yang gue nyesel” ungkap Tasha.
“nyesel? Kenapa?”
“gue udah capek-capek lari taunya lo masih stay disini. Tau gitu gue gak perlu lari-lari kan? Capek lagi”
“hahahaha” Hensel makin tertawa puas.
“udah deh gak lucu tauk!” Tasha ngambek. Bibirnya yang manis pun maju 5 cm. (loh? Bisa tah?)
“iya iya gak deh. Sori ya. Jangan cemberut lagi dong” Hensel berusaha menghibur. Walaupun sebenarnya ia masih ingin mentertawakan Tasha.
Tasha tersenyum terpaksa. Lalu ia pun berlalu dari hadapan Hensel.
Hensel mengejar, “udah dong jangan ngambek lagi”
“iya” jawab Tasha singkat.
“gue anterin pulan yak?” Hensel menawarkan. Ia ingin meminta maaf pada Tasha.
Tasha menggeleng. “gak perlu, gue bisa sendiri kok”
“ah lo pasti masih marah deh”
Tasha melirik Hensel. “engga ka, udah engga”
“yakin?” tanya Hensel masih gak percaya.
“yap” Tasha mengangguk.
“lo senyum dulu, baru gue percaya”
Tasha pun tersenyum memperlihatkan inner-beautynya.
Hensel membalas senyumannya itu. “thanks ya”
“iya. Udah ya gue balik duluan” Tasha pergi berlalu dari hadapan Hensel.
Hensel hanya memperhatikan Tasha dari belakang.
Setibanya Tasha di gerbang sekolah.
TIIIIIINN.....TIIIIIINN.....
“minggir woooy” teriak seorang cowok dari dalam mobil Yaris biru.
Serontak Tasha yang sedang berjalan santai kaget. Jantungnya hampir saja mau copot (hanya istilah aja deh ya, kaga copot beneran). “berisiiikk” Tasha ngambek.
Pemilik mobil Yaris biru itupun keluar dari mobil. “lo kalo jalan liat-liat ya”
Saat Tasha melihat ke arah cowok itu...
“elo”ucap Tasha dan cowok itu berbarengan.
“heh! Gak puas yak lo buat darah gue naek! Tadi pagi lo buat darah gue naik, dan sekarang, lo buat darah gue naek lagi!” Tasha nyeroscos panjang lebar. Mengeluarkan unek-uneknya pada cowok yang tadi pagi membuatnya terlambat. Dan sekarang, dia hampir buat Tasha jantungan.
“eh elu juga gak pernah bikin gua tenang. Lu selalu ganggu ketenangan nyetir gua!” cowok itu ngambek-ngambek tak mau kalah.
“ya itu sih salah lo gak bisa nyetir yang bener!” Tasha membalas tak mau kalah juga.
“elo tuh jalan gak pernah pake mata ya!” cowok itu makin kesal.
“emang! Kalo jalan itu pake KAKI!” Tasha menekankan kata terakhirnya.
“ah capek gue berantem sama lo! Buang waktu aja tau” cowok itu pergi meninggalkan Tasha yang masih menyimpan seribu dendam padanya.
“awas lo! Mau gua tabrak hah?!” cowok itu mengusir Tasha.
Dengan terpaksa Tasha berjalan kepinggir. “brengsek lo!” maki Tasha pada cowok itu saat cowok itu melewati Tasha.
Cowok itu hanya menjulurkan lidahnya melalui kaca spion mobilnya.
“aaarrgh!” emosi Tasha tak terkendali.

Thursday, 5 August 2010

my love is chocolate (cowok rese part 1)

No comments:
“aduuhh.. mana sih tu anak lama banget” gerutu Tasha kesal. Ia terus mondar-mandir di ruang tamu menunggu seseorang datang. Tentunya sambil makan cokelat.
Gadis bernama lengkap Natasha Lalita yang masih berumur 16 tahun itu sangat menyukai cokelat. Dia bisa mengoleksi macam-macam cokelat local maupun interlokal. Kedua orangtuanya adalah seorang pebisnis, sehingga jika mereka pulang dari luar negri mereka selalu membelikan Tasha cokelat. Tasha juga merupakan anak satu-satunya. Walaupun begitu, ia tidak pernah manja. Tasha selalu belajar mandiri karena di rumahnya ia hanya tinggal bersama bibinya, Devi.
“nungguin siapa toh neng?” tanya bi Devi.
“ nungguin Gabriel nih bi, lama banget ih! Padahalkan ini udah jam 7 kurang 5 menit” gerutu Tasha kesal.
“oohh,, sabar atuh ya neng” ucap bi Devi dengan logat sundanya.
Gabriel itu adalah pacarnya Tasha. Waktu itu, Tasha dan Gabriel satu sekolah. Tasha masih kelas 1 sma sedangkan Gabriel sudah kelas 3 sma.
Tasha udah menelepon Gabriel berkali-kali, tapi handphonenya Gabriel mati. “aahh! Kemana sih tu anak!” Tasha makin kesal.
TING TONG … TING TONG
Tasha membuka pintu.
“heh, lama banget sih lo kemana ajaaa!” omel Tasha.
“sori sori, tadi gue nganterin dulu nyokap ke bandara” jawab Iel tenang.
“sebodo amet deh. Mo kebandara, ke pasar, ke mall, yang penting JANGAN TELAT!” Tasha menekankan kata terakhirnya.
“iiya maaf deh cantik” rayu Iel.
“GAK NGARUH” jawab Tasha cepat sambil meninggalkan Iel di pintu utama.
Gabriel menyusul.
***
Selama di mobil Tasha gak banyak bicara. Mungkin dia masih kesal dengan sikapnya Gabriel tadi. Yang ia lakukan hanyalah melihat jam tangan cokelat-pink yang melingkar manis di lengannya. Jam sudah menunjukkan pukul 07.00.
“bisa jalanin lebih cepet lagi gak sih!” pinta Tasha kesal.
“ini udah ngebut”
“tapi gue bisa telat!”
Gabriel pun memindahkan kupling mobilnya dan menginjak gas sedikit lebih tekan.
Tiba-tiba …
“aaaaaaahhh” jerit Tasha.
“woy! Bisa nyebrang gak sih lo!” Gabriel marah. Mengeluarkan kepalanya ke jendela mobil.
“heh! Apa-apaan sih lo!” Tasha juga ikut-ikutan marah pada seseorang di luar sana.
“lo juga pelan-pelan dong!” cowo di luar sana menimpali marahnya Tasha dan Gabriel.
Gabriel keluar mobil.
Tasha hanya mengelus dada. Gue udah pasti kesiangan.
“lo bisa gak sih jalan biasa-biasa aja!” cowo itu kesal.
“gue lagi buru-buru. Lo juga bisa gak sih nyebrang liat-liat?” balas Gabriel.
“emangnya ni jalan punya nenek moyang lo apa?” balas cowo itu.
“bukan punya kakek moyang lo juga kali!” sindir Gabriel.
Sementara Tasha dari jendela mobil sana sudah berteriak. “udah Iel, kita pergi aja”
Gabriel masih menyimpan dendam. Begitupun dengan Tasha. Karena gara-gara cowok itu Tasha jadi telat.
“sori ya Tas” Gabriel meminta maaf.
Tasha hanya mengangguk.
***
Setibanya di sekolah, Tasha lari-lari. Karena jarak dari gerbang sekolah ke kelasnya cukup jauh. Sedang seriusnya ia berlari…
BRUUKK!
“oh my god” kesal Tasha.
“sori sori” ucap seorang cowok.
Tasha tak mendengar ucapan maaf itu. Ia sibuk membereskan kertas-kertas tugasnya yang berserakan. Begitupun cowok itu.
Tasha bangun. Membersihkan roknya.
“ini tugasnya” ucap cowok itu memberikan kertas tugas pada Tasha. Sambil berusaha tersenyum.
“makasih” balas Tasha dengan sedikit senyumnya.
“gue duluan ya” ucap cowok itu sambil pergi meninggalkan Tasha.
Lalu Tasha pun beranjak pergi.
Setibanya Tasha di kelas, guru biologinya belum masuk. Dan ia langsung duduk di bangkunya.
“dari mana aja sih lo Tas? Gue udah khawatir lo kena hukum” kata Lara sahabatnya Tasha.
Tasha mempunyai 3 orang sahabat.
Yang pertama Lara. Dia anak yang pinter, baik, ramah, jago olimpiade juga. Tapi satu kelemahan dia. Udah 16 tahun ini dia jomblo. Selain dia yang emang gak mau punya cowok dulu, kedua orang tuanya melarang Lara untuk pacaran dulu.
Yang kedua Eppy. Cewek tomboy yang jago karate itu suka banget sama warna biru. Dia sering dijulukin Mrs. Blue sama temen-temennya. Dia paling anti kalo ngomongin cowok. Hah? Dia normal gak ya? Cowok-cowok juga pada envy deh ngeliat Eppy.
Dan yang terkahir Yossa. Sering disebut Ocha. Ocha itu nama panggilan sayang ketiga sahabatnya. Ocha itu cewek yang anggun, putih, tinggi, dan seorang dancer. Tapi hobinya itu ngoleksi gaun-gaun keluaran terbaru.
Mereka bertiga tergabung dalam sebuah perkumpulan bernama 4girls. Atau sering mereka bilang FG.
“iiya tadi Gabriel telat jemput gue” keluh Tasha sambal ngos-ngosan.
Bu Lina datang.
“selamat pagi anak-anak” sapa Bu Lina.
“pagi” balas murid- murid serempak.
“maaf ya ibu telat, tadi ada keperluan dulu”
“iiya bu gak papa” Hendra sang ketua kelas mewakili.
“baiklah, sekarang kalian kumpulkan tugas kemarin” suruh Bu Lina.
Saat Tasha melihat tugasnya “OMG”
“kenapa Tas?” tanya Eppy.
“ini bukan tugas gue” seru Tasha panik.
“seriusan?” tanya Ocha.
Tasha hanya mengangguk. Lalu ia datang menghampiri Bu Lina.
“ibu maaf”
“ada apa Tasha?”
“tugas saya ketuker”
“maksud kamu?”
“tadi saya tabrakan sama kakak kelas, nah udah gitu dia bawa tugas saya dan saya bawa tugas dia” jelas Tasha.
“kamu ini ada ada saja” bu Lina geleng-geleng kepala.
“seriusan bu, kalo ibu gak percaya liat ini” sambil memberikan beberapa lembar kertas.
Bu Lina melihat nama pemilik tugas itu.
“Hensel Aditya, anak 12 IPA 1” ucap Bu Lina pelan.
“bener kan bu” Tasha meyakinkan.
“kamu ini kok kaya di sinetron-sinetron aja pake acara tabrakan terus ketuker segala” Bu Lina memberikan tugas tadi.
“heheh.. ya mana saya tau bu” Tasha sedikit lega.
“ya sudah sekarang kamu duduk. Istirahat kasih tugasnya ke ruang ibu” ucap Bu Lina dengan bijaksana.
“makasih bu” Tasha pergi sambil tersenyum.

*bagaimana lanjutannya ? tunggu part 2nya (:

niat jadi penulis

No comments:
awalnya buat ni cerita gara-gara gakada kerjaan . tapii .. setelah di baca2 ulang ceritanya lumayan seru (menurut wi) yaudah akhirnya di lanjutin .
tapi cerita pertama juga belon beres deh ya , udah buat cerita baru . tapi gak apalah , yang penting ceritanya ngehibur :)

nah di blog ini pasti bakalan banyak cerita2 , jadi maaph kalo bosen . tapi tenang aja , disini juga bakalan ada tulisan2 lain kok . (cuma belon kepikiran apaan) . hahaha
okedeehh .. langsung aja yak sama ceritanya .
moga terhiburr (:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...